{"id":60171,"date":"2024-09-18T09:54:22","date_gmt":"2024-09-18T02:54:22","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=60171"},"modified":"2024-09-18T09:54:22","modified_gmt":"2024-09-18T02:54:22","slug":"rabu-18-september-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=60171","title":{"rendered":"Rabu, 18 September 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 18 September 2024<br \/>\nLuk 7:33-35 (Luk 7:31-35)<br \/>\n\u201dYohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.&#8221;<\/p>\n<p>Hidup Dalam Hikmat Tuhan<\/p>\n<p>Bila orang sudah berprasangka buruk terhadap seseorang, apapun yang dilakukan orang itu pastilah salah. Begitu juga bila orang merasa diri paling benar, maka tak ada lagi yang benar dari orang lain.<br \/>\nDemikianlah yang dilakukan orang Farisi, baik terhadap Yohanes Pembaptis maupun terhadap Yesus. Keduanya mereka tolak. Yohanes dituduh kerasukan setan karena ia tidak makan roti dan minum anggur, sementara Yesus mereka tuduh pelahap dan pemabuk, karena Ia makan dan minum bersama para pendosa.<br \/>\nSikap orang Farisi dan ahli Taurat mewakili orang-orang yang suka berprasangka buruk, menilai orang lain hanya dari apa yang kelihatan, tidak mau masuk lebih dalam, hanya memilih yang disukainya saja, dan menolak yang tidak disukai.<br \/>\nPadahal hikmat dan kebenaran bukanlah soal suka atau tidak suka, tapi keterbukaan hati dan budi terhadap semua kebenaran, lepas dari siapa yang menyampaikannya, menyenangkan atau tidak.<br \/>\nOrang yang berhikmat adalah orang yang rendah hati dan selalu mencari hikmat Tuhan yakni kebenaran yang berasal dari Allah.<br \/>\nDikatakan dalam Amsal 9:10, \u201cPermulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.\u201d<br \/>\nYesus menghendaki kita menjadi orang yang berhikmat, pencari kebenaran sejati, orang yang mau menyelami realita dan pribadi orang lebih dalam. Mau memahami dan mengerti kehendak Tuhan di balik segala peristiwa hidup.<br \/>\nDalam terang Roh Kudus kita mohon agar dimampukan melihat kebaikan dalam diri orang lain, dan mengalami kehadiran Tuhan dalam kebersamaan dengan sesama, siapapun dia.<br \/>\nMari merangkul hikmat Tuhan, selalu mengandalkan Tuhan dan mencari kehendakNya, serta \u201chanya bermegah dalam Tuhan.\u201d (1 Kor 1:31).<\/p>\n<p>Selamat hari Rabu. Hikmat dan kebijkasanaan Tuhan menyertai kita\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 18 Sep 2024<br \/>\nRabu Pekan Biasa XXIV<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 6:64b.69b<br \/>\nBacaan Injil: Luk 7:31-35<br \/>\n**********************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 6:64b.69b<br \/>\nSabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.<br \/>\nPada-Mulah sabda kehidupan kekal.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 7:31-35<br \/>\nHikmat Allah dibenarkan oleh orang yang menerimanya.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak,<br \/>\n&#8220;Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini?<br \/>\nMereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru,<br \/>\n&#8216;Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari.<br \/>\nKami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis.&#8217;<\/p>\n<p>Sebab ketika Yohanes Pembaptis datang,<br \/>\ndan ia tidak makan roti, dan tidak minum anggur,<br \/>\nkalian berkata, &#8216;Ia kerasukan setan.&#8217;<\/p>\n<p>Kemudian Anak Manusia datang,<br \/>\nIa makan dan minum, dan kalian berkata,<br \/>\n&#8216;Lihatlah, seorang pelahap dan peminum,<br \/>\nsahabat pemungut cukai dan orang berdosa.&#8217;<br \/>\nTetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************************************<\/p>\n<p>EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA AMBON MANISE<\/p>\n<p>BEBAL HATI LUMPUHKAN DAYA PIKIR<\/p>\n<p>\u201cHati yang bebal akan melumpuhkan daya pikir dan tangkap otak seseorang sehingga tidak bereaksi terhadap semua yang ada dan terjadi di sekitarnya.\u201d<\/p>\n<p>Syarat untuk mendapatkan pengampunan adalah pertobatan, maka Yesus merindukan agar semua yang mendengar pewartaan-dan menyaksikan Mujizat-mujizat-Nya membangun sikap tobat dan perubahan hidup, namun itu tidak mereka lakukan. Maka Yesus pun mengeluh atas kebebalan hati mereka, kata-Nya:&#8221;Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.&#8221; ( ayat 32 )<\/p>\n<p>Karena itu Firman Tuhan hari ini memberikan beberapa inspirasi kepada kita:<\/p>\n<p>1) Tidak cukup untuk mendengarkan dan menghargai nasehat dan saran orang lain demi hidup yang lebih baik, tapi haruslah bertobat dan berubah;<\/p>\n<p>2) Lunakanlah hatimu terhadap nasehat dan saran orang lain sehingga daya pikirmu bekerja demi perubahan hidup yang lebih baik;<\/p>\n<p>3) Sebagus apa pun nasehat dan saran orang lain, tapi hati yang bebal pasti akan tidak akan menghiraukannya.<\/p>\n<p>Akhirnya ingatlah nasehat ini: \u201cBerubah itu sulit, tapi tidak berubah itu fatal.\u201d Pilihan ada pada keputusan pribadimu.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas untuk para sahabat.<\/p>\n<p>Salam, doa dan berkatku ( + ) untuk semua.<br \/>\n( Dari: Mgr. Inno Ngutra : Minnong &#8211;\u00a0Duc\u00a0in\u00a0Altum\u00a0)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 18 September 2024 Luk 7:33-35 (Luk 7:31-35) \u201dYohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-60171","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/60171","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=60171"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/60171\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":60172,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/60171\/revisions\/60172"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=60171"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=60171"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=60171"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}