{"id":5914,"date":"2015-09-10T08:55:33","date_gmt":"2015-09-10T01:55:33","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=5914"},"modified":"2015-09-10T08:55:33","modified_gmt":"2015-09-10T01:55:33","slug":"menghadapi-pencobaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=5914","title":{"rendered":"MENGHADAPI PENCOBAAN"},"content":{"rendered":"<p>MENGHADAPI PENCOBAAN Pernahkan kita berkata, &#8220;Mengapa ya pencobaan hidupku beruntun seperti batalion? Masalah anak belum selesai, sekarang masalah menantu. Tambah lagi penyakit suami yang tidak sembuh-sembuh, ada tagihan-tagihan yang antre untuk dibayar. Duh Tuhan apakah aku kuat???&#8221; Yang namanya pencobaan itu akan selalu ada dan itu akan berakhir sampai kita masuk ke liang kubur. Baik jika kita baca apa yang ditulis Charles Sanley, &#8220;God doesn&#8217;t allow trials in our lives to defeat us, but to develop us&#8221; &#8212; Tuhan tidak membiarkan pencobaan dalam hidup kita untuk mengalahkan kita, tetapi untuk mengembangkan kita. Paulus ketika menghadapi umatnya yang menghadapi pencobaan, dia berkata, &#8220;Tentatio vos non apprehendat nisi humana&#8230;&#8221; &#8212; Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia&#8230; (1 Kor 10: 13). Setiap pencobaan akan mengembangkan kita menjadi lebih matang dan lebih bijak. Tanpa pencobaan, kita tidak mungkin naik level. Kamis, 10 September 2015 &#8211;oo000oo&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Buku Motivasi &#8220;sebagai sahabat dalam peziarahan hidup&#8221;<\/p>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Rm. Markus Marlon, MSC &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MENGHADAPI PENCOBAAN Pernahkan kita berkata, &#8220;Mengapa ya pencobaan hidupku beruntun seperti batalion? Masalah anak belum selesai, sekarang masalah menantu. Tambah lagi penyakit suami yang tidak sembuh-sembuh, ada tagihan-tagihan yang antre untuk dibayar. Duh Tuhan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3270,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-5914","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/jalan-salib-pagi.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5914","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5914"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5914\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5915,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5914\/revisions\/5915"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3270"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5914"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5914"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5914"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}