{"id":54069,"date":"2024-07-19T08:46:07","date_gmt":"2024-07-19T01:46:07","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=54069"},"modified":"2024-07-19T08:46:07","modified_gmt":"2024-07-19T01:46:07","slug":"jumat-19-juli-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=54069","title":{"rendered":"Jumat, 19 Juli 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 19 Juli 2024<br \/>\nMatius 12:7 (Mat 12:1-8)<br \/>\n\u201cYang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan\u201d<\/p>\n<p>Cinta Tahu Kapan Harus Melanggar Aturan<\/p>\n<p>Di masa lalu ketika becak masih diijinkan beroperasi, di Makassar ada sebuah keluarga yang tidak mengijinkan anak gadis mereka yang masih kecil naik becak sendirian. Harus ada yang menemani.<br \/>\nSuatu ketika, sepulang sekolah, ia tidak menemukan mamanya di rumah. Ternyata ia mendapat kabar mamanya masuk rumah sakit. Tanpa peduli dengan aturan keluarga untuk tidak naik becak sendirian, iapun memanggil becak dan pergi ke rumah sakit mencari ibunya. Ketika ibunya tahu bahwa anaknya naik becak untuk menjenguk dia, bukannya marah, si ibu malah terharu dan memeluk anaknya dengan penuh kasih.<br \/>\nCinta tahu kapan harus melanggar aturan. Yesus melanggar aturan Sabat, karena belaskasihNya untuk murid-muridNya yang perlu mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.<br \/>\nOrang-orang Farisi yang sangat kaku dalam menerapkan aturan Sabat tentu tidak setuju. Mereka menegur Yesus yang membiarkan ulah murid-muridNya memetik gandum pada hari itu. Yesus-pun mengingatkan mereka agar lebih mengutamakan cintakasih daripada sekedar mengikuti formalitas suatu aturan tanpa ada semangat kasih di balik aturan itu.<br \/>\nPerut yang lapar perlu diisi agar tidak sakit dan kekurangan energi. Seorang ibu miskin yang mencuri roti karena kasihan pada anaknya yang menanngis kelaparan, tentu berbeda niatnya dengan orang yang sengaja mencuri uang atau korupsi karena nafsu serakahnya.<br \/>\nKiranya pesan Yesus hari ini memberi kita hikmat kebijaksanaan untuk selalu mempunyai motif cintakasih dalam mengambil keputusan dan bertindak. Semoga Sabda Allah menjadi hati nurani kita, agar semakin menyerupai Yesus dalam bertindak: yakni selalu terdorong oleh belaskasih.<\/p>\n<p>Selamat hari Jumat, hari belaskasih.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 19 Jul 2024<br \/>\nJumat Pekan Biasa XV<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 10:27<br \/>\nBacaan Injil: Mat 12:1-8<br \/>\n************************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 10:27<br \/>\nDomba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan.<br \/>\nAku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 12:1-8<br \/>\nAnak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Pada suatu hari Sabat,<br \/>\nYesus dan murid-murid-Nya berjalan di ladang gandum.<br \/>\nKarena lapar<br \/>\nmurid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.<\/p>\n<p>Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu<br \/>\nyang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.&#8221;<\/p>\n<p>Tetapi Yesus menjawab,<br \/>\n&#8220;Tidakkah kalian baca apa yang dilakukan Daud,<br \/>\nketika ia dan para pengikutnya lapar?<br \/>\nIa masuk ke dalam bait Allah,<br \/>\ndan mereka semua makan roti sajian<br \/>\nyang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam.<br \/>\nAtau tidakkah kalian baca dalam kitab Taurat,<br \/>\nbahwa pada hari-hari Sabat,<br \/>\nimam-imam melanggar hukum Sabat di dalam bait Allah,<br \/>\nnamun tidak bersalah?<br \/>\nAku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi bait Allah.<\/p>\n<p>Seandainya kalian memahami maksud sabda ini,<br \/>\n&#8216;Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,&#8217;<br \/>\ntentu kalian tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah.<br \/>\nSebab Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n*************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cYang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,\u201d (Mat 12: 7).