{"id":55904,"date":"2024-08-06T14:03:17","date_gmt":"2024-08-06T07:03:17","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=55904"},"modified":"2024-08-06T14:03:17","modified_gmt":"2024-08-06T07:03:17","slug":"selasa-06-agustus-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=55904","title":{"rendered":"Selasa, 06 Agustus 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 06 Agustus 2024<br \/>\nPesta Yesus menampakkan KemuliaanNya<br \/>\nMarkus 9:7 (Mrk 9:2-10)<br \/>\nMaka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: &#8220;Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.&#8221;<\/p>\n<p>Anak Terkasih Allah Bapa<\/p>\n<p>Kita hidup dalam situasi di mana dunia cenderung menilai seorang berdasarkan prestasi. Maka orang yang mendapatkan tempat teratas adalah mereka yang hebat, jago, luar biasa, pandai, atau para peraih angka 8-10. Saat semua prestasi ini hilang, orang menjadi seakan tak berarti, tak berharga, kehilangan harga diri, tak berguna. Lebih menyedihkan lagi, ia merasa hampa karena tak dicintai.<br \/>\n_Yesus mengalami semua pandangan duniawi ini khususnya saat Ia tergantung di atas kayu salib. Dia yang begitu dipuja puji karena hebatNya membuat mujizat, dihina bahkan dibantai dalam jalan salib yang penuh siksa. Pertanyaannya:<br \/>\nMengapa Yesus tetap bertahan?_<br \/>\nSemuanya karena Ia punya Allah Bapa yang begitu mencintaiNya. Bapa yang tidak menilai anakNya karena prestasi atau kehebatanmya, tapi karena Yesus adalah AnakNya yang terkasih. Relasi Bapa-Anak itulah segalanya. Oleh karena itu, apapun yang terjadi dan apapun perlakuan orang terhadapNya, dalam hati Yesus suara BapaNya selalu terdengar, \u201cEngkau adalah Anak yang Kukasihi.\u201d<br \/>\nAda dua kali suara dari langit ini terdengar. Yang pertama yakni ketika Yesus keluar dari air sesudah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Mrk 1:9-11), dan ke dua ketika Yesus menampakkan kemuliaanNya di atas gunung Tabor.<br \/>\nKalau kita simak, sesudah dibaptis di Sungai Yordan, Yesus digoda oleh Iblis di Padang Gurun. Yesus keluar sebagai pemenang. Dia sanggup menghadapi godaan.<br \/>\nSedangkan yang ke dua, yaitu ketika Yesus menampakkan kemuliaanNya di atas gunung Tabor. Sesudah dari gunung Tabor, Yesus harus mendaki gunung Golgota. Ia menghadapi siksa batin karena dihina dan dicaci serta dibunuh dengan keji. Namun Yesus tetap tabah dan bertahan karena suara BapaNya selalu menguatkan Dia, \u201cEngkau adalah Anak yang Kukasihi.\u201d<br \/>\nDalam Yesus, kitapun telah diangkat menjadi anak Allah. Kasih Allah adalah segalanya bagi kita. Silahkan dunia menilai dan berkata apapun tentang diri kita, tak usah tersanjung karena dipuji, atau terhina ketika direndahkan. Dengarlah bisikan lembut di hati, dalam keheningan doa, suara Bapa kita di surga berkata, \u201cEngkau adalah anak yang Kukasihi.\u201d<br \/>\nInilah kekuatan kita untuk terus melangkah pasti. Sampaikanlah juga ungkapan kasih ini kepada orang-orang yang kita cintai: Orangtua, anak-anak kita, pasangan, saudara dan sahabat. Mari saling menguatkan sebagai anak-anak kesayangan Allah.<\/p>\n<p>Selamat hari Selasa. Cinta Allah menguatkan kita\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 06 Agt 2024<br \/>\nSelasa Pekan Biasa XVIII<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 17:5c<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 9:2-10<br \/>\n************************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 17:5c<br \/>\nInilah Anak yang Kukasihi,<br \/>\nkepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 9:2-10<br \/>\nInilah Anak yang Kukasihi.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa,<br \/>\nYesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes,<br \/>\ndan bersama-sama mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi.