{"id":50159,"date":"2024-06-05T09:47:40","date_gmt":"2024-06-05T02:47:40","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=50159"},"modified":"2024-06-05T09:47:40","modified_gmt":"2024-06-05T02:47:40","slug":"rabu-05-juni-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=50159","title":{"rendered":"Rabu, 05 Juni 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 05 Juni 2024<br \/>\nMarkus 12:26-27 (Mrk 12:18-27)<br \/>\n\u201dTentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.\u201d<\/p>\n<p>Allah Kita Bukanlah Allah Orang Mati<\/p>\n<p>Orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan orang mati. Karena itu mereka datang kepada Yesus dan mengajukan sebuah kasus mengenai seorang perempuan yang kawin dengan 7 pria, kakak beradik. Satu per satu mereka meninggal dan akhirnya wanita itu juga meninggal. Bila ada kebangkitan orang mati, siapa nantinya yang berhak menjadi suaminya? Apa yang akan terjadi bila seorang istri bersuamikan 7 suami sekaligus?<br \/>\nUntunglah bukan kepada kita pertanyaan ini diajukan. Mau menjawab bagaimana pertanyaan rumit seperti ini. Syukurlah Yesus datang dari surga dan memberi gambaran apa yang ada di surga.<br \/>\nMemang logika kita beda dengan logika Allah. Dengan penuh iman kita percaya apa yang disabdakan Yesus. Allah kita bukanlah Allah orang mati. Allah kita adalah Allah orang hidup. Dan kehidupan surgawi nanti bukan lagi soal kawin dan dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga.<br \/>\nSesungguhnya kematian yang bagi manusia adalah akhir hidup, oleh kematian Yesus di salib telah menjadi jalan penebusan. Dan kebangkitan Yesus telah menjadi jaminan bagi kita untuk masuk ke hidup kekal bersama Allah di surga.<br \/>\nMari kita rindukan hidup surgawi yang dijanjikan Yesus dan dengan segenap hati kita persiapkan, agar apapun yang kita lakukan di dunia ini mendapatkan maknanya yang terdalam yakni untuk persiapan kita hidup selamanya bersama Bapa, Putra dan Roh Kudus.<br \/>\n\u201dAllah kita hidup, Ia yang kita sembah dan layani, di hadapanNya kita berdiri teguh.\u201d<\/p>\n<p>Segala puji dan sembah bagi Allah untuk hidup dan karya kita hari ini.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 05 Jun 2024<br \/>\nRabu Pekan Biasa IX<br \/>\nPW S. Bonifasius, Uskup dan Martir<br \/>\nWarna Liturgi: Merah<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 11:25a.26<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 12:18-27<br \/>\n*****************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 11:25a.26<br \/>\nAkulah kebangkitan dan kehidupan.<br \/>\nBarangsiapa percaya kepada-Ku, tak akan mati.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 12:18-27<br \/>\nAllah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari, datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki,<br \/>\nyang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan.<br \/>\nMereka bertanya kepada-Nya,<br \/>\n&#8220;Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita,<br \/>\n&#8216;Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki,<br \/>\nmati dengan meninggalkan seorang isteri<br \/>\ntetapi tidak meninggalkan anak,<br \/>\nsaudaranya harus kawin dengan isterinya itu<br \/>\ndan membangkitkan keturunan bagi saudaranya.&#8217;<\/p>\n<p>Ada tujuh orang bersaudara.<br \/>\nYang pertama kawin dengan seorang wanita,<br \/>\nlalu mati tanpa meninggalkan keturunan.<br \/>\nMaka yang kedua mengawini dia,<br \/>\ntetapi juga mati tanpa meninggalkan keturunan.<br \/>\nDemikian juga yang ketiga.<br \/>\nDan begitulah seterusnya,<br \/>\nketujuh-tujuhnya tidak meninggalkan keturunan.<br \/>\nAkhirnya wanita itu pun mati.<br \/>\nPada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit,<br \/>\nsiapakah yang menjadi suami perempuan itu?<br \/>\nSebab ketujuh-tujuhnya telah beristerikan dia.