{"id":58682,"date":"2024-09-02T10:30:15","date_gmt":"2024-09-02T03:30:15","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=58682"},"modified":"2024-09-02T10:30:15","modified_gmt":"2024-09-02T03:30:15","slug":"senin-02-september-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=58682","title":{"rendered":"Senin, 02 September 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 02 September 2024<br \/>\nLukas 4:24 (Luk 4:24-30)<br \/>\nDan kata-Nya lagi: &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.\u201d<\/p>\n<p>Tetap Mencintai Sekalipun Ditolak<\/p>\n<p>Betapa sedih hati Yesus, ketika ditolak oleh orang-orang sekampungNya di Nazareth. Mereka lebih melihat latar belakang keluargaNya yang sederhana, daripada melihat semua tanda-tanda heran yang dibuat Yesus sebagai tanda bahwa janji para nabi telah terpenuhi dalam diriNya.<br \/>\nMemang betapa sulit menerima dan menghargai apa yang datang dari kalangan sendiri. Mantan presiden Habibi merasa sedih karena tekadnya menjadikan Indonesia hebat dengan membuat pesawat terbang sendiri, ternyata tidak dihargai di negaranya sendiri. Orang lebih tertarik dengan merk luar negri daripada buatan negri sendiri. Lucunya cepatu Nike dibuat di Tangerang, fashion terkenal Zara diproduksi di Sukoharjo, Hugo Boss di Bandung, termasuk Uniqlo dan H&amp;M. Para Insinyur pesawat yang mendesain pesawat Boeing ternyata para insinyur Indonesia. Tetaplah bangga dengan buatan dalam negeri.<br \/>\nPenolakan Yesus oleh keluarga sekampungNya, sahabat kenalanNya sendiri, mengingatkan kita pentingnya menerima dan menghargai semua anggota keluarga kita, orang-orang sederhana di sekitar kita.<br \/>\nSekalipun ditolak manusia, Yesus tak pernah menolak kita. Ia mencintai kita apa adanya. Ia ikut menanggung beban derita kita karena Ia mengerti kesulitan kita sebagai manusia biasa.<br \/>\nYesus meminta kita untuk melakukan yang sama, mencintai semua orang yang Yesus cintai, bahkan musuh sekalipun.<br \/>\nNasehat Rasul Paulus ini sangat indah: \u201cJika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!\u201d (Rom 12:20-21)<br \/>\nTetaplah baik sekalipun diperlakukan tidak baik!<\/p>\n<p>Semangat Senin, Yesus selalu menerima dan menemani kita.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 02 Sep 2024<br \/>\nSenin Pekan Biasa XXII<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Luk 4:18<br \/>\nBacaan Injil: Luk 4:16-30<br \/>\n*************************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nLuk 4:18<br \/>\nRoh Tuhan menyertai aku;<br \/>\nAku diutus Tuhan mewartakan kabar baik<br \/>\nkepada orang-orang miskin.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 4:16-30<br \/>\nAku diutus menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin.<br \/>\nTiada nabi yang dihargai di tempat asalnya.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa datanglah Yesus di Nazaret, tempat Ia dibesarkan.<br \/>\nSeperti biasa, pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat.<br \/>\nYesus berdiri hendak membacakan Kitab Suci.<br \/>\nMaka diberikan kepada-Nya kitab nabi Yesaya.<\/p>\n<p>Yesus membuka kitab itu dan menemukan ayat-ayat berikut,<br \/>\n&#8220;Roh Tuhan ada pada-Ku.<br \/>\nSebab Aku diurapi-Nya<br \/>\nuntuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin.<br \/>\nDan Aku diutus-Nya<br \/>\nmemberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan,<br \/>\npenglihatan kepada orang-orang buta,<br \/>\nserta membebaskan orang-orang yang tertindas;<br \/>\nAku diutus-Nya memberitakan<br \/>\nbahwa tahun rahmat Tuhan telah datang.&#8221;<br \/>\nKemudian Yesus menutup kitab itu<br \/>\ndan mengembalikannya kepada pejabat;<br \/>\nlalu Ia duduk<br \/>\ndan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.<\/p>\n<p>Kemudian Yesus mulai mengajar mereka, kata-Nya,<br \/>\n&#8220;Pada hari ini genaplah ayat-ayat Kitab Suci itu<br \/>\npada saat kalian mendengarnya.&#8221;<br \/>\nSemua orang membenarkan Yesus.<br \/>\nMereka heran akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya.<br \/>\nLalu kata mereka, &#8220;Bukankah Dia anak Yusuf?&#8221;<br \/>\nYesus berkata,<br \/>\n&#8220;Tentu kalian akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku,<br \/>\n&#8216;Hai Tabib, sembuhkanlah dirimu sendiri.<br \/>\nPerbuatlah di sini, di tempat asal-Mu ini,<br \/>\nsegala yang kami dengar telah terjadi di Kapernaum!&#8221;<\/p>\n<p>Yesus berkata lagi, &#8220;Aku berkata kepadamu:<br \/>\nSungguh, tiada nabi yang dihargai di tempat asalnya.