{"id":58857,"date":"2024-09-04T06:54:25","date_gmt":"2024-09-03T23:54:25","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=58857"},"modified":"2024-09-04T06:54:25","modified_gmt":"2024-09-03T23:54:25","slug":"rabu-04-september-2024-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=58857","title":{"rendered":"Rabu, 04 September 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 04 September 2024<br \/>\nLuk 4:42-43 (Luk 4:38-44)<br \/>\nKetika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: &#8220;Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.&#8221;<\/p>\n<p>Berani Meninggalkan Zona Nyaman, Beritakan Injil<\/p>\n<p>Yesus menjadi sangat terkenal di Kapernaum, kampung halaman Petrus. Di sana Ia membuat banyak mujizat, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, juga menjala ikan dengan begitu mudahnya. Penduduk Kapernaum tentu saja ingin agar Yesus tinggal bersama mereka selamanya. Mereka tak perlu bersusah-susah bila ada kesulitan melanda, bila ada masalah kesehatan, bahkan kebutuhan makan minum mereka terjamin. Tapi bukan itu maksud utama kehadiran Yesus.<br \/>\nYesus tidak ingin kita tinggal terus dalam zona nyaman. Keselamatan harus diperjuangkan, talenta harus dikembangkan, rahmat Tuhan harus disertai dengan usaha dan kerja keras. Terlebih lagi, Injil Keselamatan harus diwartakan ke seluruh dunia, supaya semua orang diselamatkan.<br \/>\nGodaan terbesar dalam hidup adalah tinggal dalam zona nyaman, menikmati hidup tanpa bersusah payah, yang penting aman dan tanpa masalah.<br \/>\nYesus bukan hanya Juruselamat kita, tapi Ia adalah pelatih kehidupan kita. Yesus mengajak kita untuk berani menghadapi tantangan, keluar dari zona nyaman kamar kita yang kecil untuk ikut bersaksi dan mewartakan Injil sekalipun mesti menghadapi berbagai kesulitan, ditolak dan tidak dihargai, serta merasa berjuang sendiri.<br \/>\nJanganlah hanya mencari selamat sendiri, mari ikut Yesus menebarkan kasih dan mencari jiwa-jiwa yang haus akan Allah, agar semakin banyak orang ikut mengalami pengalaman kasih Allah yang kita alami.<\/p>\n<p>Selamat hari Rabu. Mari melanjutkan perjalanan menjadi saksi Injil. Berkah Dalem\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 04 Sep 2024<br \/>\nRabu Pekan Biasa XXII<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Luk 4:18-19<br \/>\nBacaan Injil: Luk 4:38-44<br \/>\n**********************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nLuk 4:18-19<br \/>\nTuhan mengutus Aku<br \/>\nmemaklumkan Injil kepada orang hina dina<br \/>\ndan mewartakan pembebasan kepada para tawanan.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 4:38-44<br \/>\nJuga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil,<br \/>\nsebab untuk itulah Aku diutus.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Setelah meninggalkan rumah ibadat di Kapernaum,<br \/>\nYesus pergi ke rumah Simon.<br \/>\nAdapun ibu mertua Simon sakit deman keras,<br \/>\ndan mereka minta kepada Yesus supaya menolong dia.<br \/>\nMaka Yesus berdiri di sisi wanita itu,<br \/>\nlalu menghardik demamnya.<br \/>\nSegera penyakit itu meninggalkan dia.<br \/>\nWanita itu segera bangun dan melayani mereka.<\/p>\n<p>Ketika matahari terbenam,<br \/>\nsemua orang membawa kerabatnya yang sakit kepada Yesus.<br \/>\nIa meletakkan tangan atas mereka masing-masing<br \/>\ndan menyembuhkan mereka.<br \/>\nDari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak,<br \/>\n&#8220;Engkaulah Anak Allah.&#8221;<br \/>\nTetapi dengan keras Yesus melarang mereka berbicara,<br \/>\nkarena mereka tahu bahwa Ia Mesias.<\/p>\n<p>Ketika hari siang Yesus berangkat ke suatu tempat yang sunyi.<br \/>\nTetapi orang banyak mencari Dia.