{"id":52848,"date":"2024-07-06T09:53:36","date_gmt":"2024-07-06T02:53:36","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=52848"},"modified":"2024-07-06T09:53:41","modified_gmt":"2024-07-06T02:53:41","slug":"santo-kita-di-4-juli-seorang-vinsensian-anggota-ordo-ketiga-dominican","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=52848","title":{"rendered":"Santo Kita di 4 Juli &#8211; Seorang Vinsensian, Anggota Ordo Ketiga Dominican"},"content":{"rendered":"<p>Santo Kita di 4 Juli &#8211; Seorang Vinsensian, anggota ordo ketiga Dominican.<\/p>\n<p>Santo kita hari ini (4 Juli):<\/p>\n<p>Giorgio Frassati (Turino, Italia), seorang Vinsensian, anggota ordo ketiga Dominican.<\/p>\n<p>Pier Giorgio Frassati (PGF) lahir tahun 1901. Wafat tahun 1925 karena sakit polio dan kelelahan. Seorang pemuda energik, penulis giat di surat kabar, anggota sangat giat SSV atau Serikat Sosial St. Vincentius dan Paulo (1918) dan anggota Ordo ketiga Dominican (1920). Asal dari Torino, Italia (ada pabrik FIAT dan tim sepakbola Juventus). PGF penentang gigih fasisme Mussolini. Tahun 1981 makamnya dibuka, tubuh Pier Giorgio Frassati masih utuh sama sekali. Tahun 1990 dibeatifikasi JP II. Dan, tahun depan, 2025 akan dikanonisasi.<\/p>\n<p>Frassati seperti pemuda pada zamannya, seorang idealis, intelektual, mahasiswa teknik (calon Insinyur), sosialis, pegiat dan pelayan orang miskin, intelektual muda, pribadi dengan sense of humor yang tinggi, penentang politik fasis, olah ragawan, pecinta alam (pendaki gunung), seorang pendoa. Hidupnya mengesankan (pemuda).<\/p>\n<p>Saat bergabung dengan SSV (1918), Frassati berumur 17 tahun. 7 tahun berikutnya dia wafat karena kelelahan dan sakit polio. Italia pada tahun tahun itu berada dalam &#8220;episenter&#8221; kekacauan politik, ekonomi, sosial yang hebat. Perang dunia I (1914-1917) menghancurkan banyak sendi kehidupan. Di masa itu Turino punya seorang komunis-sosialis filosof terkenal (Antonio Gramsci) yang dipenjarakan oleh Mussolini. Untuk diketahui, Gramsci adalah &#8220;pencipta&#8221; terminologi &#8220;Orde Baru&#8221; yang diadopsi rezim sesudah zaman Sukarno. Orde Baru merupakan konsep filosofis terkait dengan &#8220;tatanan sosial politik ekonomi baru&#8221; (Gramsci). Gereja Katolik waktu itu mendapat tantangan hebat ideologi &#8220;kemodernan.&#8221; Paus Pius X (Giuseppe Sarto) mewajibkan semua biarawan\/Wati dan imam dan Uskup bersumpah melawan &#8220;kemodernan&#8221; (1910). Belum lama Rerum Novarum terbit (1891). Italia (dan Eropa) dilanda kekacauan politik ideologi, sosial, moral, ekonomi. Di zaman itu (1920-an) Hitler menerbitkan &#8220;Mein Kampf&#8221; (perjuanganku). Kehancuran ekonomi Eropa memaksa banyak orang Italia berimigrasi ke Amerika, Amerika Latin, dan Australia&#8230; dsb. Termasuk Italia. &#8220;Corleone&#8221; dari film &#8220;the Godfather&#8221; (novel Mario Puzzo) berasal dari periode ini. Sekedar untuk menggambarkan konteks susahnya zaman ini di Italia waktu itu.<\/p>\n<p>Giorgio Frassati bukan seorang pemuda yang tinggal diam, acuh tak acuh terhadap kekacauan masyarakat dan dunianya. Dia tidak melepaskan diri dari keyakinan untuk memberikan dirinya berguna dan berkontribusi kepada sesamanya. Usia yang masih muda, penuh energi, dia manfaatkan untuk studi, menulis, berkreasi, berdiskusi dengan teman temannya, melayani orang orang miskin sebagai anggota SSV yang tak pernah malas.<\/p>\n<p>Frassati menjadi sosok pemuda &#8220;yang bersemangat, giat, gembira, bersenda-gurau dengan teman-temannya juga, berdiskusi pemikiran intelektual, rajin menulis artikel, penentang politik ideologis fasisme&#8221; &#8230; Persis seperti pemuda yang menghirup konteks waktu itu. Oh iya, dia juga sempat jatuh cinta pada seorang gadis. Wajar juga.<\/p>\n<p>Frase yang kerap muncul dari tulisan tulisannya : &#8220;Charity is not enough. We need social reform&#8221;. Frase ini produk dari Rerum Novarum, dari konsep sosialis &#8230; Juga dari seorang filosof Torino waktu itu, Antonio Gramsci (1891-1937), yang sezaman dengan Giorgio Frassati.<\/p>\n<p>Berkat teladan Pier Giorgio Frassati, semoga banyak pemuda pemudi bersemangat menebar nilai nilai Injil dalam pelayanan kepada orang miskin. Selamat pesta pemuda Kudus, anggota sangat giat dari SSV Konferensi Torino, Italia.<\/p>\n<p>Giorgio Frassati mungkin contoh pemuda yang memadukan secara apik HATI yang melayani dengan giat orang miskin (cinta yang mendalam kepada Liyan yang kurang beruntung) dan AKAL BUDI yang menggumuli dan terlibat dalam diskusi intelektual, politik-ideologis, sosial (penentang gigih Fasisme) zamannya dengan rajin menulis menanggapi perkara perkara zamannya, dan PRIBADI yang gembira berdiskusi, mendaki gunung, bergembira senda-gurau dengan teman-temannya. Layaknya hati seorang pemuda yang &#8220;cakep&#8221;.<\/p>\n<p>Buona Festa. Ciao.<\/p>\n<p>(arm cm).<\/p>\n<p>Sumber Yakobis TV<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Santo Kita di 4 Juli &#8211; Seorang Vinsensian, anggota ordo ketiga Dominican. Santo kita hari ini (4 Juli): Giorgio Frassati (Turino, Italia), seorang Vinsensian, anggota ordo ketiga Dominican. Pier Giorgio Frassati (PGF) lahir tahun&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28971,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,2],"tags":[],"class_list":["post-52848","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-sekitar","category-tokoh","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ki.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/52848","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=52848"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/52848\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52850,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/52848\/revisions\/52850"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/28971"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=52848"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=52848"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=52848"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}