{"id":62390,"date":"2024-10-13T08:51:51","date_gmt":"2024-10-13T01:51:51","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=62390"},"modified":"2024-10-13T08:51:51","modified_gmt":"2024-10-13T01:51:51","slug":"minggu-13-oktober-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=62390","title":{"rendered":"Minggu, 13 Oktober 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 13 Oktober 2024<br \/>\nMarkus 10:24-25 (Markus 10:17-30)<br \/>\n\u201dAnak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.&#8221;<\/p>\n<p>Memiliki Yesus Kekayaan Sejati Kita<\/p>\n<p>Yesus menggambarkan bahwa pintu Kerajaan Allah itu begitu sempit bagaikan lubang jarum. Untuk melewati pintu yang sempit bagaikan lubang jarum ini, maka semua muatan yang ada di punggung unta harus dilepaskan agar ia dapat masuk ke dalamnya.<br \/>\nOrang muda yang kaya yang mencari hidup abadi tidak mau melepaskan kekayaannya untuk berbagi dengan orang lain. Ia sungguh diberkati tapi ia hanya mau berkatnya untuk diri sendiri. Akhirnya kekayaannya menjadi penghambat baginya untuk selamat.<br \/>\nKeselamatan hanya ada dalam Yesus. Yesus adalah jaminan hidup abadi kita. Semua yang menghambat kita untuk mengikuti Yesus, semua kelekatan yang membuat kita jauh dari Yesus, harus rela kita lepaskan agar dapat melewati pintu surga dan meraih kebahagiaan sejati, yakni memiliki Yesus seumur hidup kita.<br \/>\nTidak sedikit orang yang melupakan Tuhan demi mengejar kekayaan, atau lupa Tuhan saat kaya raya karena merasa diri mampu mengandalkan kekuatannya sendiri.<br \/>\nHari Minggu tidak ke gereja karena sibuk mencari uang. Atau sedang menikmati hartanya dan lupa bersyukur dan tak merasa perlu bersekutu dengan sesama umat.<br \/>\nDengan bagus dikatakan, \u201cWhen God blesses you financially, don\u2019t raise your standard of living, but your standard of giving.\u201d (Ketika Tuhan memberkati Anda secara finansial, jangan menaikkan standar hidup Anda melainkan tingkatkan standar memberi Anda)<br \/>\nYesus berkata, \u201cberilah maka kamu akan diberi.\u201d (Luk 6:38). Kekayaan batin yang ada dalam diri seseorang yang mampu membuat dia merelakan apa yang ia miliki untuk diberikan kepada orang lain yang susah atau lebih membutuhkan, itulah kekayaan yang sejati. Itulah kekayaan iman karena memiliki Yesus, harta sejati kita dan percaya bahwa semua yang ada pada kita semata anugerah Tuhan.<br \/>\nMilikilah kekayaan iman ini untuk kita selalu dapat bersyukur kepada Tuhan dan terlepas dari kekhawatiran dunia yang membuat kita hanya berpikir untuk diri sendiri dan selalu merasa berkekurangan.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu, melimpah kasih karunia Tuhan bagi kita.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 13 Okt 2024<br \/>\nMinggu Pekan Biasa XXVIII<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 5:3<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 10:17-30<br \/>\n************************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 5:3<br \/>\nBerbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,<br \/>\nkarena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 10:17-30<br \/>\nJuallah apa yang kaumiliki, lalu ikutlah Aku!<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari<br \/>\nYesus berangkat meneruskan perjalanan-Nya.<br \/>\nMaka datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia<br \/>\ndan sambil berlutut di hadapan-Nya ia bertanya,<br \/>\n&#8220;Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat<br \/>\nuntuk memperoleh hidup yang kekal?&#8221;<\/p>\n<p>Jawab Yesus kepadanya,<br \/>\n&#8220;Mengapa kaukatakan Aku baik?<br \/>\nTak seorang pun yang baik selain Allah!<br \/>\nEngkau tentu mengetahui segala perintah Allah:<br \/>\nJangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri,<br \/>\njangan mengucapkan saksi dusta dan jangan mengurangi hak orang,<br \/>\nhormatilah ayah dan ibumu!&#8221;<br \/>\nKata orang itu kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.&#8221;<\/p>\n<p>Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya,<br \/>\nlalu berkata kepadanya,<br \/>\n&#8220;Hanya satu lagi kekuranganmu:<br \/>\nPergilah, juallah apa yang kaumiliki,<br \/>\ndan berikanlah itu kepada orang-orang miskin.<br \/>\nMaka engkau akan beroleh harta di surga.<br \/>\nKemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.&#8221;<br \/>\nMendengar perkataan Yesus,<br \/>\norang itu menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih,<br \/>\nsebab banyak hartanya.<\/p>\n<p>Lalu Yesus memandang murid-murid di sekeliling-Nya<br \/>\ndan berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.