{"id":49168,"date":"2024-05-24T09:32:11","date_gmt":"2024-05-24T02:32:11","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=49168"},"modified":"2024-05-24T09:32:11","modified_gmt":"2024-05-24T02:32:11","slug":"jumat-24-mei-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=49168","title":{"rendered":"Jumat, 24 Mei 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nJumat 24 Mei 2024<br \/>\n_Markus 10:6-9 (Mrk 10:1-12)<br \/>\nPada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.&#8221;<\/p>\n<p>Kasih Kristus Dasar Hidup Suami Istri<\/p>\n<p>Banyak orang berkata bahwa Gereja melarang perceraian. Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa bukan Musa atau Gereja yang melarang perceraian, tapi Allah sendiri. Sesungguhnya sejak semula Allah menghendaki kebahagiaan suami istri melalui persekutuan mereka yang erat dan intim. Mereka menjadi satu jiwa dan raga, sehati sejiwa.<br \/>\nDalam pernikahan putra putri Allah yang telah dibaptis, Yesus sendiri yang menyatukan suami istri seperti halnya Gereja menjadi mempelai Kristus (Baca Efesus 5:22-33). Sebagaimana Kristus sebagai Kepala tak terpisahkan dari Gereja sebagai tubuhNya, demikian halnya ikatan kasih suami istri tak terpisahkan.<br \/>\nBetapa indahnya ikrar setia dalam kasih ketika suami dan istri dipersatukan dalam nikah yang kudus dan mereka berjanji, \u201caku memilihmu sebagai istriku\/suamiku, dan berjanji untuk mencintaimu, dalam keadaan sehat maupun sakit, dalam untung dan malang, hingga maut memisahkan kita. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci ini.\u201d<br \/>\nBerjuanglah untuk memenuhi ikrar suci saling setia satu sama lain. Persatuan dan cinta adalah musuh Iblis. Ia akan terus menggoda agar terpisah dari Allah dan terpisah satu sama lain. Rahmat Allah tak pernah berhenti bekerja dan Roh Kudus, Roh Pemersatu terus mempersatukan. Bersandarlah pada kasih Kristus, jangan biarkan kelemahan dan keterbatasan manusiawi membuat kita menyerah dan putus asa. Bahagia selalu ada bagi orang yang setia dan terus bersatu hati dengan Tuhan dan belahan jiwanya.<\/p>\n<p>Selamat hari baru. Harapan baru untuk terus berdoa dan berjuang.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 24 Mei 2024<br \/>\nJumat Pekan Biasa VII<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 17:17ab<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 10:1-12<br \/>\n****************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 17:17ab<br \/>\nSabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran.<br \/>\nKuduskanlah kami dalam kebenaran.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 10:1-12<br \/>\nYang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari Yesus berangkat ke daerah Yudea<br \/>\ndan ke daerah seberang sungai Yordan.<br \/>\nDi situ orang banyak datang mengerumuni Dia,<br \/>\ndan seperti biasa Yesus mengajar mereka.<br \/>\nMaka datanglah orang-orang Farisi hendak mencobai Yesus.<br \/>\nMereka bertanya,<br \/>\n&#8220;Bolehkah seorang suami menceraikan isterinya?&#8221;<br \/>\nTetapi Yesus menjawab kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Apa perintah Musa kepada kamu?&#8221;<br \/>\nMereka menjawab,<br \/>\n&#8220;Musa memberi izin untuk menceraikannya<br \/>\ndengan membuat surat cerai.&#8221;<\/p>\n<p>Lalu Yesus berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Karena ketegaran hatimulah Musa menulis perintah itu untukmu.<br \/>\nSebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka pria dan wanita;<br \/>\nkarena itu pria meninggalkan ibu bapanya<br \/>\ndan bersatu dengan isterinya.<br \/>\nKeduanya lalu menjadi satu daging.<br \/>\nMereka bukan lagi dua, melainkan satu.<br \/>\nKarena itu, apa yang telah dipersatukan Allah,<br \/>\njanganlah diceraikan manusia.&#8221;<\/p>\n<p>Setelah mereka tiba di rumah,<br \/>\npara murid bertanya pula tentang hal itu kepada Yesus.