{"id":5196,"date":"2015-06-28T12:02:12","date_gmt":"2015-06-28T05:02:12","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=5196"},"modified":"2015-06-28T12:02:12","modified_gmt":"2015-06-28T05:02:12","slug":"korupsi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=5196","title":{"rendered":"KORUPSI"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_15_0_1_1435467495905_1194\" align=\"center\"><b id=\"yui_3_15_0_1_1435467495905_1199\"><span id=\"yui_3_15_0_1_1435467495905_1198\" style=\"text-decoration: underline;\">KORUPSI<\/span><\/b><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1435467495905_1196\" align=\"center\">(Kontemplasi Peradaban)<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div align=\"center\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div align=\"right\"><i><span style=\"font-size: medium;\">\u201cManungsa: menus-menus<\/span><\/i><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div align=\"right\"><i><span style=\"font-size: medium;\">\u00a0kakean dosa\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-size: medium;\">\u00a0\u2013 manusia kelihatannya<\/span><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div align=\"right\"><span style=\"font-size: medium;\">\u00a0bersih tetapi banyak dosa (Mutiara Kearifan Jawa).<\/span><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div align=\"right\"><span style=\"font-size: medium;\">\u00a0<\/span><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1435467495905_1109\">Ada sebuah kisah tentang seorang budak yang diangkat menjadi bendaharawan kerajaan. Tentu saja pengangkatan ini membuat iri hati para\u00a0<i>punggawa\u00a0<\/i>istana.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1435467495905_1114\">Setiap menjelang malam, bendaharawan itu masuk ruang bawah tanah tempat menyimpan harta karun. Kelakuan ini yang dicurigai oleh para menteri, sehingga menteri terdekat melapor kepada sang raja, \u201cYang mulia, setiap menjelang malam, bendaharawan itu senantiasa masuk ke ruang harta karun. Baik kalau sang raja mengikutinya!\u201d<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1435467495905_1180\">Sang\u00a0\u00a0raja pun heran dan mulai\u00a0<i>menguntit\u00a0<\/i>bendaharawan itu. Sang raja mengulik dari lubang kunci pintu dan terkejutlah ia terhadap apa yang dibuat orang kepercayaannya.\u00a0\u00a0Bendaharawan itu mulai duduk dan mengganti baju mewahnya dengan pakaian budak yang disimpannya dekat brangkas, \u201cTuhan, aku adalah budak dan sekarang diangkat raja menjadi orang kepercayaannya. Setiap menjelang istirahat aku datang kepada-Mu sebagai budak memohon supaya aku tidak gegabah dalam melangkah serta bertindak dengan jujur!\u201d Sang raja pun akhirnya berkata dalam hati, \u201cEngkaulah pilihanku dan aku bersyukur memiliki orang kepercayaan yang tahu siapa dirinya.\u201d<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1435467495905_1116\">Godaan harta memang sungguh nyata. Mungkin ketika seseorang masih muda, jiwanya masih idealis, ia memiliki cita-cita yang luhur. Tetapi setelah memegang jabatan birokrasi dan mengendalikan proyek, idealismenya itu pun mulai luntur.\u00a0<i>Radix omnium malorum est cupiditas<\/i>\u00a0\u2013 akar dari segala kejahatan ialah keserakahan ( 1 Tim 6: 10). Kalau dalam peribahasa Inggris sehari-hari kita mengenalnya dengan ungkapan,<i>\u201cMoney is the root of all evil\u201d\u00a0\u00a0<\/i>\u2013 Uang adalah akar segala kejahatan. Sebenarnya bukan uang itu sendiri yang jahat, melainkan kecintaan yang berlebihan pada uang dan nafsu untuk mendapatkannya yang dapat mendorong manusia melakukan tindak kejahatan.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1435467495905_1178\">Memang benar bahwa kebutuhan manusia itu tidak ada batasnya. Gaji sebesar apa pun masih kurang dan kurang. Dari sana lah mereka mudah untuk disuap. Erasmus (1466 \u2013 1635) memandang orang yang mudah disuap dengan istilah, \u201c<i>Bos in lingua\u201d\u00a0<\/i>\u2013 ada sapi dalam mulutnya.\u00a0\u00a0Ungkapan ini berasal dari bahasa Yunani. Pada zaman dulu, pada setiap uang logam selalu ada gambar sapi.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1435467495905_1118\">Penyuapan dan korupsi sungguh marak di Indonesia, bahkan sudah dinamakan sebagai patologi sosial (penyakit sosial). Yang jelek lagi ada ungkapan bahwa korupsi itu sudah membudaya dan sangat sulit untuk diberantas. Kebobrokan dari mental para penguasa itu akhirnya yang menanggung rakyat. Ungkapan Latin yang dicetuskan oleh Horatius (65 \u2013 8 seb.M), \u201c<i id=\"yui_3_15_0_1_1435467495905_1176\">Quidquid delirant reges plectuntur Achivi\u201d\u00a0<\/i>\u00a0\u2013 Apa saja perbuatan gila dari para penguasa, maka rakyat Yunani-lah yang tertimpa hukumannya,\u00a0\u00a0artinya rakyatlah yang akan selalu menanggung akibat buruk dari kegilaan penguasa.