{"id":48375,"date":"2024-05-14T21:03:18","date_gmt":"2024-05-14T14:03:18","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=48375"},"modified":"2024-05-14T21:03:18","modified_gmt":"2024-05-14T14:03:18","slug":"beato-stanislaus-kubista-svd","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=48375","title":{"rendered":"Beato Stanislaus Kubista, SVD"},"content":{"rendered":"<p>BEATO STANISLAUS KUBISTA, SVD<\/p>\n<p>STANISLAUS KUBISTA lahir pada tahun 1889, dari sebuah keluarga miskin di Kostuchna , Silesia. Ia adalah putra kelima dari sembilan orang bersaudara, dan ia dibesarkan dalam suasana yang sangat religius. Rumah Kubista sering kali dikunjungi oleh seorang bruder SVD yang menjual majalah ke wilayah itu. Maka, Stanislaus sudah kenal dengan para misionaris sejak kecil. Pada usia 14 tahun, karena sudah terpesona oleh cita-cita misioner, ia masuk seminari menengah SVD di Nysa. Perang Dunia I untuk sementara menghentikan studinya, karena ia dipanggil untuk dinas militer. Akan tetapi, ia tidak meninggalkan impiannya untuk menjadi misionaris. Segera setelah perang berakhir ia kembali lagi ke Nysa untuk melanjutkan pendidikannya. Pada tahun 1920 ia masuk novisiat di St. Gabriel, Austria. Di sana ia juga menyelesaikan studi teologi serta pendidikannya sebagai biarawan-misionaris. Ia mengikrarkan kaul-kaul kekalnya pada tanggal 29 September 1926 dan ditahbiskan menjadi imam pada bulan Mei 1927. Oleh para formator dan teman-teman kelasnya, ia diakui sebagai seorang yang lemah lembut, bersahaja, tawakal, tenang dan selalu rela berkorban.<br \/>\n#arnoldusjanssen #gerejakatolik #katolikindonesia #svd #beato #martir<\/p>\n<p>Sumber Seminari Tinggi SVD Surya Wacana<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BEATO STANISLAUS KUBISTA, SVD STANISLAUS KUBISTA lahir pada tahun 1889, dari sebuah keluarga miskin di Kostuchna , Silesia. Ia adalah putra kelima dari sembilan orang bersaudara, dan ia dibesarkan dalam suasana yang sangat religius.&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28971,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,2],"tags":[],"class_list":["post-48375","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-sekitar","category-tokoh","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ki.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/48375","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=48375"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/48375\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":48376,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/48375\/revisions\/48376"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/28971"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=48375"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=48375"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=48375"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}