{"id":61259,"date":"2024-09-30T17:40:36","date_gmt":"2024-09-30T10:40:36","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=61259"},"modified":"2024-09-30T17:40:36","modified_gmt":"2024-09-30T10:40:36","slug":"senin-30-september-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=61259","title":{"rendered":"Senin, 30 September 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 30 September 2024<br \/>\nPeringatan St Hieronimus<br \/>\nLukas 9:48 (Luk 9:46-50)<br \/>\n\u201dBarangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.&#8221;<\/p>\n<p>Menjadi Anak Allah<\/p>\n<p>Betapa beratnya hati ketika kita dianggap kecil, lemah, dan tak berarti. Oleh karena itu sangat wajar bila orang ingin menjadi yang terbesar dan hebat, diakui dan dihormati.<br \/>\nBukan maksud Yesus mengajak kita kembali menjadi anak kecil untuk membuat kita kecil hati dan terluka karena tidak dianggap dan tidak dihargai oleh kekecilan kita. Sebaliknya Yesus ingin agar kita bersandar hanya pada kasih Allah Bapa kita yang telah mengangkat kita menjadi anak-anak kesayanganNya.<br \/>\nYesus mewahyukan diri sebagai Anak Allah dan mengangkat kita menjadi saudara-saudariNya. Ia mengajak kita menyapa Allah sebagai Bapa dengan mengajarkan doa Bapa Kami.<br \/>\nSaat kita datang sebagai anak Allah yang sepenuhnya tergantung pada kasih sayang Allah, betapa bahagia kita ada dalam pelukan kasih Allah. Kebesaran kita bukan lagi ditentukan oleh prestasi dan semua yang hebat yang bisa kita tunjukkan, tapi oleh martabat ilahi kita sebagai anak Allah.<br \/>\nKita datang dengan segala kelemahan dan keterbatasan kita, dan Allah memberi kita kekuatan ilahi, Roh Allah sendiri tinggal di hati kita. Kita menyebutNya \u201cSpirit\u201d atau Roh yang menghidupkan dan memberi semangat. Roh yang menyatu dengan jiwa kita, menjadi nilai terdalam yang medorong kita untuk bangkit dan bergerak, seperti anak kecil yang tak pernah putus asa untuk berdiri lagi, mencoba lagi dan terus berusaha berjalan karena ada tangan Papa dan Mama yang terentang siap menolong.<\/p>\n<p>Semangat Senin! Bersama Yesus, mari menjadi anak kecil di hadapan Allah Bapa kita.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 30 Sep 2024<br \/>\nSenin Pekan Biasa XXVI<br \/>\nPW S. Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mrk 10:45<br \/>\nBacaan Injil: Luk 9:46-50<br \/>\n***********************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMrk 10:45<br \/>\nAnak Manusia datang untuk melayani<br \/>\ndan menyerahkan nyawa-Nya<br \/>\nsebagai tebusan bagi semua orang.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 9:46-50<br \/>\nYang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\ntimbullah pertengkaran di antara para murid Yesus<br \/>\ntentang siapakah yang terbesar di antara mereka.<br \/>\nTetapi Yesus mengetahui pikiran mereka.<br \/>\nKarena itu, Ia mengambil seorang anak kecil<br \/>\ndan menempatkannya di samping-Nya.<br \/>\nLalu Ia berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Barangsiapa menerima anak ini demi nama-Ku, dia menerima Aku.<br \/>\nDan barangsiapa menerima Aku,<br \/>\nmenerima Dia yang mengutus Aku.<br \/>\nSebab yang terkecil di antara kalian,<br \/>\ndialah yang terbesar.&#8221;<\/p>\n<p>Pada kesempatan lain Yohanes berkata,<br \/>\n&#8220;Guru, kami melihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu,<br \/>\ndan kami telah mencegahnya, karena ia bukan pengikut kita.&#8221;<br \/>\nTetapi Yesus menjawab, &#8220;Jangan kalian cegah,<br \/>\nsebab barang siapa tidak melawan kalian, dia memihak kalian.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah Sabda Tuhan.<br \/>\n**************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cMaka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.\u201d [Luk 9: 46]<\/p>\n<p>Demikian tulis Penginjil Lukas. Mungkin ini adalah cara Lukas untuk mengatasi masalah konflik kekuasaan dalam komunitasnya sendiri.<\/p>\n<p>\u201cKuasa\u201d sering kali dianggap sebagai kemampuan untuk mengendalikan orang atau sesuatu sesuai dengan kehendak sendiri. Namun, bagi Yesus, kuasa adalah tentang penyerahan diri, pengorbanan, kemampuan untuk mengasihi, dan kesediaan untuk mendedikasikan diri tanpa pamrih bagi Injil.<\/p>\n<p>Kita hidup di dunia yang mendorong pertarungan tanpa henti di mana yang lemah akan lenyap, dan hanya yang terkuat dan yang paling siap yang akan berhasil dalam hidup. Hukum yang menggerakkan dunia kita saat ini adalah hukum persaingan dan kompetisi.<\/p>\n<p>Para rasul Yesus percaya bahwa karena mereka adalah orang-orang terdekat Sang Guru dan merupakan orang-orang pertama yang mengikuti-Nya, maka mereka \u201cpantas\u201d mendapatkan tempat yang penting. Namun, Yesus menggunakan gambaran seorang anak kecil untuk menantang cara pandang mereka. Di dunia kita saat ini, kita menghargai dan memprioritaskan anak-anak, menganggap mereka sebagai \u201caset\u201d masyarakat. Namun, pada zaman Yesus, masyarakat Yahudi meminggirkan perempuan dan anak-anak, menganggap mereka tidak ada hak bersuara dan lemah. Dengan menempatkan anak sebagai pusat dari diskusi mereka, Yesus memutar-balikkan prioritas masyarakat pada umumnya.<\/p>\n<p>Menurut rencana Allah, individu-individu yang paling penting dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang paling lemah, miskin, terlantar, dan berdosa. Satu-satunya cara untuk mendapatkan perkenanan Tuhan adalah dengan memperhatikan pribadi-pribadi penting dalam Kerajaan ini. Merangkul dan tunduk pada yang terakhir sebagai jalan untuk menjadi \u201cyang pertama.\u201d Pilihan Gereja, pilihan kita, selalu yang kecil, miskin dan terpinggirkan.<\/p>\n<p>Tuhan, bentuklah hatiku seperti hati-Mu, sehingga aku dapat memiliki pilihan mengutamakan mereka yang miskin dan tak berdaya di tengah-tengah kami. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas di pekan yang baru. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"z2oIQE1HPy\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/siapakah-yang-terbesar\/\">SIAPAKAH YANG TERBESAR<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;SIAPAKAH YANG TERBESAR&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/siapakah-yang-terbesar\/embed\/#?secret=Ncp8OjifT7#?secret=z2oIQE1HPy\" data-secret=\"z2oIQE1HPy\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 30 September 2024 Peringatan St Hieronimus Lukas 9:48 (Luk 9:46-50) \u201dBarangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-61259","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/61259","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=61259"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/61259\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":61260,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/61259\/revisions\/61260"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=61259"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=61259"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=61259"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}