<br \/>\nAku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar,<br \/>\n&#8216;Pada zaman Elia terdapat banyak wanita janda di Israel<br \/>\nketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan<br \/>\ndan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.<br \/>\nTetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka,<br \/>\nmelainkan kepada seorang wanita janda di Sarfat, di tanah Sidon.<br \/>\nDan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel<br \/>\ntetapi tiada seorang pun dari mereka yang ditahirkan,<br \/>\nselain Naaman, orang Siria itu.&#8221;<\/p>\n<p>Mendengar itu sangat marahlah semua orang di rumah ibadat itu.<br \/>\nMereka bangkit lalu menghalau Yesus ke luar kota,<br \/>\ndan membawa Dia ke tebing gunung tempat kota itu terletak,<br \/>\nuntuk melemparkan Dia dari tebing itu.<br \/>\nTetapi Yesus berjalan lewat tengah-tengah mereka, lalu pergi.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>*\u201cIa datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab,\u201d (Luk 4: 16)*<\/p>\n<p>Mulai hari ini hingga akhir tahun liturgi bacaan Injil untuk misa harian diambil dari Injil Lukas. Perikope hari ini menceriterakan Yesus yang kembali ke kampung halaman-Nya dan pada saat ibadah di Sinagoga, Ia memaklumkan karya-Nya.<\/p>\n<p>Ada satu hal yang menarik dalam perikope itu. Lukas memberi tahu kita bahwa Yesus pergi ke rumah ibadat \u201cmenurut kebiasaan-Nya.\u201d Kita tahu bahwa Yesus sering tidak setuju dengan semua yang terjadi dan diajarkan di rumah-rumah ibadat. Dia sering melanggar aturan yang berlaku di sana, seperti ketika Dia menyembuhkan pada hari Sabat di dalam rumah ibadat. Namun, Ia tetap pergi ke rumah ibadat \u201cmenurut kebiasaan-Nya.\u201d<\/p>\n<p>Tak jarang saya jumpai beberapa umat Katolik yang mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak pergi ke gereja lagi. Beberapa tidak suka dengan apa yang diajarkan oleh Gereja. Yang lain, tidak suka dengan pastornya. Yang lain lagi merasa gereja terlalu berisik dan lebih suka mengikuti Misa online di TV atau YouTube, apalagi sudah keenakan dengan praktek itu selama masa pandemi (tapi perlu diingat bahwa dengan \u201cmenonton\u201d Misa di TV atau mengikuti live-streaming, mereka belum memenuhi kewajiban mereka di hari Minggu). Mereka memberikan banyak alasan untuk tidak pergi ke gereja, tetapi apakah alasan-alasan itu valid?<\/p>\n<p>Fakta bahwa Yesus pergi ke rumah ibadat, \u201cmenurut kebiasaan-Nya,\u201d menunjukkan bahwa Yesus melihat lebih jauh dari apa yang tidak dapat Ia setujui. Ia melihat bahwa ibadah di sinagoga, pertama-tama, adalah pertemuan umat Allah. Kemudian Firman Allah diberitakan dan dijelaskan di sana. Ini adalah waktu untuk berdoa dan bersatu sebagai sebuah komunitas dengan Tuhan.<\/p>\n<p>Itulah yang terjadi ketika kita merayakan Ekaristi, bahkan lebih dari itu, karena Kristus sendiri selalu hadir.<\/p>\n<p>Adakah sesuatu yang menghalangi Anda untuk pergi ke gereja? Apakah Anda menyadari bahwa Kristus selalu hadir di sana meskipun ada hal-hal lain yang tidak anda sukai?<\/p>\n<p>Tuhan, tak jarang ada pelbagai alasan yang membuat aku tidak mengikuti perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan hari raya yang diwajibkan. Jangan biarkan hal-hal itu menjauhkan aku dari-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas dalam pekan dan bulan yang baru. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"kV02t8PcIq\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/menurut-kebiasaan-nya\/\">MENURUT KEBIASAAN-NYA<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;MENURUT KEBIASAAN-NYA&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/menurut-kebiasaan-nya\/embed\/#?secret=MpOTqQt2aT#?secret=kV02t8PcIq\" data-secret=\"kV02t8PcIq\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 02 September 2024 Lukas 4:24 (Luk 4:24-30) Dan kata-Nya lagi: &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.\u201d Tetap Mencintai Sekalipun Ditolak Betapa sedih hati Yesus, ketika&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-58682","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/58682","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=58682"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/58682\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":58683,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/58682\/revisions\/58683"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=58682"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=58682"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=58682"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}