{"id":50860,"date":"2024-06-13T08:47:56","date_gmt":"2024-06-13T01:47:56","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=50860"},"modified":"2024-06-13T08:47:56","modified_gmt":"2024-06-13T01:47:56","slug":"kamis-13-juni-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=50860","title":{"rendered":"Kamis, 13 Juni 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nKamis 13 Juni 2024<br \/>\nMatius 5:23-24 (Mat 5:20-26)<br \/>\n\u201dJika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.\u201d<\/p>\n<p>Seperti Kamipun Mengampuni Yang Bersalah Pada Kami<\/p>\n<p>Inilah janji kita kepada Bapa di surga ketika kita berdoa \u2018Bapa Kami\u2019 dan memohon ampun atas dosa kita.<br \/>\nBerdamai dengan sesama kiranya menjadi kebiasaan kita agar tidak terus menerus menyimpan dendam atau marah.<br \/>\nHati yang damai jauh lebih berarti dari melimpahnya persembahan yang kita bawa kepada Tuhan. Karena itu sebelum menghadap Tuhan, hendaklah kita memeriksa batin, apakah ada hal yang mengganjal di hati, adakah sikap kita yang membuat orang lain sakit hati atau terluka. Berdamai kembali atau rekonsiliasi adalah jalan yang ditunjuk Yesus agar hati kita damai, tidak menyimpan marah, dendam, benci dan pelbagai pikiran negatif terhadap orang lain.<br \/>\nJangan menganggap bahwa semua beres padahal ada ganjalan di hati, berarti orang itu berpura-pura. Tuhan yang tahu isi hati kita tentu saja kecewa, apalagi bila kita merasa benar sendiri. Cinta yang dalam selalu mampu memaafkan.<br \/>\n\u201dYa Yesus, anugerahkanlah kami semangat rendah hati agar kami selalu mau berdamai dan rela mengampuni. Bila kami telah terluka, sembuhkanlah hati kami dengan jamahan kasihMu. Semoga kami juga dapat saling menyembuhkan luka di hati kami. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat hari Kamis. Syalom, damai selalu di hati.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 13 Jun 2024<br \/>\nKamis Pekan Biasa X<br \/>\nPW S. Antonius dari Padua, Imam dan Pujangga Gereja<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 13:34<br \/>\nBacaan Injil: Mat 5:20-26<br \/>\n*******************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 13:34<br \/>\nPerintah baru Kuberikan kepada kalian, sabda Tuhan;<br \/>\nyaitu supaya kalian saling mengasihi,<br \/>\nsebagaimana Aku telah mengasihi kalian.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 5:20-26<br \/>\nBarangsiapa marah terhadap saudaranya, harus dihukum.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Dalam khotbah di bukit, berkatalah Yesus,<br \/>\n&#8220;Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar<br \/>\ndaripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi,<br \/>\nkalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.<\/p>\n<p>Kalian telah mendengar<br \/>\napa yang disabdakan kepada nenek moyang kita:<br \/>\nJangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.<br \/>\nTetapi Aku berkata kepadamu:<br \/>\nSetiap orang yang marah terhadap saudaranya, harus dihukum!<br \/>\nBarangsiapa berkata kepada saudaranya: &#8216;Kafir!&#8217;<br \/>\nharus dihadapkan ke Mahkamah Agama,<br \/>\ndan siapa yang berkata: &#8216;Jahil!&#8217;<br \/>\nharus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.<br \/>\nSebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah,<br \/>\ndan engkau teringat akan sesuatu<br \/>\nyang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,<br \/>\ntinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu<br \/>\ndan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu,<br \/>\nlalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.<\/p>\n<p>Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau<br \/>\nbersama-sama dengan dia di tengah jalan,<br \/>\nsupaya lawanmu jangan menyerahkan engkau kepada hakim,<br \/>\ndan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya,<br \/>\ndan engkau dilemparkan ke dalam penjara.<br \/>\nAku berkata kepadamu:<br \/>\nSesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana,<br \/>\nsebelum engkau membayar utangmu sampai lunas.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cOrang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala,\u201d (Mat 5: 22)<\/p>\n<p>Apakah kita tidak boleh marah? Ada yang mengatakan bahwa seorang yang marah karena alasan yang tepat, terhadap orang yang tepat, dengan cara yang tepat, pada saat yang tepat, dan durasinya juga tepat, patut mendapat pujian.<\/p>\n<p>Tetapi Yesus mengatakan, \u201cSiapa yang marah harus dihukum.\u201d Tentu Yesus tidak berbicara tentang kemarahan-Nya di bait Allah, atau kemarahan-Nya terhadap orang-orang Farisi dan ahli Taurat, tetapi kemarahan kita terhadap saudara-saudari kita yang sering kali muncul karena cinta diri, egoisme. Apalagi kemarahan yang dipelihara, dipupuk selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun\u2026.<\/p>\n<p>Apa penawar kemarahan? Belas kasih, kebaikan hati, dan pengampunan yang berasal dari hati yang penuh kasih. Kita harus mengampuni dan berbelaskasih karena Allah telah mengampuni kita.<\/p>\n<p>Ada tips untuk mengatasi kemarahan, yaitu 3K:<\/p>\n<p>Pertama adalah Komunikasi. Jika ada kebencian, jika ada ganjalan, sakit hati, atau gejolak dalam hati, kita harus berbicara. Bicarakan perasaan anda dengan orang yang bersangkutan. Kita perlu membangun jembatan, bukan tembok pemisah.<\/p>\n<p>Kedua adalah Kompromi. Ini bukan berkompromi dengan kejahatan. Ini lebih merupakan usaha mencari titik temu, mencari jalan tengah di mana satu pihak dapat melepaskan dan yang lain juga dapat melepaskan sehingga ditemukan titik temu, tanpa mengorbankan moralitas dan kebenaran.<\/p>\n<p>Ketiga adalah Kontemplasi. Bila kita sudah menemukan titik temu, marilah kita melihat arah yang sama dan membawanya dalam doa.<\/p>\n<p>Tuhan, semoga kami bersama dapat mencari kehendak-Mu, saling menerima satu sama lain, saling menghormati kebebasan satu sama lain dan menjadi saksi kebaikan-Mu di manapun kami berada. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas hari ini. Mari saling mengampuni. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"53sWK1GTOJ\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/kemarahan-yang-merusak\/\">KEMARAHAN YANG MERUSAK<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;KEMARAHAN YANG MERUSAK&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/kemarahan-yang-merusak\/embed\/#?secret=vCEgahQDgC#?secret=53sWK1GTOJ\" data-secret=\"53sWK1GTOJ\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Kamis 13 Juni 2024 Matius 5:23-24 (Mat 5:20-26) \u201dJika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-50860","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/50860","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=50860"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/50860\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":50861,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/50860\/revisions\/50861"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=50860"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=50860"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=50860"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}