&#8221;<br \/>\nMurid-murid tercengang mendengar perkataan-Nya itu.<br \/>\nTetapi Yesus menyambung lagi,<br \/>\n&#8220;Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah!<br \/>\nLebih mudah seekor unta melewati lubang jarum<br \/>\ndaripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.&#8221;<br \/>\nPara murid semakin gempar<br \/>\ndan berkata seorang kepada yang lain,<br \/>\n&#8220;Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?&#8221;<br \/>\nYesus memandang mereka dan berkata,<br \/>\n&#8220;Bagi manusia hal itu tidak mungkin,<br \/>\ntetapi bukan demikian bagi Allah.<br \/>\nSebab bagi Allah segala sesuatu adalah mungkin.&#8221;<\/p>\n<p>Lalu berkatalah Petrus kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu<br \/>\ndan mengikuti Engkau!&#8221;<br \/>\nMaka Yesus menjawab,<br \/>\n&#8220;Sungguh, Aku berkata kepadamu,<br \/>\nbarangsiapa, karena Aku dan karena Injil,<br \/>\nmeninggalkan rumah, saudara-saudari, ibu atau bapa,<br \/>\nanak-anak atau ladangnya,<br \/>\npada masa ini juga ia akan menerima kembali seratus kali lipat:<br \/>\nrumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu,<br \/>\nanak-anak dan ladang,<br \/>\nsekalipun disertai berbagai penganiayaan;<br \/>\ndan di masa datang ia akan menerima hidup yang kekal.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>&#8220;Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.&#8221; (Mrk 10: 21)<\/p>\n<p>Sabda Tuhan hari ini menantang kita: di manakah kita menaruh hati kita? Apa yang menjadi pusat hidup kita? Apa tau siapa yang menjadi prioritas kita? Apa yang menjadi rasa aman kita? Apa yang menjadikan hidup kita bermakna? Tuhan menawarkan kebijaksanaan. \u201cMaka itu aku berdoa dan akupun diberi pengertian, aku bermohon lalu roh kebijaksanaan datang kepadaku,\u201d (Keb 7: 7). Yesus juga mengingatkan: janganlah engkau menaruh hatimu pada kekayaan, sebab engkau akan diperbudak olehnya. Biarlah Allah menjadi Tuhan kita. Yesuslah yang harus kita ikuti.<\/p>\n<p>Segala sesuatu yang kita \u201cmiliki\u201d, sebenarnya adalah milik Tuhan. Ia mempercayakan semuanya itu kepada kita untuk dikelola dengan baik. Kita adalah hamba-hamba yang dapat dipercaya dan bertanggungjawab. Kesadaran bahwa segalanya adalah milik Tuhan akan membantu kita untuk hidup sederhana, tidak melekat pada harta benda. Hidup sederhana akan mempermudah kita untuk berbagi dengan sesama yang berkebutuhan. Bila kita menghidupi semuanya itu, kita hidup dalam kasih, kasih kepada Allah dan sesama.<\/p>\n<p>Betapa bahagianya ketika Ia mengundang kita untuk bertemu dengan-Nya lebih dalam, melampaui kedangkalan hidup, entah itu dalam doa, dengan mendengarkan Sabda-Nya, dalam ucapan syukur kita, dalam persekutuan, dengan mengagumi ciptaan-Nya. Jika kita sungguh-sungguh berjumpa dengan-Nya, Ia akan mengubah kita, untuk mengikuti-Nya secara lebih radikal. Mungkin saja kita menolak undangan-Nya. Itu akan membuat-Nya sedih, sebab Ia mengasihi kita. Mari mohon kepada-Nya agar kita selalu mengikuti panggilan dan undangan-Nya ke dalam hidup yang sejati.<\/p>\n<p>Tuhan, kami berdoa kepada-Mu bukan untuk kekayaan tetapi untuk kepercayaan, bukan untuk kekuasaan tetapi untuk keberanian, bukan untuk kesenangan tetapi untuk sukacita, bukan untuk kepura-puraan tetapi untuk integritas. Jadikanlah kami bijaksana dengan hikmat Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu. JLU! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"c7igc7NbgP\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/stewardship-simplicity-sharing\/\">STEWARDSHIP, SIMPLICITY, SHARING<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;STEWARDSHIP, SIMPLICITY, SHARING&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/stewardship-simplicity-sharing\/embed\/#?secret=9mOeikYNlY#?secret=c7igc7NbgP\" data-secret=\"c7igc7NbgP\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 13 Oktober 2024 Markus 10:24-25 (Markus 10:17-30) \u201dAnak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.&#8221;&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-62390","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/62390","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=62390"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/62390\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":62391,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/62390\/revisions\/62391"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=62390"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=62390"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=62390"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}