{"id":5730,"date":"2015-08-29T11:09:38","date_gmt":"2015-08-29T04:09:38","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=5730"},"modified":"2015-08-29T11:09:38","modified_gmt":"2015-08-29T04:09:38","slug":"terdesak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=5730","title":{"rendered":"TERDESAK"},"content":{"rendered":"<p>TERDESAK<\/p>\n<p>(Kontemplasi Peradaban)<\/p>\n<p>\u201cCarthago delenda\u201d \u2013 Carthago harus dimusnahkan.<\/p>\n<p>Beberapa hari yang lalu, ada seseorang bercerita, \u201cTadi malam, saya dikejar anjing herder. Lantas saya memanjat tembok yang tinggi sekali. Paginya, saya melihat tembok itu dan astaga, ternyata tembok itu tingginya \u00b1 2 meter.\u201d Dia heran sendiri, kenapa mampu memanjat tembok setinggi itu dan yang pasti jika tidak karena tidak terdesak atau terpojok tentu tidak mampu memanjatnya.<\/p>\n<p>Inilah yang memotivasi munculnya buku yang berjudul, \u201cThe Power of Kepepet\u201d tulisan Jaya Setiabudi. Kepepet artinya terpojok, terdesak sehingga mau tidak mau harus bertindak dengan cepat. Untuk para wartawan, mungkin kenal dengan masa tenggat atau deadline. Seringkali ketika waktu longgar, otak malah buntu, tetapi jika seorang wartawan terpojok, kepepet atau terdesak , maka seolah-olah otak terbuka dan ide pun mengalir. Inilah yang oleh Stephen Covey (1932 \u2013 2012) dalam bukunya yang berjudul, \u201cThe Seven Habits of Highly Effective People\u201d tentang kuadran penting dan mendesak (important and urgent). Kalau kepepet (terdesak dan terpojok), maka kita bisa melakukan secara maksimal, seperti yang dikisahkan oleh Aesop (620 \u2013 564 seb.M) pendongeng Yunani Kuno, \u201cThe Hare and Hound\u201d. Anjing mengejar kelinci untuk santapan siang, namun tidak bisa menangkapnya karena kelinci bisa meloloskan diri dan masuk ke liang. Lalu, temannya berkata, \u201cHai sahabat, mengapa engkau kalah dengan kelinci tadi siang?\u201d Jawab anjing, \u201cOh kelinci itu berlari demi nyawanya, sedangkan saya mengejarnya untuk makan siang.\u201d Kemendesakan (urgency) tentu sangat berkaitan dengan mati dan hidup.<\/p>\n<p>Dan ini mengingatkan saya tentang kisah Hannibal (247 \u2013 187 seb.M ). Hannibal berpidato, \u201cKalian menghadapi musuh yang jauh lebih kuat. Kalian berada bermil-mil dari rumah, di wilayah musah dan tidak mungkin ke mana-mana lagi \u2013 dalam pengertian tertentu, kalian sama dengan tahanan. Pilihannya hanyalah kebebasan atau perbudakan, kemenangan atau maut.\u201d Hannibal, seorang genius perang, berpikir bahwa orang yang terdesak dan dalam situasi yang paling lemah akan menjadi ganas ketika kekalahan berarti maut. Namun, mereka juga memunyai kesempatan untuk bergabung dengan pasukan Kartago untuk meluluhlantakkan bangsa Romawi yang mereka benci. Para pebisnis atau karyawan kantor tentu memiliki target-target. Kalau ingin supaya hasilnya maksimal, baiklah jika kita menerapkan teori: Jaya Setiabudi, Aesop, Stephan Covey, maupun Hannibal, \u201cThe Power of Kepepet\u201d \u2013<\/p>\n<p>Kekuatan keterdesakan. Kamis, 27 Agustus 2015 Rm. Markus Marlon, MSC<\/p>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Rm. Markus Marlon, MSC &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TERDESAK (Kontemplasi Peradaban) \u201cCarthago delenda\u201d \u2013 Carthago harus dimusnahkan. Beberapa hari yang lalu, ada seseorang bercerita, \u201cTadi malam, saya dikejar anjing herder. Lantas saya memanjat tembok yang tinggi sekali. Paginya, saya melihat tembok itu&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4023,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-5730","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2015\/02\/IMG_1055.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5730","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5730"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5730\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5737,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5730\/revisions\/5737"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4023"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5730"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5730"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5730"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}