{"id":6183,"date":"2015-10-13T10:38:36","date_gmt":"2015-10-13T03:38:36","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=6183"},"modified":"2015-10-13T10:38:36","modified_gmt":"2015-10-13T03:38:36","slug":"melampaui-rasa-takut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=6183","title":{"rendered":"MELAMPAUI RASA TAKUT"},"content":{"rendered":"<p>MELAMPAUI RASA TAKUT \u201cPrajurit yang telah menyaksikan pedang berkilau di atas kepalanya, tidaklah peduli dengan batu-batu yang dilemparkan kepadanya oleh anak-anak di jalanan\u201d (Kahlil Gibran). Ada sebuah pertanyaan ditujukan kepada seseorang, \u201cPernah Anda merasa takut: Takut menghadapi suami yang sedang marah, takut kehilangan anak yang tidak lama lagi akan pindah ke rumah mertua, takut terhadap kehidupan rumah tangga yang gonjang-ganjing masalah ekonomi?\u201d \u00a0 \u00a0 Dale Carnegie (1888 \u2013 1955) dalam bukunya yang berjudul, \u201cPetunjuk Hidup Tentram dan Bahagia\u201d menulis bahwa sebagian besar ketakutan yang kita alami itu tidak nyata.\u00a0 Tetapi yang terjadi, seringkali kita \u00a0\u201ctakut-bimbang-ragu\u201d sehingga rasa takut itu menguasai diri kita, \u201cmau begini takut dan mau begitu takut.\u201d Julius Caesar (100 \u2013 44 seb.M) dalam hal ini mengatakan bahwa penakut mati berkali-kali, sedangkan seorang pemberani hanya mati satu kali dalam hidupnya. Rasa takut dan kuatir itu bagaikan melihat bayangannya sendiri ketika kena sinar matahari pada pagi atau sore hari. Bayangan itu amat besar sekali. Demikian pula, sering, apa yang kita kuatirkan itu amat besar dan ternyata apa yang dikuatirkan tidak terjadi sama sekali. Selama &#8220;penantian&#8221; di ambang rasa takut itu, kehidupan menjadi tidak nyaman. Ketakutan membuat seseorang ragu-ragu dalam melangkah. William Shakespeare (1564 &#8211; 1616) dalam dramanya yang berjudul, \u201cHamlet\u201d mengangkat istilah \u201cto be or not to be\u201d untuk mengambil keputusan yang sangat genting. Situasi batin yang dialami oleh Hamlet penuh dengan keraguan dan kebimbangan. Dia salah mengambil keputusan dan ini berakibat fatal, yakni kematian ayah tirinya. Bagaimana \u201cway out\u201d-nya agar kita bisa melampaui rasa takut. Yang pertama, mungkin kita pernah istilah yang dicetuskan oleh Ignatius Loyola (1491 \u2013 1556) \u201ccontra agere\u201d \u2013 melakukan sebaliknya: hadapi rasa takut itu dengan keberanian. Yang kedua seperti yang dilakukan Julius Caesar, \u201cMari kita melintasi sungai Rubicon.\u201d Hadapi rasa takut itu dan lampaui saja. Selasa, 13 Oktober 2015 Rm. Markus Marlon MSC<\/p>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Rm. Markus Marlon, MSC &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MELAMPAUI RASA TAKUT \u201cPrajurit yang telah menyaksikan pedang berkilau di atas kepalanya, tidaklah peduli dengan batu-batu yang dilemparkan kepadanya oleh anak-anak di jalanan\u201d (Kahlil Gibran). Ada sebuah pertanyaan ditujukan kepada seseorang, \u201cPernah Anda merasa&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4715,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-6183","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/CAM00477.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6183","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6183"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6183\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6184,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6183\/revisions\/6184"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4715"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6183"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6183"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6183"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}