{"id":50235,"date":"2024-06-06T10:18:45","date_gmt":"2024-06-06T03:18:45","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=50235"},"modified":"2024-06-06T10:18:45","modified_gmt":"2024-06-06T03:18:45","slug":"kamis-06-juni-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=50235","title":{"rendered":"Kamis, 06 Juni 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nKamis 06 Juni 2024<br \/>\nMarkus 12:29-31 (Mrk 12:28b-34)<br \/>\nJawab Yesus: &#8220;Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.&#8221;<\/p>\n<p>Mencintai Seperti Yesus<\/p>\n<p>Sekian lama hukum utama ini tertulis dalam Kitab Taurat (Lihat Ulangan 6:5 dan Imamat 19:18).<br \/>\nNamun umat Israel tidak sepenuh hati menjalankannya. Mereka mencintai Allah tapi hanya dengan mulut dan mengabaikan cinta kepada sesama. Karena itu Yohanes berkata, \u201cJikalau seorang berkata: &#8220;Aku mengasihi Allah,&#8221; dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.\u201d (1 Yoh 4:20).<br \/>\nYesus bukan hanya menekankan kembali pentingnya hukum utama ini, tapi Dia-lah wujud nyata hukum cinta kasih seutuhnya kepada Allah dan sesama. Yesus bukan hanya mencintai sampai terluka, melainkan sampai mati di atas kayu salib.<br \/>\nMaka saat kita ragu apakah Tuhan sungguh mencintaiku, pandanglah salib Yesus dan dengan sujud syukur berdoa, \u201cTerimakasih Yesus Engkau sungguh mencintaiku. Engkau telah menebus aku dari jerat dosa, dan mengangkat aku yang lemah ini. Kuatkan aku untuk mencintaiMu lebih dari segala sesuatu, dan kobarkanlah Roh Cinta KasihMu dalam diriku agar aku tak henti mencintai sesamaku, sekalipun ditolak, disakiti bahkan dikhianati. Terimakasih ya Yesus, cintaMu sungguh menguatkan aku untuk mencintai sesamaku seperti Engkau telah mencintaiku.\u201d<\/p>\n<p>Selamat hari baru, kesempatan baru mewujudkan cinta kita kepada Allah dan sesama.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 06 Jun 2024<br \/>\nKamis Pekan Biasa IX<br \/>\nPF S. Norbertus, Uskup<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 119:34<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 12:28b-34<br \/>\n*****************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 119:34<br \/>\nBerilah aku mengerti, maka aku akan mentaati hukum-Mu,<br \/>\naku kan menepatinya dengan segenap hati, ya Tuhan..<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 12:28b-34<br \/>\nInilah perintah pertama,<br \/>\nkasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati.<br \/>\nDan yang kedua sama dengan yang pertama.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari datanglah seorang ahli Taurat kepada Yesus,<br \/>\ndan bertanya, &#8220;Perintah manakah yang paling utama?&#8221;<\/p>\n<p>Yesus menjawab, &#8220;Perintah yang utama ialah:<br \/>\n&#8216;Dengarlah, hai orang Israel,<br \/>\nTuhan Allah kita itu Tuhan yang esa!<br \/>\nKasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati,<br \/>\ndengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi,<br \/>\ndan dengan segenap kekuatanmu.<br \/>\nDan perintah yang kedua, ialah:<br \/>\nKasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.&#8217;<br \/>\nTidak ada perintah lain yang lebih utama<br \/>\ndaripada kedua perintah ini.&#8221;<\/p>\n<p>Berkatalah ahli Taurat itu kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Guru, tepat sekali apa yang Kaukatakan,<br \/>\nbahwa Dia itu esa, dan tak ada Allah lain kecuali Dia.<br \/>\nMemang mengasihi Dia dengan segenap hati,<br \/>\ndengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan<br \/>\nserta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri,<br \/>\njauh lebih utama dari pada semua kurban bakar dan persembahan.&#8221;<\/p>\n<p>Yesus melihat betapa bijaksananya jawaban orang itu.