{"id":57675,"date":"2024-08-23T09:06:22","date_gmt":"2024-08-23T02:06:22","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=57675"},"modified":"2024-08-23T09:06:22","modified_gmt":"2024-08-23T02:06:22","slug":"jumat-23-agustus-2024-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=57675","title":{"rendered":"Jumat, 23 Agustus 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 23 Agustus 2024<br \/>\nMatius 22:34-36 (Mat 22:34-40)<br \/>\nKetika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: &#8220;Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?&#8221;<\/p>\n<p>Bukan Hanya Teori Tapi Praktek<\/p>\n<p>Para ahli Taurat lebih suka berdebat dan berwacana untuk menunjukkan bahwa mereka tahu segalanya tentang hukum-hukum dalam kitab Taurat. Mereka datang kepada Yesus untuk mencoba Dia, bukan untuk belajar dari Yesus.<br \/>\nBagi Yesus bukan soal tahu manakah hukum yang paling utama yang penting, tapi melakukan apa yang diketahui, itu yang lebih penting. Pepatah berkata, \u201dPeople don\u2019t care how much you know, until they know how much you care.\u201d (Orang tidak peduli berapa banyak yang kau ketahui, sampai mereka tahu seberapa besar engkau peduli).<br \/>\nHukum cintakasih bisa saja diajarkan oleh siapa saja jauh sebelum atau sesudah Yesus. Tapi totalitas cinta yang tanpa syarat paling nyata dalam diri Yesus. Ia mencintai sampai tuntas hingga mati di kayu salib. Ia begitu peduli dengan keselamatan kita hingga rela menyerahkan nyawaNya sebagai tebusan bagi dosa manusia.<br \/>\nSesungguhnya lawan dari cintakasih bukanlah benci, tapi tidak peduli. Mari saling peduli dan melakukan tindakan nyata. Inilah wujud nyata cinta kita kepada Tuhan dan sesama. Bahagianya hati dapat menjadi tanda cinta Tuhan bagi sesama.<\/p>\n<p>Selamat hari Jumat, hari Yesus wafat karena cintaNya bagi kita.\u2764<br \/>\nPs Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 23 Agt 2024<br \/>\nJumat Pekan Biasa XX<br \/>\nPF S. Rosa dari Lima, Perawan<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 25:5c.5a<br \/>\nBacaan Injil: Mat 22:34-40<br \/>\n************************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 25:5c.5a<br \/>\nTunjukkanlah lorong-Mu kepadaku, ya Tuhan,<br \/>\nbimbinglah aku menurut sabda-Mu yang benar.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 22:34-40<br \/>\nKasihilah Tuhan Allahmu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Ketika orang-orang Farisi mendengar,<br \/>\nbahwa Yesus telah membungkam orang-orang Saduki,<br \/>\nberkumpullah mereka.<br \/>\nSeorang dari antaranya, seorang ahli Taurat,<br \/>\nbertanya kepada Yesus hendak mencobai Dia,<br \/>\n&#8220;Guru, hukum manakah yang terbesar dalam hukum Taurat?&#8221;<\/p>\n<p>Yesus menjawab,<br \/>\n&#8220;Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu,<br \/>\ndengan segenap jiwamu, dan segenap akal budimu.<br \/>\nItulah hukum yang utama dan yang pertama.<br \/>\nDan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah:<br \/>\nkasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.<br \/>\nPada kedua hukum inilah<br \/>\ntergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***************************************<\/p>\n<p>CINTAKASIH: BERI YG TERBAIK DAN TERINDAH UNTUK TUHAN, &#8220;YANG LAIN&#8221; (Sesama\/alam semesta\/lingkungan hidup lainnya) DAN DIRI SENDIRI<br \/>\n(RD. John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng)<\/p>\n<p>Hukum Kasih, hukum utama<\/p>\n<p>Dlm Injil hari ini Yesus, Guru mengajarkan hukum utama yaitu CINTA, CINTAKASIH, MENCINTAI, MENGASIHI. Mencintai Allah, sesama\/alam\/lingkungan hidup yang lainnya dan diri sendiri. Semacam &#8216;cinta segitiga&#8217; dg kwalitas yg sama dan prima. Intinya &#8220;memberikan yang terbaik dan terindah&#8221; untuk Tuhan dan sesama serta diri sendiri. Ada unsur pengorbanan dalam memberikan yg terbaik dan terindah itu. Ada unsur &#8220;serah nyawa&#8221; utk menghidupkan yang lain, utk memberikan yg terbaik dan terindah utk utu. &#8220;Tak ada kasih yg lebih besar dp kasih seorang yg memberikan nyawanya utk sahabat2nya&#8221; kata Yesus, Sang Guru Kasih (Yoh. 15:13). Bahasa Injil hari ini: &#8220;Kasihilah Tuhan, Allahmu dg segenap hatimu (bukan 1\/2 hati), dan dg segenap jiwamu dan dg segenap hatimu..dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri&#8221;. Jangan main2, jangan setengah2. Harus full, penuh, total, &#8220;all-out&#8221; kasihnya, &#8216;serah nyawa&#8221;nya spt yg ditunjukkan oleh Yesus Kristus sendiri.<\/p>\n<p>Saya\/anda pun bisa mempraktekkannya dlm kehidupan sehari-hari &#8220;di sini-saat ini&#8221;. Ada sukacita, kegembiraan, kebahagiaan tersendiri bagi saya, anda kalau sdh memberikan yg terbaik dan terindah utk Tuhan dan orang lain. Itulah bonus yg diperoleh dalam mempraktekkan cinta yg sejati, &#8220;cinta segitiga&#8221; antara saya dg Tuhan dan sesama\/lingkungan alam\/lingkungan hidup. Selamat mencintai! Selamat memberikan yg terbaik dan terindah utk Tuhan dan sesama\/alam semesta\/lingkungan hidup. Selamat menikmati bonusnya untuk diri sendiri: sukacita, kegembiraan, kebahagiaan hidup!<\/p>\n<p>Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati saya\/anda sekalian yang sudah, sedang, akan memberikan yang terbaik dan terindah untuk Tuhan orang lain\/alam semesta dan diri\u00a0sendiri.\u00a0Amin<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 23 Agustus 2024 Matius 22:34-36 (Mat 22:34-40) Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-57675","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/57675","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=57675"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/57675\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57676,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/57675\/revisions\/57676"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=57675"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=57675"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=57675"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}