&#8221;<br \/>\nJawab Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Kalian sesat,<br \/>\njustru karena kalian tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah.<br \/>\nSebab di masa kebangkitan orang mati,<br \/>\norang tidak kawin atau dikawinkan;<br \/>\nmereka hidup seperti malaikat di surga.<br \/>\nMengenai kebangkitan orang mati,<br \/>\ntidakkah kalian baca dalam kitab Musa,<br \/>\nyaitu dalam ceritera tentang semak berduri,<br \/>\nbahwa Allah bersabda kepada Musa,<br \/>\n&#8216;Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub?<br \/>\nAllah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.<br \/>\nKamu benar-benar sesat.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<\/p>\n<p>**************************************<\/p>\n<p>HIDUP BARU DALAM DAN BERSAMA TUHAN ALLAH<br \/>\n(RD. John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng)<\/p>\n<p>Pekan Biasa IX\/B\/II<\/p>\n<p>Mrk. 12:18-27: Pertanyaan orang Saduki tentang kebangkitan<\/p>\n<p>Pesta St. Bonifasius, Uskup dan Martir<\/p>\n<p>Injil hari ini berkisah tentang perjumpaan Yesus dengan kelompok orang Saduki, yang tidak percaya akan kebangkitan orang mati. Mungkin saya, anda juga masih seperti mereka itu.<br \/>\nYesus beri pemahaman kpd mereka (saya,anda) bahwa kebangkitan adalah suatu PERISTIWA atau KEADAAN HIDUP BARU DALAM DAN BERSAMA TUHAN ALLAH. Melalui kebangkitan, orang mengalami HIDUP BARU DALAM DAN BERSAMA TUHAN ALLAH. Orang ADA bersama dengan Tuhan Allah. Orang HIDUP bersama dengan Tuhan Allah baik dalam realitas jasmaniah- duniawi di dunia sementara ini maupun dalam realiras rohaniah-surgawi setelah kematian. Kata kunci dalam kebangkitan adalah HIDUP BARU atau HIDUP BERSATU DALAM DAN BERSAMA TUHAN ALLAH.<\/p>\n<p>Maka dalam kehidupan itu (entah di dunia ini atau di &#8220;dunia&#8221; sana) Tuhan Allah menjadi FOKUS atau PUSAT KEHIDUPAN di mana orang TETAP memandang dan bertemu serta bersatu dengan Tuhan Allah di tengah rutinitas dunia ini dan kelak ketika beralih dari dunia ini orang HANYA MEMANDANG dan BERTEMU MUKA DENGAN MUKA dengan Tuhan Allah di surga. Dengan ini sebenarnya kebangkitan orang mati itu sudah terjadi saat ini di sini dan nanti berlanjut di sana, karena fokus\/pusatnya adalah Tuhan Allah yang sama. &#8220;Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup&#8221; (Mrk. 12:27), Allah dari orang yang SELALU dan TETAP hidup dalam dan bersama Tuhan Allah.<\/p>\n<p>Saya, anda mungkin seperti orang Saduki yang cemas, takut, bimbang dan tidak percaya akan kebangkitan dan kehidupan sesudah kematian. Saya, anda diajak untuk MEMBUKA DIRI DAN HATI kepada kemahakuasaan Tuhan dan menggantungkan hidup saya, anda pada penyelenggaraanNya. Bagi saya, anda kebahagiaan dalam dan bersama dengan Tuhan Allah, HIDUP SELALU BARU dalam dan bersama dengan Tuhan Allah MELAMPAUI kebahagiaan apapun yang saya, anda miliki di dunia ini. Bangkitlah! Nikmatilah HIDUP BARU DALAM DAN BERSAMA TUHAN ALLAH.<\/p>\n<p>Semoga dengan bantuan doa St. Bonifasius, Allah yang Mahakuasa (+) memberkati saya, anda sekalian yang selalu hidup baru dalam dan bersama Tuhan\u00a0Allah.\u00a0Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 05 Juni 2024 Markus 12:26-27 (Mrk 12:18-27) \u201dTentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-50159","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/50159","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=50159"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/50159\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":50160,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/50159\/revisions\/50160"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=50159"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=50159"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=50159"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}