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_15_0_1_1435467495905_1175\">Ketika kita mendengar berita tragis tentang penangkapan para koruptor, di sana diberitakan, \u201cNegara mengalami kerugian uang sekian miliar rupiah atau sekian triliun rupiah\u2026\u201d Tentu saja rakyat menjadi geram katas perbuatan para penguasa tersebut. Itulah sebabnya, pembangunan infrastruktur atau dana-dana yang seharusnya diberikan kepada rakyat di-<i>tilep<\/i>\u00a0oleh para koruptor. Para koruptor itu berfoya-foya di atas penderitaan orang miskin.\u00a0\u00a0Namun seorang sastrawan yang bernama Juvenalis (60 \u2013 140)\u00a0\u00a0berkata, \u201c<i>Nemo malus felix<\/i>\u00a0\u2013 tidak ada orang jahat yang bahagia. Kita bisa membayangkan bagaimana sang koruptor dan keluarganya ketika menyaksikan pemberitaan tentang dirinya yang mengenakan rompi\u00a0<i>orange\u00a0<\/i>dengan tulisan, \u201cTahanan KPK\u201d. Tentu saja dirinya dan keluarganya menjadi sedih dan malu.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8019\">Korupsi sudah menjadi patologi sosial yang sudah kronis, istilahnya sulit untuk diberantas. Tugas KPK amat sangat berat, bahkan ada indikasi untuk \u201cmelemahkan<i>power<\/i>\u00a0\u00a0KPK\u201d\u00a0\u00a0misalnya dengan menghilangkan \u201cpenyadapan\u201d yang merupakan jantung KPK. Pemberantas korupsi diperlukan \u201corang-orang yang kuat\u201d, tahan godaan bahkan berani mati.\u00a0\u00a0Ovidius (43 seb.M \u2013 17 M) mengatakan bahwa orang-orang yang memerangi kejahatan seyogianya memiliki jiwa yang berani, \u201c<i id=\"yui_3_15_0_1_1435467495905_1121\">Mens interrita leti\u201d<\/i>\u00a0\u2013 jiwa yang tidak gentar akan kematian.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8022\">Saat ini peran media sangat bagus untuk menjadi kontrol sosial. Tertangkapnya para koruptor dan\u00a0\u00a0yang diberitakan di media massa maupun media elektronik bertutujuan untuk membuat para koruptor jera (efek jera). Para koruptor ini memiliki mental \u201cselalu kurang\u201d yang oleh Horatius (65 \u2013 8 seb.M) dipandang dengan ungkapan, \u201c<i id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8035\">Multa petentibus desunt multa\u201d<\/i>\u00a0\u2013 mereka yang banyak menuntut adalah mereka yang kekurangan banyak. Mungkin baik, jika para koruptor itu bersikap seperti kisah budak yang menjadi bendaharawan tadi,\u00a0<i id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8036\">\u201cNihil habendi nihil deest\u201d<\/i>\u00a0\u2013 yang tidak memiliki apa-apa, tidak akan kekurangan sesuatu.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\" id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8027\"><i>Sabtu, 27 Juni 2015<\/i><b id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8026\">\u00a0\u00a0 Rm.\u00a0Markus Marlon, MSC<\/b><\/p>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8049\"><b id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8026\">\u00a0<\/b><\/div>\n<div><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8013\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-1594620431yui_3_16_0_1_1435378527582_8045\">+ Sudah dipublikasikan di Sinar Harapan \u2013 Sabtu, 27 Juni 2015<\/div>\n<div>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Rm. Markus Marlon, MSC &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KORUPSI (Kontemplasi Peradaban) \u201cManungsa: menus-menus \u00a0kakean dosa\u201d\u00a0\u2013 manusia kelihatannya \u00a0bersih tetapi banyak dosa (Mutiara Kearifan Jawa). \u00a0 Ada sebuah kisah tentang seorang budak yang diangkat menjadi bendaharawan kerajaan. Tentu saja pengangkatan ini membuat iri&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3251,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-5196","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/dekor-ultah.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5196","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5196"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5196\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5197,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5196\/revisions\/5197"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3251"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5196"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5196"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5196"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}