<br \/>\nKetika menemukan-Nya,<br \/>\nmereka berusaha menahan Dia,<br \/>\nsupaya jangan meninggalkan mereka.<br \/>\nTetapi Yesus berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil Allah<br \/>\nsebab untuk itulah Aku diutus.&#8221;<br \/>\nDan Ia mewartakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cKetika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka\u2026. Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: &#8220;Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.\u201d [Luk 4: 40, 42 \u2013 43]<\/p>\n<p>Kita sedang dalam euforia Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus di Indonesia. Ngapain sih, susah-susah, sudah lanjut usia, masih harus melakukan perjalanan jauh, berjam-jam dengan pesawat komersial? Atas salah satu cara, Perjalanan Apostolik Paus Fransiskus mengungkapkan Gereja yang anti mager, the Church on the move.<\/p>\n<p>Tindakan Yesus dalam Injil hari ini, yang berpindah dari rumah ibadat ke rumah Petrus merupakan sebuah simbolisme mendalam. Bagi komunitas Lukas, rumah Petrus adalah simbol dari rumah para murid Yesus \u2013 yaitu Gereja. Yesus masuk dan pertama-tama menyembuhkan seorang perempuan \u2013 ibu mertua Petrus \u2013 yang menderita demam. Perempuan melambangkan Gereja. Gereja itu menderita demam yang melumpuhkannya untuk bangkit dan melayani orang lain. Apa pun yang membuat kita malas, mager, menghalangi kita untuk melayani orang lain harus \u201cdiusir\u201d. Sebagai warga Gereja, jika kita menolak untuk melayani orang lain, itu menandakan bahwa kita sedang sakit dan memerlukan penyembuhan yang mendesak! Agar Gereja dapat melanjutkan misinya untuk menyembuhkan luka-luka dunia, Gereja pertama-tama harus disembuhkan dari penyakit-penyakitnya sendiri.<\/p>\n<p>Semua orang yang menderita pelbagai macam penyakit dibawa ke rumah Petrus, mencari kuasa kesembuhan dari Tuhan. Hal ini melambangkan dunia yang sakit yang melihat ke arah Gereja untuk mendapatkan kesembuhan. Gereja mengambil bagian dalam misi Kristus untuk membawa kesembuhan bagi dunia. Injil menyatakan, \u201cIa meletakkan tangan-Nya atas mereka semua dan menyembuhkan mereka.\u201d Tidak ada seorang pun yang tidak mengalami dan merasakan belas kasihan dan kemurahan Kristus. Ini juga merupakan misi kita.<\/p>\n<p>Setelah misi selesai, Dia tidak tinggal di sana lebih lama lagi. Meskipun orang banyak memohonnya untuk tinggal, Yesus berpindah ke tempat lain. Misi kita adalah untuk terus bergerak melayani umat Allah dan tidak ditempatkan di istana-istana kenyamanan.<\/p>\n<p>Mari bergerak. Jangan kita \u201cmager\u201d dalam kenyamanan kita, sedangkan banyak jiwa membutuhkan uluran tangan dan sentuhan hati kita.<\/p>\n<p>Tuhan, semoga kami dapat melanjutkan dengan penuh belas kasih tugas penyembuhan-Mu, sehingga yang sakit dapat dikuatkan, yang tertindas dibebaskan, dan yang miskin serta lemah dilindungi. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas bari ini. Ayo bergerak! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 04 September 2024 Luk 4:42-43 (Luk 4:38-44) Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-58857","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/58857","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=58857"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/58857\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":58858,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/58857\/revisions\/58858"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=58857"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=58857"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=58857"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}