<br \/>\nMaka Ia berkata kepadanya,<br \/>\n&#8220;Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.&#8221;<br \/>\nDan tak seorang pun masih berani menanyakan sesuatu kepada Yesus.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n************************************<\/p>\n<p>PRAKTIKKAN HUKUM CINTAKASIH DALAM KEHIDUPAN SAYA, ANDA<br \/>\n(RD. John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng)<\/p>\n<p>Pekan Biasa IX\/B\/II<br \/>\nMrk. 12:28-34: Hukum yang terutama<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini Yesus dicobai dan diuji oleh orang Saduki dan Ahli Taurat dengan pertanyaan &#8220;Manakah Hukum yang paling utama&#8221;. Terhadap pertanyaan ini Yesus mengingatkan mereka tentang apa yang diajarkan Hukum Taurat: &#8220;HUKUM YANG TERUTAMA ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. KASIHILAH Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap KEKUATANmu. Dan HUKUM YANG KEDUA ialah: KASIHILAH SESAMAMU MANUSIA seperti (mengasihi) DIRI SENDIRI. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini. Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus:&#8221;TEPAT SEKALI, GURU, BENAR KATAMU ITU!!&#8221; sambil mengulangi jawaban Yesus di atas tadi (Mrk. 12:28-33).<\/p>\n<p>Tuhan Yesus lebih menekankan TINDAKAN, PERBUATAN, PRAKTIK &#8220;mengasihi, mencintai&#8221; sebagai yang terutama, yang paling utama daripada semua korban bakaran dan sembelihan. Yesus tidak menekankan atau tidak suka sekadar PERKATAAN atau SEKADAR OMONG, sekadar TEORI tentang mengasihi atau mencintai. Praktikkan cintakasih itu: kepada Tuhan Allah, sesama manusia dan lingkungan\/alam ciptaan lainnya dan diri sendiri. Praktiknya sungguh2, serius, tidak setengah2, melainkan SEGENAP (hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan). Itulah jiwa atau napas dari mengasihi atau mencintai. Semuanya sungguh2. All out. Fokusnya &#8220;keluar&#8221; dari diri sendiri. Dikeluarkan semua dari diri sendiri sampai tidak ada yang tertinggal\/sisa. Lalu Beri yang terbaik dan terindah, bahkan sampai korban segalanya termasuk nyawa. &#8220;Tak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya&#8221; kata Yesus sendiri (Yoh. 15:13).<\/p>\n<p>Ketika cintakasih atau mencintai\/mengasihi itu menjadi HUKUM TERUTAMA, maka Cintakasih yang berjiwakan\/bernapaskan &#8216;pengorbanan, beri yg terbaik dan terindah untuk yang lain&#8221; HENDAKNYA MENJADI RUJUKAN POKOK dari SETIAP SIKAP, PERBUATAN DAN TINDAKAN HIDUP SAYA, ANDA &#8220;saat ini-di sini&#8221;. Pola perilaku dan sikap hidup mesti berakar dan keluar dari cintakasih ini.<br \/>\nMaka mutu atau kualitas &#8220;keberimanan saya, anda&#8221; sebagai pengikut Kristus bisa dinilai SEJAUH MANA SIKAP HIDUP SAYA, ANDA mengekspresikan hukum yang paling utama ini: kasih kepada Tuhan Allah, sesama manusia dan semua ciptaan\/lingkungan hidup lainnya dan diri sendiri secara seimbang.<\/p>\n<p>Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati saya, anda sekalian yang mempraktikkan &#8220;cintakasih\/hukum yang terutama&#8221; itu dalam hidup\u00a0ini.\u00a0Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Kamis 06 Juni 2024 Markus 12:29-31 (Mrk 12:28b-34) Jawab Yesus: &#8220;Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-50235","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/50235","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=50235"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/50235\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":50236,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/50235\/revisions\/50236"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=50235"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=50235"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=50235"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}