{"id":50353,"date":"2024-06-07T13:43:46","date_gmt":"2024-06-07T06:43:46","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=50353"},"modified":"2024-06-07T13:43:46","modified_gmt":"2024-06-07T06:43:46","slug":"jumat-07-juni-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=50353","title":{"rendered":"Jumat, 07 Juni 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 07 Juni 2024<br \/>\nHari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus<br \/>\nYohanes 19:34 (Yoh 19:31-37)<br \/>\nTetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.<\/p>\n<p>Hati Yesus Yang Terluka Bagi Kita<\/p>\n<p>Hari Jumat ke 3 sesudah Hari Raya Pentakosta, gereja merayakan Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus, untuk mengenang kasih Yesus yang rela mati di salib pada hari Jumat Agung.<br \/>\nDikisahkan dalam Injil bahwa pada waktu penyaliban Yesus, untuk memastikan bahwa Yesus sungguh mati, seorang prajurit Romawi menikam lambung Yesus hingga menembus jantungnya. Perbuatan keji ini, justru menjadi penggenapan atas nubuat tentang Yesus sebagai Anak Domba Paskah yang disembelih dan dikurbankan demi keselamatan manusia.<br \/>\nDarah Yesus menjadi darah perjanjian baru antara Allah dan manusia. Oleh darah Yesus yang tertumpah di kayu salib, dosa kita ditebus dan kita beroleh keselamatan abadi.<br \/>\nYesus telah bersabda, \u201cTidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.\u201d (Yoh 15:13). Perkataan ini telah dibuktikan Yesus dengan pengorbananNya di kayu salib.<br \/>\nApa kini balasan kita kepadaNya? Yesus meminta kita, \u201chendaknya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihimu.\u201d<br \/>\nBila Yesus mengasihi kita sampai mati pada saat kita masih berdosa, dan tanpa syarat, mengapa kita menaruh syarat untuk mengasihi orang lain hanya ketika ia bersikap baik terhadap kita? Mengapa kita mengasihi hanya teman yang seiman, atau sebatas keluarga sendiri?<br \/>\nBiarlah kasih Yesus menjadi nyata dalam diri kita para pengikutNya, agar dunia percaya, hati Yesus adalah lautan kasih bagi semua orang. Biarlah dunia menyaksikan bahwa Yesus hidup dan terus mencintai, lewat hati dan tindakan kasih kita yang tak henti mencintai sekalipun terluka, terus mengampuni sekalipun disakiti.<br \/>\n\u201dYa Yesus jadikanlah hati kami seperti hatiMu. Amin.\u201d<\/p>\n<p>Selamat Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus sekaligus hari Jumat pertama dalam bulan Juni.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 07 Jun 2024<br \/>\nJumat Hari Raya<br \/>\nWarna Liturgi: Putih<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mat 11:29ab<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 19:31-37<br \/>\n****************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMat 11:29ab<br \/>\nPikullah kuk yang Kupasang, sabda Tuhan,<br \/>\ndan belajarlah pada-Ku, Aku ini lemah lembut dan rendah hati.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 19:31-37<br \/>\nLambung Yesus terbuka, dan mengalirlah darah serta air keluar.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Hari Yesus wafat adalah hari persiapan Paskah.<br \/>\nSupaya pada hari Sabat<br \/>\nmayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib,<br \/>\n&#8212; sebab Sabat itu adalah hari yang besar &#8212;<br \/>\nmaka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus<br \/>\ndan meminta kepadanya<br \/>\nsupaya kaki orang-orang yang disalibkan itu dipatahkan<br \/>\ndan mayat-mayatnya diturunkan.<\/p>\n<p>Maka datanglah prajurit-prajurit,<br \/>\nlalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain<br \/>\nyang disalibkan bersama-sama dengan Yesus.<br \/>\nTetapi ketika mereka sampai kepada Yesus,<br \/>\ndan melihat bahwa Ia telah mati,<br \/>\nmereka tidak mematahkan kaki-Nya.<br \/>\nTetapi salah seorang dari prajurit itu<br \/>\nmenikam lambung Yesus dengan tombak,<br \/>\ndan segera mengalirlah darah serta air keluar.<\/p>\n<p>Dan orang yang melihat hal itu sendiri<br \/>\nyang memberikan kesaksian ini,<br \/>\ndan kesaksiannya benar!<br \/>\nDan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran,<br \/>\nsupaya kamu juga percaya.<br \/>\nSebab hal itu terjadi,<br \/>\nsupaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci,<br \/>\n&#8220;Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan.&#8221;<br \/>\ndan nas lain yang mengatakan,<br \/>\n&#8220;Mereka akan memandang kepada Dia<br \/>\nyang telah mereka tikam.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n***********************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cSeorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.\u201d [Yoh 19: 34]<\/p>\n<p>Biasanya, kita menggambarkan cinta dalam bentuk \u201chati\u201d. Oleh sebab itu ketika kita mengekspresikan cinta, kita ungkapkan: I \u2764 U, I \u2764 Indonesia, I \u2764 Papua dan seterusnya. Namun ekspresi cinta yang paling komplet kita rayakan hari ini. Cinta yang memberi diri, cinta tanpa batas yang tercurah oleh Kristus di kayu salib. Hati Kristus yang ditikam dengan tombak menyatakan dengan jelas apa yang Kristus sendiri pernah katakan: \u201cTak ada kasih yang lebih besar dari pada seorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya.\u201d<\/p>\n<p>Hati Kudus Yesus menyampaikan pesan cinta dalam cara yang amat personal, menggemakan kata-kata St. Paulus: \u201cAku hidup oleh iman kepada Anak Allah yang mengasihi aku dan menyerahkan hidup-Nya karena aku.\u201d St. Yohanes menyatakannya dalam ungkapan yang paling pendek tetapi amat dalam di dalam Kitab Suci: \u201cAllah adalah Kasih\u201d. Dan ia menambahkan bahwa \u201cKasih Allah dinyatakan dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia.\u201d<\/p>\n<p>Yesus adalah pewahyuan terlengkap dari Bapa yang dari hakikat-Nya adalah Kasih. Kasih yang otentik adalah memberi hidup dan itu secara unik menjadi nyata dalam diri Yesus sendiri. Saat kita memandang Dia yang tertikam, semoga kita pun diubah, hati kita diubah, diberdayakan agar kita mengasihi seperti Ia sendiri telah mengasihi kita. Semoga devosi kita kepada Hati Kudus menuntun kita pada \u201cthe way of the Heart\u201d, cara hidup menurut Hati Yesus, agar Hati Allah hadir di tengah-tengah kehidupan kita.<\/p>\n<p>Ya Yesus yang lembut dan rendah hati, jadikanlah hati kami seperti Hati-Mu.<\/p>\n<p>Selamat Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"ZiHD3iXzIB\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/memandang-dia-yang-ditikam\/\">MEMANDANG DIA YANG DITIKAM<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;MEMANDANG DIA YANG DITIKAM&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/memandang-dia-yang-ditikam\/embed\/#?secret=jh4VLpMp8s#?secret=ZiHD3iXzIB\" data-secret=\"ZiHD3iXzIB\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 07 Juni 2024 Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus Yohanes 19:34 (Yoh 19:31-37) Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. Hati&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-50353","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/50353","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=50353"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/50353\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":50354,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/50353\/revisions\/50354"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=50353"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=50353"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=50353"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}