{"id":57498,"date":"2024-08-21T10:12:16","date_gmt":"2024-08-21T03:12:16","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=57498"},"modified":"2024-08-21T10:12:16","modified_gmt":"2024-08-21T03:12:16","slug":"rabu-21-agustus-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=57498","title":{"rendered":"Rabu, 21 Agustus 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 21 Agustus 2024<br \/>\nMatius 20:11-13 (Mat 20:1-16)<br \/>\nKetika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?<\/p>\n<p>Tidak Adil-kah Tuhan?<\/p>\n<p>Sepintas kita akan setuju dengan \u2018ketidak-adilan\u2019 si pemberi upah kerja. Mengapa saya yang bekerja selama 12 jam mendapat upah yang sama dengan yang bekerja hanya 1 jam? Bukankah ini tidak adil?<br \/>\nDemikian kita sering menuduh Tuhan tidak adil. Mengapa saya yang rajin ke gereja, berusaha taat pada perintah Tuhan, justru lebih susah hidupnya dari mereka yang tidak peduli dengan imannya dan hidup seenaknya saja?<br \/>\nSaya lebih senior, saya lebih rajin, saya lebih taat dan setia, sudah sepantasnya saya mendapatkan lebih dari yang lain. Inilah masalahnya bila kita membandingkan berkat yang kita terima dari orang lain.<br \/>\nDalam kisah perumpamaan Yesus mengenai pekerja-pekerja kebun anggur, para pekerja yang mulai bekerja pagi hari telah sepakat untuk menerima 1 dinar sehari (Rp 200.000). Selesai bekerja mereka mendapatkan upah 1 dinar, sama seperti yang disepakati dan dijanjikan Tuan itu. Si Tuan berlaku adil karena sudah sesuai kesepakatan.<br \/>\nYesus mengingatkan para muridNya dan kita semua bahwa dalam hal upah keselamatan, kemurahan hati Allah tidaklah ditentukan oleh jasa manusia. Keselamatan bukan ditentukan oleh lamanya kita bekerja atau berat ringannya pekerjaan kita.<br \/>\nBila kita telah lama mengikuti Kristus dan melayani Tuhan, tidaklah perlu membandingkan diri dengan orang yang baru mengenal Kristus dan lantas merasa lebih berjasa dan karena itu harus mendapatkan penghargaan lebih.<br \/>\nMari kita bersyukur karena kita sama-sama diselamatkan. Bahagianya kita bila pada akhirnya semua orang bisa mengalami kemurahan hari Allah dan bersama-sama masuk dalam Rumah Bapa. Ingatlah kisah si penjahat yang bertobat pada saat akhir hidupnya dan diselamatkan Yesus.<br \/>\nNamun jangan berkata, kalau begitu saya ingin menjadi seperti si penjahat. Bertobat nanti saat akhir! Kalau kita dapat mengalami sukacita karena mendapatkan kemurahan hati Allah Bapa, kita diampuni dan dipulihkan kembali, diberkati dan mengalami kepenuhan cinta Tuhan, mengapa mesti menunggu saat akhir?<br \/>\nAlamilah sukacita setiap hari karena pengenalan kita akan Yesus. Teruslah bertumbuh dalam kasih karuniaNya. Giatlah terus bekerja di kebun anggur Tuhan, ajaklah sebanyak mungkin orang mengalami kasih Yesus. Teruslah menambah jumlah orang yang percaya. Semakin banyak orang selamat, semakin besar sukacita kita. Dan janganlah menghitung-hitung jasa kita.<\/p>\n<p>Tetap semangat bekerja di ladang Tuhan, jangan lupa bersyukur dan bahagia.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 21 Agt 2024<br \/>\nRabu Pekan Biasa XX<br \/>\nPW S. Pius X, Paus<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Ibr 4:12<br \/>\nBacaan Injil: Mat 20:1-16a<br \/>\n************************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nIbr 4:12<br \/>\nSabda Allah hidup dan penuh daya,<br \/>\nmenguji pikiran dan segala maksud hati.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 20:1-16a<br \/>\nIri hatikah engkau karena aku murah hati?<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\nYesus mengemukakan perumpamaan berikut<br \/>\nkepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Hal Kerajaan Surga itu seperti seorang tuan rumah<br \/>\nyang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja<br \/>\nuntuk kebun anggurnya.<br \/>\nSetelah sepakat dengan para pekerja mengenai upah sedinar sehari,<br \/>\nia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.<\/p>\n<p>Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula,<br \/>\ndan dilihatnya ada orang-orang lain menganggur di pasar.