{"id":49935,"date":"2024-06-03T11:10:14","date_gmt":"2024-06-03T04:10:14","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=49935"},"modified":"2024-06-03T11:10:14","modified_gmt":"2024-06-03T04:10:14","slug":"senin-03-juni-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=49935","title":{"rendered":"Senin, 03 Juni 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSenin 03 Juni 2024<br \/>\nMarkus 12:7-8 (Mrk 12:1-12)<br \/>\nTetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu.<\/p>\n<p>Jangan Sampai Lupa Diri<\/p>\n<p>Dalam perumpamaan tentang para penggarap kebun anggur ini, Yesus mengingatkan para pemimpin Yahudi, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, sesungguhnya mereka hanyalah penggarap kebun anggur Tuhan, yakni umat Israel, bukanlah pemilik kebun anggur. Tapi bukannya bekerja sebagai penggarap atau pelayan umat Allah, mereka bertindak sebagai pemilik dan penguasa atas semua kebun anggur Tuhan.<br \/>\nMereka bahkan berusaha menyingkirkan dan akhirnya membunuh Putra Allah, ahli waris yang berhak mendapatkan hasil atas kebun anggur BapaNya.<br \/>\nBetapa hebatnya pengaruh dosa yang telah merasuk ke segala sudut kehidupan manusia, sehingga manusia berusaha untuk menyingkirkan Tuhan dari hidupnya. Orang lupa bahwa bumi ini bukan miliknya. Bahkan hidup ini bukanlah milik kita. Kita hanyalah penggarap yang ditempatkan Tuhan untuk bekerja bagi Tuhan, menghasilkan buah-buah kebaikan untuk Kerajaan Allah.<br \/>\nBeberapa tahun lalu ketika dunia dilanda virus Covid, orang sadar siapa sebenarnya penguasa hidup dan mati kita. Orang berhenti bekerja dan juga berhenti dari berbagai tindakan yang merusak. Orang kembali merawat bumi, menjaga kebersihan dan peduli pada kesehatan. Orang sadar bahwa kita harus saling membantu, karena hidup begitu rentan dan kita bisa sewaktu-waktu terjangkit, sakit bahkan mati.<br \/>\nTapi seiring berlalunya pandemi ini, demikian juga iman akan Tuhan ikut berlalu. Orang kembali pada kebiasaan lama, lupa diri dan hanya mengejar ambisi dan kepentingan diri sendiri, lupa bahwa hidupnya hanya sementara.<br \/>\nMari kembali ke jalan Tuhan, membaktikan seluruh hidup kita demi tujuan Tuhan. Kita mengolah alam dan lingkungan dengan bertanggungjawab, dan menjalani hidup dalam persaudaraan kasih bersama sesama ciptaan Tuhan. Mari kembali menempatkan Tuhan sebagai pemilik hidup kita dan kita hidup untuk kemuliaan Tuhan.<\/p>\n<p>Semangat Senin! Mari bekerja giat bersama Tuhan.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 03 Jun 2024<br \/>\nSenin Pekan Biasa IX<br \/>\nPW S. Karolus Lwanga dan teman-temannya, Martir<br \/>\nWarna Liturgi: Merah<br \/>\nBait Pengantar Injil: Why 1:5ab<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 12:1-12<br \/>\n*********************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nWhy 1:5ab<br \/>\nYesus Kristus, Engkaulah saksi yang setia,<br \/>\nyang pertama bangkit dari alam maut;<br \/>\nEngkau mengasihi kami dan mencuci dosa kami<br \/>\ndalam darah-Mu.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 12:1-12<br \/>\nMereka menangkap dan membunuh putera kesayangan,<br \/>\ndan melemparkannya ke luar kebun anggur.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari Yesus berbicara kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan kaum tua-tua<br \/>\ndengan perumpamaan, kata-Nya,<br \/>\n&#8220;Adalah seorang membuka kebun anggur<br \/>\ndan menanam pagar sekelilingnya.<br \/>\nIa menggali lubang tempat memeras anggur,<br \/>\ndan mendirikan menara jaga.<br \/>\nKemudian disewakannya kebun anggur itu<br \/>\nkepada penggarap-penggarap,<br \/>\nlalu ia berangkat ke negeri lain.<\/p>\n<p>Ketika sudah tiba musim panen,<br \/>\nia mengutus seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu<br \/>\nuntuk menerima sebagian dari hasil kebun.<br \/>\nTetapi hamba itu ditangkap dan dipukuli oleh para penggarap<br \/>\nlalu disuruh pergi dengan tangan hampa.<br \/>\nKemudian pemilik kebun anggur itu menyuruh pula<br \/>\nseorang hamba lain kepada mereka.<br \/>\nOrang itu mereka pukuli sampai luka kepalanya,<br \/>\ndan sangat mereka permalukan.