<br \/>\nDi situ mereka sendirian saja.<br \/>\nLalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka:<br \/>\nPakaian-Nya menjadi sangat putih berkilat-kilat.<br \/>\nTidak ada seorang pun di dunia ini<br \/>\nyang dapat mengelantang pakaian sampai seputih itu.<br \/>\nMaka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa,<br \/>\nkeduanya sedang berbicara dengan Yesus.<br \/>\nKata Petrus kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.<br \/>\nBaiklah kami dirikan tiga kemah,<br \/>\nsatu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.&#8221;<br \/>\nPetrus berkata demikian,<br \/>\nsebab ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya,<br \/>\nkarena mereka sangat ketakutan.<br \/>\nMaka datanglah awan menaungi mereka,<br \/>\ndan dari dalam awan itu terdengar suara,<br \/>\n&#8220;Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.&#8221;<br \/>\nDengan sekonyong-konyong, waktu memandang sekeliling,<br \/>\nmereka tidak lagi melihat seorang pun bersama mereka,<br \/>\nkecuali Yesus seorang diri.<br \/>\nPada waktu mereka turun dari gunung itu,<br \/>\nYesus berpesan kepada mereka,<br \/>\nsupaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun<br \/>\napa yang telah mereka lihat itu,<br \/>\nsebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.<br \/>\nMereka memegang pesan tadi<br \/>\nsambil mempersoalkan di antara mereka<br \/>\napa yang dimaksud dengan &#8216;bangkit dari antara orang mati.&#8217;<br \/>\nDemikanlah sabda Tuhan.<br \/>\n***************************************<\/p>\n<p>EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA KOTA SAUMLAKI, BUMI DUAN LOLAT, TANIMBAR<\/p>\n<p>BAHAGIA BERSAMA YESUS<\/p>\n<p>\u201cBerbahagialah jiwa yang setia memelihara Yesus di dalam hatinya di dunia ini, karena sesungguhnya jiwa yang sama akan mengalami keselamatan kekal bersama-Nya dalam keabadian.\u201d<\/p>\n<p>Pengalaman puncak kebahagiaan itu dialami oleh ketiga murid yang diajak Yesus ke puncak gubung Tabor dan melihat serta mengalami kemuliaan-Nya seperti yang dikisahkan dalam Injil hari ini: \u201cKata Petrus kepada Yesus: &#8220;Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.\u201d( ayat 5 )<\/p>\n<p>Karena itu Firman Tuhan hari ini memberikan beberapa inspirasi kepada kita:<\/p>\n<p>1) Tetap pelihara Yesus di dalam hatimu selama hidup terberi kepadamu;<\/p>\n<p>2) Temukanlah saat-saat indah bersama Yesus melalui doa, misa Kudus, pun dalam diri sesama yang miskin dan menderita;<\/p>\n<p>3) Jangan gadaikan atau jual imanmu untuk mendapatkan kepuasan harta duniawi yang hanya bersifat sementara.<\/p>\n<p>Akhirnya jiwa yang memiliki Yesus akan bahagia walaupun ia berada di dalam kesulitan dan penderitaan.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas untuk para sahabat.<\/p>\n<p>Salam, doa dan berkatku ( + ) untuk semua.<br \/>\n( Dari: Mgr. Inno Ngutra : Minnong &#8211;\u00a0Duc\u00a0in\u00a0Altum\u00a0)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 06 Agustus 2024 Pesta Yesus menampakkan KemuliaanNya Markus 9:7 (Mrk 9:2-10) Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: &#8220;Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.&#8221; Anak Terkasih&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-55904","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/55904","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=55904"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/55904\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":55905,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/55904\/revisions\/55905"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=55904"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=55904"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=55904"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}