{"id":59379,"date":"2024-09-09T13:23:06","date_gmt":"2024-09-09T06:23:06","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=59379"},"modified":"2024-09-09T13:23:06","modified_gmt":"2024-09-09T06:23:06","slug":"senin-09-september-2024-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=59379","title":{"rendered":"Senin, 09 September 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 09 September 2024<br \/>\nLukas 6:11 (Luk 6:6-11)<br \/>\nLalu Yesus berkata kepada mereka: &#8220;Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?&#8221; Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: &#8220;Ulurkanlah tanganmu!&#8221; Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.<\/p>\n<p>Berani Untuk Kebaikan<\/p>\n<p>Yesus baru saja menolong memulihkan orang yang mati tangan kanannya hingga ia sehat seperti sedia kala. Namun bukannya berterimakasih atas kebaikan hati Yesus, malah para ahli Taurat dan orang Farisi menjadi sangat marah terhadap Yesus.<br \/>\nApakah pernah mengalami hal yang sama? Sudah berbuat baik tapi malah dimarahi, dihujat dan dibenci? Bersyukurlah! Kita menjadi seperti Yesus yang memilih jalan salib sebagainjalan kebaikan. Bukan maksud Yesus membuat mereka marah. Bukan juga karena Ia tidak taat pada aturan. Kebaikan harus dinyatakan, keselamatan jiwa harus diutamakan, pertolongan Tuhan harus menjadi pengalaman nyata.<br \/>\nJangan menyerah, teruslah berbuat baik. Murnikan motivasi dan melangkahlah terus di jalan Tuhan. Memang lebih nyaman untuk menghindar dan tidak perlu merepotkan diri. Apalagi mengambil resiko melawan arus dan dikucilkan. Orang bijak berkata, \u201ckapal akan aman di pelabuhan, tapi bukan untuk itulah ia diciptakan.\u201d<br \/>\nBeranilah seperti Yesus, sekalipun kebaikanNya nanti diakui setelah Ia tergantung di salib. Salib Yesus adalah pengingat bahwa kebaikan akan selalu menang dan dikenang, walaupun tanpa tanda jasa.<br \/>\nDi pihak lain, biarlah tangan kita selalu terulur untuk menolong. Jangan biarkan tangan kita tertutup dan terkepal karena dendam dan benci. Biarlah tangan kita menjadi tangan Yesus.<\/p>\n<p>Semangat Senin! Jadilah pemenang sejati oleh kebaikan dan kasih.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 09 Sep 2024<br \/>\nSenin Pekan Biasa XXIII<br \/>\nPF S. Petrus Klaver, Imam<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 10:27<br \/>\nBacaan Injil: Luk 6:6-11<br \/>\n**********************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 10:27<br \/>\nDomba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan.<br \/>\nAku mengenal mereka, dan mrereka mengenal Aku.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 6:6-11<br \/>\nMereka mengamat-amati Yesus,<br \/>\nkalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Pada suatu hari Sabat Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar.<br \/>\nDi situ ada seorang yang mati tangan kanannya.<br \/>\nAhli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus,<br \/>\nkalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat,<br \/>\nagar mereka mendapat alasan untuk menyalahkan Dia.<br \/>\nTetapi Yesus mengetahui pikiran mereka.<br \/>\nIa berkata kepada orang yang mati tangannya,<br \/>\n&#8220;Bangunlah dan berdirilah di tengah!&#8221;<br \/>\nMaka bangunlah orang itu dan berdiri di tengah.<\/p>\n<p>Lalu Yesus berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Aku bertanya kepada kalian:<br \/>\nManakah yang diperbolehkan pada hari Sabat,<br \/>\nberbuat baik atau berbuat jahat?<br \/>\nMenyelamatkan orang atau membinasakannya?&#8221;<\/p>\n<p>Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua,<br \/>\nlalu berkata kepada orang sakit itu, &#8220;Ulurkanlah tanganmu!&#8221;<br \/>\nOrang itu mengulurkan tangannya dan sembuhlah ia.<\/p>\n<p>Maka meluaplah amarah ahli-ahli Taurat dan orang Farisi.<br \/>\nLalu mereka berunding,<br \/>\napakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*****************************)*******<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201dSesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: &#8220;Ulurkanlah tanganmu!&#8221; Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.\u201d (Luk 6: 10 \u2013 11).<\/p>\n<p>Cerita dalam Injil hari ini mengusik. Berulang kali kita jumpai para Ahli Taurat dan para Farisi bertindak dengan maksud-maksud jahat. Dalam peristiwa ini mereka mencari-cari alasan agar dapat mempersalahkan Dia. Dan apa yang mereka temukan untuk menyalahkan Dia? Mereka menyaksikan Yesus melakukan mukjizat di hari Sabat.<\/p>\n<p>Sikap para Farisi dan Ahli Taurat ini menjengkelkan karena mereka adalah para pemimpin agama yang seharusnya melayani, tetapi mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri. Mereka tenggelam dalam iri hati karena Yesus yang lebih populer dan lebih dihormati.<\/p>\n<p>Satu hal dapat kita renungkan dari perikope ini adalah bahwa iri hati menuntun kita pada kebodohan dan irasionalitas. Iri membutakan dan menuntun kita pada cara berpikir yang bodoh. Kitab Keluaran (20: 8 ) dan Ulangan (5: 12) memerintahkan agar orang-orang Yahudi menguduskan hari Sabbat. Akan tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menafsirkannya atas cara yang salah dan membuatnya membebani rakyat melalui hukum buatan manusia. Yesus ingin menunjukkan maksud Allah yang sebenarnya dari perintah menguduskan hari Sabat, yakni hari istirahat untuk menyembah Tuhan, belajar dan mengajarkan hukum-hukum-Nya, dan berbuat baik untuk orang lain. Dengan menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya Yesus hendak membuktikan bahwa Sabbat dimaksudkan oleh Allah bagi umat-Nya untuk berbuat baik, untuk menyelamatkan kehidupan dan bukan membinasakan.<\/p>\n<p>Mari kita bercermin dari perikope ini. Bagaimanakah relasi kita dengan sesama? Adakah iri yang bercokol di hati kita? Pernahkah kita bertindak secara \u201cmembabi-buta\u201d dan irasional karena iri dan dengki?<\/p>\n<p>Ya Tuhan, semoga aku dapat melihat kebaikan dalam diri sesama lebih dari kekurangan dan kesalahan mereka, karena aku pun memiliki kekurangan. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Mari kita pupuk kebaikan. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"2xhW6yqcOU\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/mencabut-iri-hati\/\">MENCABUT IRI HATI<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;MENCABUT IRI HATI&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/mencabut-iri-hati\/embed\/#?secret=q6k2aU9A2N#?secret=2xhW6yqcOU\" data-secret=\"2xhW6yqcOU\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 09 September 2024 Lukas 6:11 (Luk 6:6-11) Lalu Yesus berkata kepada mereka: &#8220;Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-59379","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/59379","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=59379"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/59379\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":59380,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/59379\/revisions\/59380"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=59379"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=59379"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=59379"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}