{"id":456,"date":"2014-02-03T16:08:31","date_gmt":"2014-02-03T09:08:31","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=456"},"modified":"2014-02-03T16:09:45","modified_gmt":"2014-02-03T09:09:45","slug":"franciscus-georgius-josephus-van-lith","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=456","title":{"rendered":"Franciscus Georgius Josephus van Lith"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/iframewidth=420height=315src=\/\/www.youtube.com\/embed\/wshV-tGtXJ8frameborder=0allowfullscreen\/iframe\"><iframe loading=\"lazy\" src=\"\/\/www.youtube.com\/embed\/FMw4rzJ5YRk\" height=\"315\" width=\"648\" allowfullscreen=\"\" frameborder=\"0\"><\/iframe><\/a><br \/>\n<b>Franciscus Georgius Josephus Van Lith<\/b>\u00a0atau seringkali disingkat sebagai\u00a0<b>Frans van Lith<\/b>\u00a0(lahir\u00a0<a title=\"17 Mei\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/17_Mei\">17 Mei<\/a>\u00a0<a title=\"1863\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1863\">1863<\/a>\u00a0\u2013\u00a0meninggal\u00a0<a title=\"9 Januari\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/9_Januari\">9 Januari<\/a>\u00a0<a title=\"1926\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1926\">1926<\/a>\u00a0pada umur 62 tahun) adalah seorang imam\u00a0<a title=\"Yesuit\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Yesuit\">Yesuit<\/a>\u00a0asal\u00a0<a title=\"Oirschot\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Oirschot\">Oirschot<\/a>,\u00a0<a title=\"Belanda\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Belanda\">Belanda<\/a>\u00a0yang meletakkan dasar karya\u00a0<a title=\"Katolik\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Katolik\">Katolik<\/a>\u00a0di\u00a0<a title=\"Jawa\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jawa\">Jawa<\/a>, khususnya\u00a0<a title=\"Jawa Tengah\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jawa_Tengah\">Jawa Tengah<\/a>. Ia membaptis orang-<a title=\"Orang Jawa\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Orang_Jawa\">orang Jawa<\/a>\u00a0pertama di\u00a0<a title=\"Sendangsono\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sendangsono\">Sendangsono<\/a>, mendirikan sekolah guru di\u00a0<a title=\"Muntilan, Magelang\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Muntilan,_Magelang\">Muntilan<\/a>, memperjuangkan status pendidikan orang\u00a0<a title=\"Pribumi\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pribumi\">pribumi<\/a>dalam masa pendudukan kolonial\u00a0<a title=\"Belanda\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Belanda\">Belanda<\/a>.<\/p>\n<p>Namanya dikenal karena mampu menyelaraskan ajaran agama Katolik Roma dengan tradisi Jawa sehingga bisa diterima oleh masyarakat\u00a0<a title=\"Suku Jawa\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Suku_Jawa\">Jawa<\/a>. Saat ini di Jawa Tengah dan Jawa Timur, agama Katolik merupakan sebuah agama yang memiliki pengaruh di antara orang Jawa dan\u00a0<a title=\"Tionghoa-Indonesia\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tionghoa-Indonesia\">Tionghoa-Indonesia<\/a>.<\/p>\n<p><a title=\"Paus Yohanes Paulus II\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Paus_Yohanes_Paulus_II\">Paus Yohanes Paulus II<\/a>, saat berpidato di\u00a0<a title=\"Yogyakarta\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Yogyakarta\">Yogyakarta<\/a>\u00a0tanggal\u00a0<a title=\"10 Oktober\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/10_Oktober\">10 Oktober<\/a>\u00a0<a title=\"1989\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1989\">1989<\/a>, mengatakan bahwa hari itu ia berada di jantung Pulau Jawa untuk secara khusus mengenang mereka yang telah meletakkan dasar bagi umat-Nya, yaitu Romo Van Lith SJ dan dua muridnya, Mgr\u00a0<a title=\"Soegijapranata\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Soegijapranata\">Soegijapranata<\/a>\u00a0dan<a title=\"IJ Kasimo\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/IJ_Kasimo\">IJ Kasimo<\/a>.<\/p>\n<p>Van Lith tiba untuk pertama kalinya di\u00a0<a title=\"Semarang\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Semarang\">Semarang<\/a>\u00a0tahun\u00a0<a title=\"1896\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1896\">1896<\/a>\u00a0kemudian belajar budaya dan adat\u00a0<a title=\"Jawa\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jawa\">Jawa<\/a>. Selesai pembekalan, ia ditempatkan di<a title=\"Muntilan\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Muntilan\">Muntilan<\/a>\u00a0sejak\u00a0<a title=\"1897\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1897\">1897<\/a>. Ia menetap di Desa Semampir di pinggir Kali Lamat.