{"id":49071,"date":"2024-05-23T18:22:50","date_gmt":"2024-05-23T11:22:50","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=49071"},"modified":"2024-05-23T18:22:50","modified_gmt":"2024-05-23T11:22:50","slug":"kamis-23-mei-2024-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=49071","title":{"rendered":"Kamis, 23 Mei 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nKamis 23 Mei 2024<br \/>\nMarkus 9:50 (Mrk 9:41-50)<br \/>\n\u201dGaram memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.\u201d<\/p>\n<p>Hidup Yang Membawa Arti<\/p>\n<p>Yesus meminta kita untuk selalu membawa arti bagi dunia, bagaikan garam yang ditaburkan dalam makanan untuk memberi cita rasa.<br \/>\nUntuk itu Yesus menganugerahkan kepada kita Roh KudusNya sendiri, agar cinta Yesus, semangat dan gairah hidupNya, kasih dan pengorbananNya nampak dan dirasakan oleh siapa saja yang hidup bersama kita. Itu maksudnya Yesus mengatakan bahwa setiap orang akan digarami dengan api (Mrk 9:49), itulah Api Roh KudusNya. Agar kita tidak tawar hati dalam bekerja dan berkarya, terus berupaya menjalin relasi yang hangat dan penuh kasih dengan orang lain.<br \/>\nBetapa Allah Pencipta kita begitu kecewa ketika semua anugerah yang Ia berikan pada kita tertabur sia-sia karena kita diam saja dan tidak berbuat apa-apa. Roh-Nya padam karena kita hanya hidup bagi diri sendiri dan tidak peduli dengan orang lain. Tangan kita tak bergerak menolong dan melayani, kaki kita berhenti melangkah untuk melakukan kebaikan dan hati kita tak tergerak untuk berjalan mencari jiwa-jiwa bagi Tuhan.<br \/>\nKiranya kehadiran kita memberi semangat dan gairah, membawa damai dan sukacita, memberi harapan dan jalan, menjadi air penyejuk bagi sahabat yang merana karena merasa sepi dan hampa.<br \/>\nBetapa bahagianya kita ketika hati kita menjadi seperti hati Yesus yang rela berbagi kasih, memberi hidup dan membawa arti bagi orang lain.<\/p>\n<p>Selamat berkarya di hari yang baru. Menjadi garam dan terang di sekitar kita.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 23 Mei 2024<br \/>\nKamis Pekan Biasa VII<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: 1Tes 2:13<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 9:41-50<br \/>\n***************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\n1Tes 2:13<br \/>\nSambutlah sabda Tuhan, bukan sebagai perkataan manusia,<br \/>\nmelainkan sebagai sabda Allah.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 9:41-50<br \/>\nLebih baik bagimu dengan tangan terkudung masuk dalam kehidupan,<br \/>\ndaripada dengan kedua belah tangan masuk dalam api yang tak terpadamkan.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Barangsiapa memberi kalian minum air secangkir<br \/>\noleh karena kalian adalah pengikut Kristus,<br \/>\nia tak akan kehilangan ganjarannya.<\/p>\n<p>Barangsiapa menyesatkan salah seorang<br \/>\ndari anak-anak kecil yang percaya ini,<br \/>\nlebih baik baginya<br \/>\njika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya<br \/>\nlalu ia dibuang ke dalam laut.<\/p>\n<p>Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah,<br \/>\nkarena lebih baik bagimu<br \/>\ndengan tangan terkudung masuk dalam kehidupan,<br \/>\ndaripada dengan utuh kedua belah tangan masuk ke dalam neraka,<br \/>\nke dalam api yang tak terpadamkan.<br \/>\nDan jika kaki menyesatkan engkau, penggallah,<br \/>\nkarena lebih baik bagimu<br \/>\ndengan kaki timpang masuk ke dalam hidup,<br \/>\ndaripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka.<br \/>\nDan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah,<br \/>\nkarena lebih baik bagimu masuk ke dalam Kerajaan Allah<br \/>\ndengan bermata satu<br \/>\ndaripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,<br \/>\ndi mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak pernah padam.<\/p>\n<p>Sebab setiap orang akan digarami dengan api.<br \/>\nGaram itu memang baik!<br \/>\nTetapi jika garam menjadi hambar,<br \/>\ndengan apakah kalian akan mengasinkannya?<br \/>\nHendaklah kalian selalu mempunyai garam dalam dirimu<br \/>\ndan selalu hidup berdamai seorang dengan yang lain.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<br \/>\n**********************************<\/p>\n<p>  \u210d<\/p>\n<p>\u201cJika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah\u2026.. dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, \u2026.. dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,\u201d (Mrk 9: 43, 45, 47).<\/p>\n<p>Di dalam komunitas-komunitas kita, kita melayani saudara-saudari kita, melaksanakan tugas-tugas dengan tekun dan murah hati. Namun, kecemburuan dan iri hati sering kali merusak upaya-upaya kita. Dan semua pekerjaan yang kita lakukan tidak lagi menjadi sebuah pelayanan, tetapi berubah menjadi sebuah sarana untuk menegaskan diri kita sendiri, status sosial dan ego kita.<\/p>\n<p>Markus mendorong komunitasnya untuk berusaha keras agar hidup mereka bermanfaat bagi sesama. Tuhan telah menganugerahi kita mata, tangan, dan kaki untuk melihat dan membantu kebutuhan saudara-saudari kita demi kesejahteraan mereka. Mereka yang menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat baik di dunia ini akan kehilangan kesempatan unik yang telah diberikan Tuhan kepada mereka, mereka akan merendahkan diri mereka sendiri seperti sampah. Di tepi barat daya kota Yerusalem, ada sebuah lembah bernama &#8220;Gehenna&#8221; di mana semua limbah dan sampah dibuang untuk dibakar. Api tidak pernah dipadamkan dan sampah yang tersisa akan dipenuhi ulat dan cacing.<\/p>\n<p>Injil menyebutkan ide untuk memutilasi tangan, kaki, atau mata jika kita menggunakannya untuk berbuat dosa atau gagal menggunakannya untuk melakukan kebaikan. Hal ini memang mengejutkan. Tetapi penting untuk diingat bahwa ini adalah ajakan untuk bertindak untuk memotong perilaku, sikap, gaya hidup, dan ideologi negatif kita, sehingga kita tidak membiarkan hidup kita terbuang sia-sia di tempat sampah.<\/p>\n<p>Maka, marilah kita bertanya: apa yang ada di dalam diri saya yang bertentangan dengan Injil? Secara konkret, apa yang Yesus inginkan untuk saya pangkas dan singkirkan dari hidup saya?<\/p>\n<p>Happy long weekend! \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"gbQ7x2JSGI\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/jangan-sampai-kita-dicampakkan-ke-dalam-gehenna\/\">JANGAN SAMPAI KITA DICAMPAKKAN KE DALAM GEHENNA<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;JANGAN SAMPAI KITA DICAMPAKKAN KE DALAM GEHENNA&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/jangan-sampai-kita-dicampakkan-ke-dalam-gehenna\/embed\/#?secret=VwsOxWToQ5#?secret=gbQ7x2JSGI\" data-secret=\"gbQ7x2JSGI\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Kamis 23 Mei 2024 Markus 9:50 (Mrk 9:41-50) \u201dGaram memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-49071","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/49071","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=49071"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/49071\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":49072,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/49071\/revisions\/49072"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=49071"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=49071"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=49071"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}