{"id":51179,"date":"2024-06-18T12:04:10","date_gmt":"2024-06-18T05:04:10","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=51179"},"modified":"2024-06-18T12:04:10","modified_gmt":"2024-06-18T05:04:10","slug":"selasa-18-juni-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=51179","title":{"rendered":"Selasa, 18 Juni 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 18 Juni 2024<br \/>\nMatius 5:48 (Mat 5:43-48)<br \/>\n\u201dKarena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.&#8221;<\/p>\n<p>Tak Perlu Sempurna?<\/p>\n<p>Kita selalu mendengar ungkapan ini: \u201cno body perfect\u201d (tidak ada manusia yang sempurna). Oleh karena itu orang merasa tak perlu mengejar kesempurnaan. Biasa-biasa jo, kata orang Manado. Tidak perlu menggapai lebih dari rata-rata.<br \/>\nOleh semangat pas-pasan ini, kita jadi cepat sekali memaafkan diri atas kelalaian-kelalaian, capaian yang minimal, kerja pas-pasan dan mencintai seadanya. Toh tidak ada yang sempurna.<br \/>\nDengan berkata, \u201charuslah kamu sempurna\u201d bukan berarti Yesus meminta kita menjadi seorang perfeksionis yang tidak bisa menerima kekurangan dan kegagalan. Yesus menghendaki kita sempurna dalam hal cintakasih dan kemurahan hati. Agar kita keluar dari zona nyaman yang berpusat pada diri sendiri, dan memaksimalkan semua talenta dan potensi diri yang telah Tuhan berikan agar kita dapat memberi yang terbaik.<br \/>\nYesus mencintai kita dengan sempurna. Ia telah mengosongkan diri agar hidup kita penuh melimpah. Ia menjadi miskin agar kita menjadi kaya oleh kasih karunia Allah. Totalitas cinta yang sama mari kita berikan sebagai tanda cinta dan bakti kita pada Allah Bapa. Bahagia dan sukacita kita yang sesungguhnya ialah ketika kita semakin menyerupai Yesus dalam totalitas kasih yakni sampai sehabis-habisnya memberi diri.<br \/>\nDi pihak lain, bila kita merasa berkekurangan dan belum sempurna, janganlah berhenti belajar, berikhtiar dan berupaya mengembangkan diri. Percayalah kita bisa produktif seberapapun usia kita dan mampu memberi yang terbaik dari keterbatasan kita. Kita dapat menjadi pendoa bagi sesama, dan saksi kebaikan Tuhan melalui semangat hidup dan kasih yang tak pernah pudar. Dengan demikian kita terus menjadi saluran berkat Tuhan yang sempurna di balik ketidaksempurnaan kita.<\/p>\n<p>Selamat hari Selasa. Tetaplah semangat, tak jemu berusaha. Yesus selalu menolong.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 18 Jun 2024<br \/>\nSelasa Pekan Biasa XI<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 13:34<br \/>\nBacaan Injil: Mat 5:43-48<br \/>\n****************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 13:34<br \/>\nPerintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan.<br \/>\nKasihilah sesama sebagaimana Aku mengasihi kamu.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 5:43-48<br \/>\nKasihilah musuh-musuhmu.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata,<br \/>\n&#8220;Kalian telah mendengar bahwa disabdakan,<br \/>\n&#8216;Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu.&#8217;<br \/>\nTetapi Aku berkata kepadamu, &#8216;Kasihilah musuh-musuhmu,<br \/>\ndan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kalian.&#8217;<br \/>\nKarena dengan demikian<br \/>\nkalian menjadi anak-anak Bapamu yang di surga.<br \/>\nSebab Ia membuat matahari-Nya terbit bagi orang yang jahat,<br \/>\ndan juga bagi orang yang baik.<br \/>\nHujan pun diturunkan-Nya bagi orang yang benar<br \/>\ndan juga bagi orang yang tidak benar.<\/p>\n<p>Apabila kalian mengasihi orang yang mengasihi kalian,<br \/>\napakah upahmu?<br \/>\nBukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?<br \/>\nDan apabila kalian hanya memberi salam kepada saudaramu saja,<br \/>\napakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain?<br \/>\nBukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?<br \/>\nKarena itu kalian harus sempurna<br \/>\nsebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cHaruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna,\u201d [Mat 5: 48]<\/p>\n<p>Kutipan di atas merupakan penutup kotbah Yesus di bukit. Tujuan yang tidak gampang untuk dicapai. Ia ingin agar kita mengasihi seperti Bapa.<\/p>\n<p>Yesus menantang kita untuk mengasihi tanpa batas. Dia berkata, &#8220;Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.&#8221; Mengasihi mereka yang menyebabkan kita menderita, menunjukkan kebaikan bahkan kepada mereka yang menentang kita tidaklah mudah.<\/p>\n<p>Tetapi mengapa? Mengapa kita harus mengasihi musuh kita? Yesus memberikan jawaban yang menarik: &#8220;Supaya kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga.&#8221; Kasih kita mencerminkan akar ilahi dan hubungan kekeluargaan kita; kita adalah anak-anak Allah! Seperti Bapa, yang memberkati semua orang dengan sinar matahari dan hujan baik bagi orang benar maupun tidak benar, kita, sebagai anak-anak-Nya, sudah seharusnya mengikuti Dia dengan menunjukkan kasih tanpa syarat.<\/p>\n<p>&#8220;Jadilah sempurna sebagaimana Bapamu yang di sorga adalah sempurna&#8221;. Menjadi sempurna bukanlah tentang penampilan, melainkan menghidupi kepenuhan kasih tanpa batas atau syarat. Yesus juga memberikan tiga panduan praktis untuk menghidupi kasih tanpa batas ini.<\/p>\n<p>Pertama, berdoalah bagi mereka yang berbuat salah kepada Anda. Dengan tulus mintalah berkat dan pengertian. Doa mengubah pandangan kita dan menghubungkan kita dengan hati Tuhan.<\/p>\n<p>Kedua, lakukanlah kebaikan: berbuatlah lebih dari yang biasa. Berikan kejutan kepada mereka yang menentang Anda dengan kebaikan yang tak terduga, seperti senyuman, bantuan, atau kata-kata dukungan. Tunjukkan kepada mereka kasih yang sama seperti yang Anda tunjukkan kepada diri Anda sendiri.<\/p>\n<p>Ketiga, pengampunan: ini adalah dasar dari kasih yang tak terbatas. Lepaskanlah kebencian. Pilihlah untuk mengampuni karena kasih, bukan karena kewajiban. Mari kita berusaha semakin serupa dengan Bapa Ilahi kita dengan mengasihi tanpa batas.<\/p>\n<p>Bapa yang Maha Pengasih dan Penyayang, berilah aku anugerah untuk menjadi semakin serupa dengan-Mu setiap hari. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas hari ini. Mari berusaha semakin serupa dengan Bapa. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"MT4W4Y93o0\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/kasih-tanpa-batas-2\/\">KASIH TANPA BATAS<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;KASIH TANPA BATAS&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/kasih-tanpa-batas-2\/embed\/#?secret=WB0duwuLaz#?secret=MT4W4Y93o0\" data-secret=\"MT4W4Y93o0\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 18 Juni 2024 Matius 5:48 (Mat 5:43-48) \u201dKarena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.&#8221; Tak Perlu Sempurna? Kita selalu mendengar ungkapan ini: \u201cno body perfect\u201d&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-51179","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/51179","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=51179"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/51179\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":51180,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/51179\/revisions\/51180"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=51179"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=51179"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=51179"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}