<\/p>\n<p>Pada\u00a0<a title=\"14 Desember\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/14_Desember\">14 Desember<\/a>\u00a0<a title=\"1904\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1904\">1904<\/a>\u00a0Van Lith membaptis 171 orang desa dari daerah Kalibawang di Sendangsono,\u00a0<a title=\"Kulon Progo\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kulon_Progo\">Kulon Progo<\/a>. Peristiwa ini dipandang sebagai lahirnya Gereja di antara orang\u00a0<a title=\"Jawa\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jawa\">Jawa<\/a>\u00a0dimana 171 orang menjadi pribumi pertama yang memeluk Katolik. Lokasi pembaptisan ini yang sekarang menjadi tempat ziarah\u00a0<a title=\"Sendangsono\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sendangsono\">Sendangsono<\/a>.<\/p>\n<p>Di desa kecil Semampir ia mendirikan sebuah sekolah desa dan sebuah bangunan gereja. Saat itulah ia memulai kompleks persekolahan\u00a0<a title=\"Katolik\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Katolik\">Katolik<\/a>\u00a0di Muntilan, mulai dari\u00a0<i><a title=\"Normaalschool (halaman belum tersedia)\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Normaalschool&amp;action=edit&amp;redlink=1\">Normaalschool<\/a><\/i>\u00a0pada tahun\u00a0<a title=\"1900\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1900\">1900<\/a>, sekolah guru berbahasa Belanda atau\u00a0<i><a title=\"Kweekschool\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kweekschool\">Kweekschool<\/a><\/i>\u00a0tahun\u00a0<a title=\"1904\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1904\">1904<\/a>\u00a0dan kemudian pendidikan guru-guru kepala pada tahun\u00a0<a title=\"1906\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1906\">1906<\/a>. Sekolah guru untuk penduduk pribumi Jawa ini bisa dimasuki oleh anak Jawa dari mana pun, dari agama apa pun. Awalnya memiliki murid 107 orang, 32 di antaranya bukan Katolik.<\/p>\n<p>Pada tahun\u00a0<a title=\"1911\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1911\">1911<\/a>\u00a0dibuka secara resmi\u00a0<a title=\"Seminari\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Seminari\">seminari<\/a>\u00a0(sekolah calon pastor) pertama di Indonesia karena sebagian di antara lulusannya ingin jadi pastor. Satu di antaranya Mgr A\u00a0<a title=\"Soegijapranata\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Soegijapranata\">Soegijapranata<\/a>\u00a0SJ (1896- 1963), yang kemudian menjadi Uskup\u00a0<a title=\"Keuskupan Agung Semarang\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Keuskupan_Agung_Semarang\">Keuskupan Agung Semarang<\/a>, uskup pertama pribumi.<\/p>\n<p>Gereja kecil dan sekolah desa Semampir kemudian berkembang menjadi satu kompleks gedung-gedung yang pada tahun 1911 dinamai Kolese Franciscus Xaverius. Tahun\u00a0<a title=\"1948\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1948\">1948<\/a>, kompleks sekolah ini dibakar.<\/p>\n<p>Lewat pendidikan sekolah di Muntilan menghasilkan tokoh politik Katolik seperti\u00a0<a title=\"Kasimo\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kasimo\">Kasimo<\/a>,\u00a0<a title=\"Frans Seda\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Frans_Seda\">Frans Seda<\/a>, dan sejumlah tokoh lain. Kelak sekolah ini dikenal sebagai\u00a0<a title=\"SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan Magelang\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/SMA_Pangudi_Luhur_Van_Lith_Muntilan_Magelang\">SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan Magelang<\/a>.<\/p>\n<p>Di\u00a0<a title=\"Klaten\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Klaten\">Klaten<\/a>\u00a0Van Lith berusaha mendirikan\u00a0<a title=\"HIS\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/HIS\">HIS<\/a>. Mula-mula pengajuan izin pendirian sekolah HIS di Klaten ditolak oleh Asisten Residen dengan alasan di Klaten telah berdiri HIS Protestan. Karena penolakan itu maka Pastur Van Lith mengajukan permohonan langsung kepada residen Surakarta. Permohonannya dikabulkan, sehingga pada tahun\u00a0<a title=\"1920\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1920\">1920<\/a>\u00a0HIS Kanisius Klaten didirikan dan kegiatan pembelajaran dilaksanakan di rumah penduduk.<\/p>\n<p>Van Lith memperjuangkan pendidikan bagi para pribumi. Ia mengusahakan pengiriman mahasiswa-mahasiswa pribumi ke perguruan tinggi di\u00a0<a title=\"Belanda\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Belanda\">Belanda<\/a>\u00a0dan menganjurkan\u00a0<a title=\"Yesuit\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Yesuit\">Yesuit<\/a>\u00a0agar mendirikan kolese-kolese untuk pendidikan setara\u00a0<a title=\"AMS\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/AMS\">AMS<\/a>.