<br \/>\nLalu pemilik itu menyuruh seorang hamba lain lagi,<br \/>\ndan orang ini mereka bunuh.<br \/>\nDan banyak lagi yang lain,<br \/>\nada yang mereka pukul, dan ada yang mereka bunuh.<\/p>\n<p>Kini tinggal satu orang, yakni puteranya yang kekasih.<br \/>\nDialah yang akhirnya diutus kepada mereka,<br \/>\nsebab pikirnya, &#8216;Puteraku pasti akan mereka segani.&#8217;<br \/>\nTetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain,<br \/>\n&#8216;Dia itulah ahli waris!<br \/>\nMari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita.<br \/>\nMereka menangkap dan membunuh dia,<br \/>\nlalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu.<br \/>\nSekarang apa yang akan dilakukan oleh pemilik kebun anggur itu?<br \/>\nIa akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu,<br \/>\nlalu mempercayakan kebun anggurnya kepada orang-orang lain.<\/p>\n<p>Tidak pernahkah kamu membaca ayat ini:<br \/>\nBatu yang dibuang oleh para tukang bangunan<br \/>\ntelah menjadi batu penjuru.<br \/>\nItulah tindakan Tuhan, suatu hal yang ajaib dalam pandangan kita.&#8221;<\/p>\n<p>Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus,<br \/>\nkarena mereka tahu,<br \/>\nbahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu.<br \/>\nTetapi mereka takut kepada orang banyak.<br \/>\nMaka mereka pergi dan membiarkan Yesus.<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<\/p>\n<p>**********************************<\/p>\n<p>SETIA DAN PERCAYA PENUH KEPADA TUHAN ALLAH DAN RAJIN BERBUAT dan BERBAGI KASIH<br \/>\n(RD.John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng)<\/p>\n<p>Pekan Biasa IX\/B\/II<br \/>\nMrk.12:1 -12: Perumpamaan tentang penggarap2 kebun anggur<\/p>\n<p>Bacaan suci hari ini mengajak saya, anda untuk tetap percaya pada penyelenggaraan Allah, apapun keadaan. Tetap hidup di jalan yang baik dan benar. Karena itu pula saya, anda tidak perlu takut untuk BERBUAT BAIK, meskipun dengan itu saya, anda dibenci dan tidak disukai oleh orang yang tidak suka berbuat baik. Saya, anda siap &#8220;mempertaruhkan nyawa\/hidup&#8221; dengan mengambil risiko untuk tidak dipuji orang. Saya, anda harus menjadi contoh orang yang percaya, takwa dan setia kepada Tuhan.<\/p>\n<p>Yesus mengajarkan banyak orang (saya, anda) untuk percaya, takwa dan setia kepada Tuhan Allah. Ini memang tidak mudah. Yesus sendiri harus mati karenanya. Dalam Injil hari ini saya, anda mendengar\/membaca tentang penggarap2 kebun anggur (yaitu bangsa Israel, saya, anda) yang menangkap, memukul, menyuruh pergi dengan tangan hampa, bahkan &#8220;membunuh&#8221; hamba2 utusan Tuhan (para nabi, petugas pastoral). Tuhan selalu SETIA selama berabad-abad MENGUTUS para nabi (petugas pastoral) agar umatNya bertobat. Tetapi hasil yg diharapkan tidak kunjung tiba, sampai Allah sendiri MENGUTUS AnakNya sendiri, Yesus Kristus. Yesus sendiri menubuatkan Ia akan mati dibunuh. Demi cintaNya kepada saya, anda Allah Bapa rela menyerahkan dan mengorbankan Putera TunggalNya. Semoga saya, anda menyadari CINTA DAN KEBAIKAN ALLAH YANG BEGITU BESAR dan berjuang untuk membalasnya dengan KASIH SETIA, TAAT, TAKWA kepada Tuhan (wajib Misa Hari Minggu dan Hari2 Raya yang disamakan dengan Hari Minggu atau fakultatif Misa Harian) dan RAJIN berbuat dan berbagi kasih dan kebaikan kepada orang lain.<\/p>\n<p>Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) memberkati saya, anda sekalian yang selalu taat, setia, takwa dan percaya kepada Tuhan\u00a0Allah.\u00a0Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Senin 03 Juni 2024 Markus 12:7-8 (Mrk 12:1-12) Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-49935","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/49935","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=49935"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/49935\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":49936,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/49935\/revisions\/49936"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=49935"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=49935"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=49935"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}