<br \/>\nLalu Yesus berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Barangsiapa menceraikan isterinya<br \/>\nlalu kawin dengan wanita lain,<br \/>\nia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.<br \/>\nDan jika isteri menceraikan suaminya<br \/>\nlalu kawin dengan pria lain,<br \/>\nia berbuat zinah.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**********************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cKarena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.\u201d (Mrk 10: 9)<\/p>\n<p>Pada masa Yesus ada dua aliran pemikiran tentang perceraian. Yang pertama adalah golongan Rabi Shammai. Mereka menafsirkan masalah perkawinan dengan sangat ketat. Berbuat tidak senonoh yang dimaksud dalam Ul 24: 1, yang dijadikan argumen orang-orang Farisi yang mencobai Yesus, adalah perzinahan itu sendiri. Seorang perempuan mungkin berperilaku sama buruknya dengan Izebel, Istri raja Ahab, tetapi kecuali dia bersalah karena perzinahan, tidak akan diceraikan.<\/p>\n<p>Yang kedua adalah golongan pengikut Rabi Hillel. Di dalam menafsirkan Ulangan 24:1, pengikut Hillel percaya bahwa seorang laki-laki boleh menceraikan istrinya dengan alasan apa pun. Mereka sangat longgar di dalam mengizinkan perceraian. Mereka menganggap bahwa pengertian \u201ctidak senonoh\u201d yang dikatakan dalam Ulangan 24:1 itu bisa berarti apa saja dan dapat menjadi alasan menceraikan isteri.<\/p>\n<p>Manusia cenderung permisif dan mencari aturan yang longgar. Hasilnya adalah perceraian mudah dilakukan entah karena alasan yang terlalu sepele atau bahkan tanpa alasan sama sekali. Ketika Yesus berbicara tentang perceraian itu, Ia hendak mengembalikan nilai perkawinan pada posisi yang sebenarnya.<\/p>\n<p>Makna sebenarnya dari bacaan Injil hari ini adalah bahwa Yesus teguh dengan pandangannya bahwa moral seksual yang terlalu longgar pada masanya harus diperbaiki. Mereka yang memandang perkawinan hanya untuk kesenangan harus diingatkan bahwa perkawinan adalah tanggungjawab. Mereka yang menganggap perkawinan sekadar untuk memenuhi kebutuhan akan kenikmatan badani harus diingatkan bahwa perkawinan adalah suatu persatuan rohani. Yesus sedang membentengi keagungan rumah tangga.<\/p>\n<p>Bagaimanakah kita? Apakah kita juga terlalu permisif mengikuti kesenangan dan keinginan badani saja? Apakah kita juga menghormati kekudusan kehidupan seksual dan perkawinan?<\/p>\n<p>Engkau telah menciptakan kami, Tuhan, Allah kami, untuk bersahabat dan untuk mengasihi, dan Engkau telah menunjukkan kepada kami di dalam Yesus, Putra-Mu, bagaimana hidup untuk satu sama lain dan untuk-Mu. Semoga kami belajar dari-Nya untuk tetap setia satu sama lain, masing-masing sesuai dengan panggilan hidup kami. Amin.<\/p>\n<p>Selamat pagi. Mari saling membantu dan mendoakan dalam mengusahakan kekudusan. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"SChhFBz55i\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/kekudusan-perkawinan\/\">KEKUDUSAN PERKAWINAN<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;KEKUDUSAN PERKAWINAN&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/kekudusan-perkawinan\/embed\/#?secret=fTZ4mZTB0k#?secret=SChhFBz55i\" data-secret=\"SChhFBz55i\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Jumat 24 Mei 2024 _Markus 10:6-9 (Mrk 10:1-12) Pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-49168","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/49168","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=49168"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/49168\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":49169,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/49168\/revisions\/49169"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=49168"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=49168"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=49168"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}