{"id":6150,"date":"2015-10-09T08:54:44","date_gmt":"2015-10-09T01:54:44","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=6150"},"modified":"2015-10-09T08:54:44","modified_gmt":"2015-10-09T01:54:44","slug":"stres","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=6150","title":{"rendered":"STRES"},"content":{"rendered":"<p>STRES \u201cNeque semper arcum tendit Apollo\u201d \u2013 Apolo tidak terus-menerus meregang busurnya (Horatius). Ada anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar mengeluh kepada ibunya, \u201cMa, aku stres dengan banyaknya PR di sekolah!\u201d Juga ada seorang ibu rumah tangga yang berkata, \u201cDuh saya stres memikirkan harga-harga barang yang melambung terus!\u201d Zaman sekarang ini, stres bagaikan \u201cpenyakit jiwa\u201d yang melanda orang tanpa kenal strata sosial maupun usia. Penyebab stres (stressor) bermacam-macam dan akibatnya pun sangat bervariasi, mulai dari yang ringan seperti gugup sampai yang berat seperti kecenderungan ingin bunuh diri. Lantas kita bertanya, \u201cApakah stres bisa dihindari?\u201d Jawabannya: tergantung. Ada stressor yang tidak dapat dihindari misalnya kematian orang yang kita kasihi. Sebaliknya ada stressor yang dapat dihindari. Misalnya, jika kita stres dikejar oleh batas waktu suatu tugas, kita dapat mengerjakan tugas itu lebih dini dan lebih bijak mengatur waktu. Ini namanya stres yang baik dengan istilah: eustress dan stres yang membuat kita hampir patah semangat disebut distress. Kehidupan para kudus tidak terlepas dari pengalaman \u201cmalam gelap jiwa\u201d tetapi mereka dapat mengatasinya. Santa Theresia dari Avila (1515 \u2013 1582) misalnya, memiliki pengalaman pada masa tengah umur yang membuat dirinya gelisah, cemas dan stres ketika menghadapi tugas pelayanannya. Namun, ia kemudian berusaha gembira dengan bernyanyi dan menari. Arthur Schopenhauer (1788 \u2013 1860) berkata, \u201cKehidupan adalah suatu pertempuran panjang dan kita harus berjuang dalam setiap langkahnya\u201d. Dalam Kitab \u201cBhagavad Gita\u201d Arjuna mengalami stres yang sangat berat, ketika menghadapi orang-orang yang dihormati dan disayangi (Bhisma, Drona, Krepa dan Salya). Baik jika kita \u2013 ketika mengalami stres \u2013 ingat akan kata-kata Ayub, \u201cDoes not man have hard service on earth\u2026?\u201d (Ayb 7: 1) \u2013 bukankah manusia harus bergumul di bumi? Atau kita tengok kutipan ini, \u201cTake the rough with the smooth\u201d \u2013 Jangan berharap jalan hidup kita selalu mudah. Rintangan atau stres membuat hidup kita makin kuat. Jumat, 9 Oktober 2015 Rm. Markus Marlon MSC<\/p>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Rm. Markus Marlon, MSC &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>STRES \u201cNeque semper arcum tendit Apollo\u201d \u2013 Apolo tidak terus-menerus meregang busurnya (Horatius). Ada anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar mengeluh kepada ibunya, \u201cMa, aku stres dengan banyaknya PR di sekolah!\u201d Juga ada&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":767,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-6150","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/mimbar-kerang.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6150","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6150"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6150\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6151,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6150\/revisions\/6151"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/767"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6150"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6150"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6150"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}