<\/p>\n<p>Orang-orang Farisi menganggap para rasul tidak taat pada hukum Taurat. Bahkan, para murid \u201ctertangkap basah\u201d melanggar hukum Taurat. &#8220;Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.&#8221;<\/p>\n<p>Yesus membela para murid-Nya. Alih-alih memilih penafsiran yang sempit dan kaku terhadap hukum Taurat, Ia memberikan penafsiran yang cerdas terhadap hukum Taurat. Pikiran Kristus sama sekali tidak sempit dan legalistik. Ia tidak takut untuk mengkritik cara-cara keselamatan yang ditampilkan oleh para pemimpin Yahudi pada zamannya sebagai sesuatu yang mutlak. Yesus mengemukakan pandangannya dengan menggunakan empat argumen yang berbeda, tiga di antaranya diambil dari hukum Taurat.<\/p>\n<p>Pertama, Daud melanggar aturan peribadatan ketika ia makan roti yang hanya diperuntukkan bagi para imam, dengan alasan bahwa dia dan para pengikutnya lapar. Yesus menegaskan bahwa Daud benar! Kelangsungan hidup lebih penting di mata Allah daripada peraturan peribadatan. Kedua, para imam yang dipercayakan untuk melayani di Bait Allah melakukan segala macam pekerjaan kasar di hari Sabat untuk mempersiapkan korban atau mencuci peralatan yang digunakan untuk beribadah. Ketiga, nabi Hosea menulis, \u201cYang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,\u201d (Hosea 6:6). Dengan sabda nabi, Yesus mengingatkan kita bahwa yang Allah inginkan adalah hati kita! Akhirnya, Yesus telah diberi kuasa penuh, &#8216;Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat&#8217;.<\/p>\n<p>Dalam kehidupan bersama dengan orang lain di dunia ini terkadang kita bisa menjadi legalistik dan merasa yang paling benar. Kita dapat menghakimi orang lain dengan kasar dan merasa bahwa orang lain tidak layak menerima belas kasih dan cinta Allah. Betapa mudahnya kita menjadi orang Farisi dan memilih untuk mengutuk.<\/p>\n<p>Paus Fransiskus berkata, \u201cKita harus menjadi contoh yang bersinar tentang kekuatan belas kasih untuk menyembuhkan luka, mengampuni kesalahan dan membawa keharmonisan dalam keluarga dan komunitas kita. Tidaklah mudah untuk mengembangkan aspek ini, terutama karena kita juga memiliki luka-luka. Tetapi itulah yang diharapkan dari kita sebagai umat Kerahiman Ilahi dan umat Kristiani.\u201d<\/p>\n<p>Semoga persembahan kita, ibadah kita, praktek-praktek kesalehan kita, sejalan dengan belas kasih kita.<\/p>\n<p>Terima kasih, Yesus, karena telah menunjukkan belas kasihan-Mu kepada kami. Semoga kami belajar untuk meneruskannya kepada saudara-saudari kami yang membutuhkan. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas hari ini. Mari hidupi belas kasih. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"il7ftm8z4r\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/belas-kasih-bukan-persembahan\/\">BELAS KASIH, BUKAN PERSEMBAHAN<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;BELAS KASIH, BUKAN PERSEMBAHAN&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/belas-kasih-bukan-persembahan\/embed\/#?secret=lbYAk2xie5#?secret=il7ftm8z4r\" data-secret=\"il7ftm8z4r\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 19 Juli 2024 Matius 12:7 (Mat 12:1-8) \u201cYang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan\u201d Cinta Tahu Kapan Harus Melanggar Aturan Di masa lalu ketika becak masih diijinkan beroperasi, di Makassar&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-54069","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/54069","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=54069"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/54069\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54070,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/54069\/revisions\/54070"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=54069"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=54069"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=54069"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}