<\/p>\n<p>Ia menjadi anggota Dewan Pendidikan\/<i>Onderwijsraad<\/i>\u00a0tahun\u00a0<a title=\"1918\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1918\">1918<\/a>. Tahun itu pula ia diangkat menjadi anggota sebagai anggota Komisi Peninjauan Kenegaraan Hindia Belanda\/<i>Commissie tot Herziening van de Grondslagen der Staatsinrichting van Nederlandsch-Indi\u00eb<\/i>. Komisi tersebut dibentuk untuk merealisasikan maksud pemerintah Belanda menata ketatanegaraan di Hindia Belanda, yang melibatkan baik orang Belanda maupun orang pribumi. Dalam komisi ini ia menuntut posisi perwakilan orang pribumi dalam\u00a0<i><a title=\"Volksraad\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Volksraad\">Volksraad<\/a><\/i>.<\/p>\n<p>Ia pun diusulkan sebagai anggota\u00a0<i>Volksraad<\/i>\u00a0(Dewan Rakyat) Partai Sarekat Islam, pimpinan teman dekat Van Lith,\u00a0<a title=\"Agus Salim\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Agus_Salim\">K.H. Agus Salim<\/a>. Memang ia tidak pernah jadi anggota Dewan Rakyat. Tetapi, atas kegiatannya di bidang pendidikan ditunjuk menjadi anggota Dewan Pendidikan Hindia Belanda dan anggota Komisi Peninjauan Kembali Ketatanegaraan Hindia Belanda.<\/p>\n<p>Di kedua lembaga itu Pater Van Lith memperjuangkan kepentingan pribumi dan ini tidak disukai oleh Belanda. Van Lith kemudian kembali ke Belanda pada tahun\u00a0<a title=\"1920\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1920\">1920<\/a>\u00a0untuk memulihkan kesehatan. Maka, ketika mau kembali ke Indonesia setelah berobat, dia dihalang-halangi oleh pemerintah Belanda.<\/p>\n<p>Tahun\u00a0<a title=\"1924\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1924\">1924<\/a>\u00a0ia kembali dan kemudian menetap di\u00a0<a title=\"Semarang\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Semarang\">Semarang<\/a>\u00a0dan mendirikan sekolah\u00a0<a title=\"HIS\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/HIS\">HIS<\/a>\u00a0dan\u00a0<i><a title=\"Standaardschool (halaman belum tersedia)\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Standaardschool&amp;action=edit&amp;redlink=1\">Standaardschool<\/a><\/i>\u00a0sambil mengajar para\u00a0<a title=\"Novisiat (halaman belum tersedia)\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/w\/index.php?title=Novisiat&amp;action=edit&amp;redlink=1\">novisiat<\/a>\u00a0<a title=\"Yesuit\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Yesuit\">Yesuit<\/a>. Van Lith meninggal dunia pada tanggal 17 Mei\u00a0<a title=\"1926\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1926\">1926<\/a>\u00a0di\u00a0<a title=\"Semarang\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Semarang\">Semarang<\/a>\u00a0dan dikebumikan di pemakaman\u00a0<a title=\"Yesuit\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Yesuit\">Yesuit<\/a>\u00a0di\u00a0<a title=\"Muntilan\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Muntilan\">Muntilan<\/a>.<\/p>\n<p>Referensi<\/p>\n<ul>\n<li>(Belanda)\u00a0Leopold Maria van Rijckevorsel S.J.,\u00a0<a title=\"1952\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1952\">1952<\/a>,\u00a0<i>Pastoor F. van Lith S.J.\u00a0: de stichter van de missie in Midden-Java, 1863-1926<\/i>.\u00a0<a title=\"Nijmegen\" href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Nijmegen\">Nijmegen<\/a>: Stichting St.Claverbond.<\/li>\n<li>http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Franciscus_Georgius_Josephus_van_Lith<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Franciscus Georgius Josephus Van Lith\u00a0atau seringkali disingkat sebagai\u00a0Frans van Lith\u00a0(lahir\u00a017 Mei\u00a01863\u00a0\u2013\u00a0meninggal\u00a09 Januari\u00a01926\u00a0pada umur 62 tahun) adalah seorang imam\u00a0Yesuit\u00a0asal\u00a0Oirschot,\u00a0Belanda\u00a0yang meletakkan dasar karya\u00a0Katolik\u00a0di\u00a0Jawa, khususnya\u00a0Jawa Tengah. Ia membaptis orang-orang Jawa\u00a0pertama di\u00a0Sendangsono, mendirikan sekolah guru di\u00a0Muntilan, memperjuangkan status&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":457,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-456","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tokoh"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/02\/220px-Frans_van_Lith.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/456","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=456"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/456\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2264,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/456\/revisions\/2264"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/457"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=456"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=456"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=456"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}