{"id":59517,"date":"2024-09-10T15:23:06","date_gmt":"2024-09-10T08:23:06","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=59517"},"modified":"2024-09-10T15:23:06","modified_gmt":"2024-09-10T08:23:06","slug":"jangan-tinggalkan-aku-di-masa-tuaku-hari-kakek-nenek-lansia-sedunia-ke-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=59517","title":{"rendered":"Jangan Tinggalkan Aku di Masa Tuaku | Hari Kakek Nenek &#038; Lansia Sedunia ke-4"},"content":{"rendered":"<p>Jangan Tinggalkan Aku di Masa Tuaku | Hari Kakek Nenek &amp; Lansia Sedunia ke-4<\/p>\n<p>Jangan Tinggalkan Aku di Masa Tuaku | Hari Kakek Nenek &amp; Lansia Sedua ke-4 | Paroki Santo Petrus &amp; Paulus Babadan 2024<br \/>\nFilm dokumenter &#8220;Jangan Tinggalkan Aku di Masa Tuaku&#8221; menggambarkan perayaan penuh cinta di Paroki St. Petrus dan Paulus Babadan dalam rangka Hari Kakek-Nenek dan Lansia. Dengan tema &#8220;Jangan tinggalkan aku di masa tuaku,&#8221; acara dimulai dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Antonius Saptono Hadi Pr, diikuti oleh kegiatan penuh sukacita seperti pembagian makanan ringan, pemeriksaan kesehatan, hingga tarian dan nyanyian bersama. Hubungan antargenerasi diperkuat dengan anak-anak yang membagikan bunga dan hadiah kecil, simbol cinta dan perhatian tanpa batas usia. Melalui acara ini, para lansia tidak hanya dipenuhi kegembiraan, tetapi juga diingatkan akan pentingnya memelihara iman di masa tua. Wawancara singkat dengan lansia menyoroti rasa syukur mereka atas perhatian yang diberikan, sementara film diakhiri dengan suasana haru saat para lansia pulang dengan hati yang dipenuhi sukacita dan harapan, menyadari bahwa mereka tidak sendirian.<\/p>\n<p>Sumber KOMSOS PAROKI BABADAN<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jangan Tinggalkan Aku di Masa Tuaku | Hari Kakek Nenek &amp; Lansia Sedunia ke-4 Jangan Tinggalkan Aku di Masa Tuaku | Hari Kakek Nenek &amp; Lansia Sedua ke-4 | Paroki Santo Petrus &amp; Paulus&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28971,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,2],"tags":[],"class_list":["post-59517","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-sekitar","category-tokoh","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ki.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/59517","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=59517"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/59517\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":59518,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/59517\/revisions\/59518"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/28971"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=59517"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=59517"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=59517"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}