{"id":51125,"date":"2024-06-17T08:02:01","date_gmt":"2024-06-17T01:02:01","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=51125"},"modified":"2024-06-17T08:02:01","modified_gmt":"2024-06-17T01:02:01","slug":"senin-17-juni-2024-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=51125","title":{"rendered":"Senin, 17 Juni 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 17 Juni 2024<br \/>\nMatius 5:38-39 (Mat 5:38-42)<br \/>\n\u201dKamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.\u201d<\/p>\n<p>Latihan Menjadi Orang Yang Istimewa<\/p>\n<p>Apa yang diajarkan Yesus bagi para pengikutNya sungguh kontroversial dan tidak sejalan dengan aturan dunia. Bahkan sangat ekstrim dan radikal. Tak ada yang berani mengajarkan \u201cbila ditampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Bila dipaksa berjalan 1 mil, berjalanlah 2 mil.\u201d<br \/>\nTentu bukanlah maksud Yesus untuk membuat kita menderita karena menjadi pecundang atau berada di pihak yang kalah. Justru sebaliknya, Yesus melatih kita menjadi pemenang! Tidak tunduk pada hukum dunia, dan tidak menyerah pada hawa nafsu balas dendam. Saat kita dihina, dilecehkan, ditampar, diperas, dipaksa, inilah kesempatan bagi kita untuk menjadi serupa dengan Yesus yang mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, menghancurkan kebencian dengan cintakasih, mengosongkan diri untuk diisi sepenuhnya dengan gelora cintakasih.<br \/>\nAlhasil, hati kita terasa damai, jiwa tenteram, pikiran tenang, hidup penuh kedamaian dan sukacita. Inilah latihan kehidupan yang menghasilkan orang-orang yang istimewa, pasukan khusus putra putri Kerajaan Allah. Bukankah yang disebut pasukan khusus adalah mereka yang dilatih secara ekstrim? Bagi kita latihan untuk menjadi ekstrim dan radikal dalam kebaikan dan cintakasih!<br \/>\nPastilah tidak mudah dan perlu perjuangan serta pengorbanan. Mari kita mohon agar Yesus membantu kita.<br \/>\n\u201dYa Yesus kuatkan hati kami agar mampu menjadi seperti Engkau. Kami penuh dengan kerapuhan dan kelemahan, ingin selalu membalas dendam. Utuslah Roh KudusMu dan kobarkanlah cinta yang tulus dalam hati kami untuk mengalah dan mengampuni, berusaha selalu berbuat baik dan menjadi pembawa damai.\u201d<\/p>\n<p>Semangat Senin, semangat kasih yang tulus.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 17 Jun 2024<br \/>\nSenin Pekan Biasa XI<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 119:105<br \/>\nBacaan Injil: Mat 5:38-42<br \/>\n*****************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 119:105<br \/>\nSabda-Mu adalah pelita bagi kakiku,<br \/>\ndan cahaya bagi jalanku.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 5:38-42<br \/>\nJanganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata,<br \/>\n&#8220;Kalian mendengar, bahwa dahulu disabdakan,<br \/>\n&#8216;Mata ganti mata; gigi ganti gigi.&#8217;<br \/>\nTetapi Aku berkata kepadamu,<br \/>\n&#8216;Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.<br \/>\nSebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu,<br \/>\nberilah pipi kirimu.<br \/>\nBila orang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu,<br \/>\nserahkanlah juga jubahmu.<br \/>\nBila engkau dipaksa mengantarkan seseorang berjalan<br \/>\nsejauh satu mil,<br \/>\nberjalanlah bersama dia sejauh dua mil.<br \/>\nBerikanlah kepada orang apa yang dimintanya,<br \/>\ndan jangan menolak orang<br \/>\nyang mau meminjam sesuatu dari padamu.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<\/p>\n<p>***********************************<br \/>\n  \u210d <\/p>\n<p>\u201cKamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu\u2026..\u201d (Mat 5: 38 \u2013 39)<\/p>\n<p>Sering kali, saat kita tersakiti, kita merasa perlu untuk secara pribadi melihat bahwa orang yang menyakiti kita itu membayar luka yang mereka sebabkan. Tapi dalam prosesnya, saat kita ingin membalas dendam, kita justru merasa tidak bebas dan tidak bahagia. Dan yang lebih menyakitkan adalah bahwa, orang yang menyakiti kita itu bahkan tidak menyadari perasaan kita. Dia tenang-tenang saja, happy-happy saja dan karena itu kita semakin merasa tersakiti. Ungkapan ini mungkin berguna bagi kita: &#8220;Jika kita membalas kebaikan dengan kejahatan, kita jahat seperti iblis. Jika kita membalas kebaikan dengan kebaikan itu manusiawi. Jika kita membalas kejahatan dengan kebaikan, maka kita semakin menyerupai Tuhan.&#8221;<\/p>\n<p>Yesus mengundang kita untuk menjadi lebih manusiawi dengan melampaui insting kita untuk membalas dendam dan hidup sesuai dengan martabat kita sebagai anak-anak Allah. Memang, itu tidak selalu mudah. Di mana-mana, di sekitar kita, di media sosial, bahkan di lingkungan Gereja kita jumpai orang yang membenci dan menjahati kita. Tapi itulah satu-satunya jalan menuju kehidupan dan kebahagiaan.<\/p>\n<p>Yesus memberikan sebuah standar baru yang didasarkan bukan hanya pada keadilan, yaitu memberi setiap orang sesuai haknya, namun berdasarkan hukum rahmat dan kasih.<\/p>\n<p>Suatu ketika, dua orang rahib tinggal di sebuah gua. Sudah lebih dari sepuluh tahun mereka tinggal di sana. Rahib yang pertama mulai bosan dengan rutinitas sehari-hari. Jadi dia punya usul kepada temannya: &#8220;Ayo, kita lakukan apa yang dunia lakukan.&#8221; Temannya menjawab: &#8220;Apa itu?&#8221; &#8220;Baiklah, mari kita bertengkar,&#8221; kata yang pertama. &#8220;Tapi bagaimana kita mulai bertengkar?&#8221; tanya rahib yang lain. Yang pertama menjelaskan: &#8220;Baiklah, ini ada sebuah batu. Mari kita mulai, mengklaim bahwa batu ini MILIKKU! &#8220;Rahib yang kedua itu diam sejenak, mengingat persahabatan mereka berdua serta semua yang telah mereka alami ia berkata: &#8220;Baiklah, saudaraku, jika batu itu ada milikmu, ambillah.&#8221; Dan sekali lagi tercipta kedamaian di dalam gua itu.<\/p>\n<p>Tuhan, jauhkanlah dariku segala keinginan untuk membalas dendam dan menyakiti orang yang bersalah kepadaku. Berikanlah kepadaku roh yang benar dan teguh saat aku menaruh kepercayaan kepada-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat memasuki pekan yang baru. Mari kita putus rantai dendam. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"qM5OO73hbR\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/patahkan-belenggu-dendam\/\">PATAHKAN BELENGGU DENDAM<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;PATAHKAN BELENGGU DENDAM&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/patahkan-belenggu-dendam\/embed\/#?secret=c7ZJFDdBnJ#?secret=qM5OO73hbR\" data-secret=\"qM5OO73hbR\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 17 Juni 2024 Matius 5:38-39 (Mat 5:38-42) \u201dKamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-51125","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/51125","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=51125"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/51125\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":51126,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/51125\/revisions\/51126"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=51125"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=51125"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=51125"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}