{"id":6222,"date":"2015-10-19T16:18:53","date_gmt":"2015-10-19T09:18:53","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=6222"},"modified":"2015-10-19T16:18:53","modified_gmt":"2015-10-19T09:18:53","slug":"jalan-sempit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=6222","title":{"rendered":"JALAN SEMPIT"},"content":{"rendered":"<p>JALAN SEMPIT<\/p>\n<p>\u201cEt arcta via est, quae ducit ad vitam\u201d \u2013 dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan (Mat 7: 14). \u201cPernahkan kita mengalami hidup itu terasa nyaman, sepertinya tidak ada masalah?\u201d Seolah-olah jalan begitu lebar dan luas, tanpa gangguan. Tetapi tiba-tiba dalam kasus lain, sepertinya jalan begitu berat dan akhirnya kita menyerah. Setiap saat, kita senantiasa diperhadapkan pada pertanyaan dalam diri, \u201cSaya akan ikut jalan mana?\u201d Para tetua penduduk asli Amerika memberikan petuah kepada anak-anak muda supaya berani melangkah di jalan yang sempit dan berkelok-kelok, menanjak dan melintasi gunung-gunung terjal. Mereka menambahkan lagi, \u201cJalan itu penuh dengan begitu banyak kesulitan dan rintangan dan hanya yang kuatlah yang bisa mencapai puncak gunung.\u201d Melalui legenda itu, para orang tetua suku Indian mengajar anak-anak bahwa bahwa jalan yang paling mudah bukanlah jalan yang terbaik. Ronggowarsito (1802 \u2013 1873 ) yang popular dengan \u201cjaman edan\u201d-nya memberikan ulasan tentang kehidupan manusia yang tidak mau ikut arus. Ia memuji orang yang waspada dan tidak lupa, \u201c\u2026 begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lan waspada\u201d \u2013 Namun bagaimana pun juga betapapapun nikmatnya kehidupan mereka yang ikut menjadi edan, masih lebih bahagia mereka yang tetap mempertahankan kesadarannya. Kalau kita ikut arus zaman edan tersebut, akan banyak teman yang pasti hidup lebih terjamin di dunia ini. Bagaimana pun juga, kita harus hidup di jalan yang benar, karena \u201cinvia virtuti nulla est via\u201d \u2013 untuk sebuah kebajikan tidak ada jalan yang tidak bisa dilalui. Hal yang sama juga apa yang ditulis oleh Richard Bach (lahir 23 Juni 1936) yang terkenal dengan buku the best seller-nya yang berjudul, \u201cJonathan Livingstone Seagull\u201d. Si camar itu berani meninggalkan cara hidup yang biasa-biasa saja. Semua burung lain melarangnya, namun ia tetap berpendirian untuk menjadi \u201cyang lain\u201d dan akhirnya menemukan kebahagiaan. Lain dengan cerita yang dikisahkan Antony de Melo (1931 \u2013 1987) dalam bukunya yang berjudul \u201cBurung Berkicau\u201d di sana ada orang lebih senang ikut masyarakat umum dan mengikuti cara hidup mereka (ikut arus) dan memang terasa nyaman. Masih tentang \u201cjalan sempit\u201d. Salah seorang murid Socrates yang bernama Cebes menulis di dalam bukunya yang berjudul, \u201cTabula\u201d demikian, \u201cApakah engkau melihat sebuah pintu kecil yang ada di depannya, namun tidak ramai serta hanya sedikit saja yang melaluinya ?\u201d Itulah jalan yang menuju kepada pengajaran sejati (Bdk. William Barclay dalam bukunya yang berjudul, \u201cPemahaman Alkitab Setiap hari Injil Matius\u201d, hlm. 454). Jalan sempit yang menyelamatkan juga ditulis oleh John Bunyan (1628 \u2013 1688) dalam bukunya yang sangat terkenal bahkan monumental, \u201cThe Pilgrim\u2019s Progress\u201d. Bunyan menulis bahwa jalan sempit itu penuh resiko dan tantangan, \u201cSiapa takut?\u201d<\/p>\n<p>Senin, 19 Oktober 2015 Rm. Markus Marlon MSC<\/p>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Rm. Markus Marlon, MSC &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JALAN SEMPIT \u201cEt arcta via est, quae ducit ad vitam\u201d \u2013 dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan (Mat 7: 14). \u201cPernahkan kita mengalami hidup itu terasa nyaman, sepertinya tidak ada masalah?\u201d Seolah-olah jalan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4732,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-6222","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/CAM00476.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6222","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6222"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6222\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6224,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6222\/revisions\/6224"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4732"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6222"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6222"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6222"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}