<br \/>\nKatanya kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Pergi jugalah kalian ke kebun anggurku,<br \/>\ndan aku akan memberimu apa yang pantas.&#8221;<br \/>\nDan mereka pun pergi.<br \/>\nKira-kira pukul dua belas dan pukul tiga sore ia keluar pula,<br \/>\ndan berbuat seperti tadi.<br \/>\nKira-kira pukul lima sore ia keluar lagi<br \/>\ndan mendapati orang-orang lain pula;<br \/>\nlalu katanya kepada mereka,<br \/>\n&#8216;Mengapa kalian menganggur saja di sini sepanjang hari?&#8217;<br \/>\nJawab mereka, &#8220;Tidak ada orang yang mengupah kami.&#8217;<br \/>\nKata orang itu, &#8216;Pergilah kalian juga ke kebun anggurku.&#8217;<\/p>\n<p>Ketika hari sudah malam berkatalah tuan itu kepada mandornya,<br \/>\n&#8216;Panggillah sekalian pekerja dan bayarlah upahnya,<br \/>\nmulai dari yang masuk terakhir<br \/>\nsampai kepada yang masuk terdahulu.<br \/>\nMaka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima sore,<br \/>\ndan mereka masing-masing menerima satu dinar.<br \/>\nKemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu.<br \/>\nMereka mengira akan mendapat lebih besar.<br \/>\nTetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga.<br \/>\nKetika menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya,<br \/>\n&#8216;Mereka yang masuk paling akhir ini hanya bekerja satu jam,<br \/>\ndan engkau menyamakan mereka dengan kami<br \/>\nyang sehari suntuk bekerja berat<br \/>\ndan menanggung panas terik matahari.<br \/>\nTetapi tuan itu menjawab salah seorang dari mereka,<br \/>\n&#8216;Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu.<br \/>\nBukankah kita telah sepakat sedinar sehari?<br \/>\nAmbillah bagianmu dan pergilah.<br \/>\nAku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.<br \/>\nTidakkah aku bebas mempergunakan milikku<br \/>\nmenurut kehendak hatiku?<br \/>\nAtau iri hatikah engkau karena aku murah hati?&#8217;<\/p>\n<p>Demikianlah yang terakhir menjadi yang terdahulu<br \/>\ndan yang terdahulu menjadi yang terakhir.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************************************<\/p>\n<p>EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA ENDE<\/p>\n<p>SUKA MENGELUH SEHINGGA LUPA BERSYUKUR<\/p>\n<p>\u201cOrang yang suka mengeritik dan mengeluh tidak akan mempunyai waktu untuk bersyukur dan menikmati berkat-berkat Tuhan yang tercurah baginya.\u201d<\/p>\n<p>Para pekerja dalam kisah Injil hari ini tidak mensyukuri berkat yang mereka terima, tapi mengeluh: &#8220;Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.&#8221; ( ayat 12 )<\/p>\n<p>Karena itu Firman Tuhan hari ini memberikan beberapa inspirasi kepada kita:<\/p>\n<p>1) Perbiasakanlah jiwa dan mulutmu mengucapkan syukur atas semua yang Anda alami teristimewa untuk nafas hidup yang Tuhan masih berikan kepadamu;<\/p>\n<p>2) Padamkanlah keinginan dan iri hati yang muncul karena keberhasilan dan rezeki orang lain yang lebih darimu;<\/p>\n<p>3) Percayalah bahwa Tuhan tak pernah memberimu kekurangan, karena Ia selalu mencukupimu dengan rezeki dan berkat-Nya.<\/p>\n<p>Ingatlah bahwa doa terbaik adalah ucapan syukur kepada Tuhan karena Ia tahu yang terbaik bagi mereka yang percaya dan berserah kepada-Nya.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas untuk para sahabat.<\/p>\n<p>Salam, doa dan berkatku ( + ) untuk semua.<br \/>\n( Dari: Mgr. Inno Ngutra : Minnong &#8211;\u00a0Duc\u00a0in\u00a0Altum\u00a0)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 21 Agustus 2024 Matius 20:11-13 (Mat 20:1-16) Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-57498","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/57498","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=57498"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/57498\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57499,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/57498\/revisions\/57499"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=57498"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=57498"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=57498"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}