{"id":4550,"date":"2015-04-11T11:19:31","date_gmt":"2015-04-11T04:19:31","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=4550"},"modified":"2015-04-11T11:19:31","modified_gmt":"2015-04-11T04:19:31","slug":"omong-doang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=4550","title":{"rendered":"OMONG DOANG"},"content":{"rendered":"<div id=\"ygrps-yiv-904412349yiv9600477521yui_3_16_0_1_1428710135624_2158\" align=\"center\"><b id=\"ygrps-yiv-904412349yiv9600477521yui_3_16_0_1_1428710135624_2162\"><span id=\"ygrps-yiv-904412349yiv9600477521yui_3_16_0_1_1428710135624_2161\" style=\"text-decoration: underline;\">OMONG DOANG<\/span><\/b><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-904412349yui_3_16_0_1_1428710135624_4107\" align=\"center\">(Kontemplasi Peradaban)<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-904412349yui_3_16_0_1_1428710135624_4927\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-904412349yiv9600477521yui_3_16_0_1_1428710135624_2246\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Seringkali kita muak jika dalam rapat mendengar usul dari peserta rapat yang pandai ngomong. Dia membuat rencana, menyusun strategi serta\u00a0\u00a0usul ini dan itu. Tetapi ketika hari\u00a0<i>H<\/i>-nya untuk bekerja, orang tersebut tidak\u00a0<i>nongol<\/i>. Maka orang-orang pun berteriak, memang bapak itu sukanya\u00a0<i>omdo<\/i>\u00a0(omong doang). Orang yang sukanya omong doang lama-lama akan kehilangan kepercayaan, seperti yang dikatakan seorang politikus Amerika: Lewis Cass (1782 \u2013 1866), \u201cOrang bisa saja tidak percaya dengan kata-kata kita, tetapi mereka akan percaya dengan apa yang kita kerjakan\u201d<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-904412349yui_3_16_0_1_1428710135624_4268\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Pepatah Latin,\u00a0<i>\u201cora et labora\u201d<\/i>\u00a0\u2013 berdoa dan bekerja adalah diciptakan oleh Benediktus dari Nursia (480 \u2013 550). Bagi Benediktus, kata\u00a0<i id=\"ygrps-yiv-904412349yui_3_16_0_1_1428710135624_4928\">labora<\/i>\u00a0digunakan untuk mengungkapkan \u201ckerja tangan\u201d atau\u00a0<i>opus manualis<\/i>. Ungkapan ini untuk mengimbangi<i id=\"ygrps-yiv-904412349yui_3_16_0_1_1428710135624_4269\">opus Dei<\/i>\u00a0(kerja atau karya Allah) yang bagi Benediktus berarti berdoa, meditasi dan membaca Kitab Suci.\u00a0<i>Nah,<\/i>\u00a0untuk itulah kita bisa memahami bahwa berdoa yang juga bisa diartikan, \u201cngomong dengan Tuhan\u201d harus sesuai dengan tindakan nyata. Maka, tepatlah apa yang dikatakan Yesus,\u00a0<i>\u201c<\/i>Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Surga\u201d (Mat 7: 21).<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-904412349yui_3_16_0_1_1428710135624_4859\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Di sini kita sering melihat ada pemisahan antara bekerja dan berdoa. Ada seorang ibu muda berpakaian mewah keluar dari hotel berbintang. Ketika keluar dari hotel di tempat parkiran ada seorang pengemis yang kelaparan dan minta sedikit uang. Namun kata ibu muda itu, \u201cTadi saya di hotel sudah mengundang para pengusaha untuk membicarakan bagaimana mengentaskan kemiskinan. Sana jangan ganggu aku!\u201d\u00a0\u00a0Ini pula yang dikritik oleh Bertolt Brecht (1898 \u2013 1956), penulis sandiwara kenamaan dunia menulis cerita dengan judul\u00a0<i>Mutter Courage<\/i>. Tokoh utama yang bernama Kattrin rela mati ketika mendengar bahwa ada teroris yang hendak menghabisi nyawa seluruh kampung. Si bocah kecil itu tidak hanya berdoa, namun berani mengorbankan nyawanya bagi keselamatan seluruh kampung.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-904412349yiv9600477521yui_3_16_0_1_1428710135624_2152\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Sebenarnya apa yang diomongkan itu jika diikuti dengan tindakan nyata akan menjadi penyemangat. Tidak seperti apa yang dikatakan peribahasa, \u201cTong kosong nyaring bunyinya\u201d atau \u201cAir beriak tanda tak dalam\u201d. Omongan menjadi\u00a0<i>bernas<\/i>, karena disampaikan oleh orang-orang yang berintegritas tinggi. Mungkin kita masih ingat sepak terjang dari Perdana Menteri Inggris. Pada masa Perang Dunia II, ketika Inggris kehilangan sekutu dan senjatanya,\u00a0\u00a0Winston Churchill (1874 \u2013 1965)\u00a0\u00a0berpidato agar seluruh rakyat berjuang dan seluruh rakyat merespon dengan baik. Atau seperti Alexander Agung dari Macedonia (356 \u2013 323 seb.M) yang sangat kehausan namun tetap tidak mau minum ketika diberi satu tempurung air,\u00a0\u00a0karena para prajuritnya juga kehausan. Ia merasakan apa yang dirasakan para pengikutnya. Ia tidak omong doang!!<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-904412349yui_3_16_0_1_1428710135624_4904\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\" id=\"ygrps-yiv-904412349yui_3_16_0_1_1428710135624_4274\"><i id=\"ygrps-yiv-904412349yui_3_16_0_1_1428710135624_4913\">Sabtu, 11\u00a0\u00a0April 2015<\/i>\u00a0\u00a0Rm.\u00a0<b id=\"ygrps-yiv-904412349yui_3_16_0_1_1428710135624_4909\">Markus Marlon, MSC<\/b><\/div>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis\u00a0Rm.\u00a0<b id=\"ygrps-yiv-1227137792yui_3_16_0_1_1428387097907_16517\">Markus Marlon,<\/b>\u00a0MSC\u00a0&lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>OMONG DOANG (Kontemplasi Peradaban) \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Seringkali kita muak jika dalam rapat mendengar usul dari peserta rapat yang pandai ngomong. Dia membuat rencana, menyusun strategi serta\u00a0\u00a0usul ini dan itu. Tetapi ketika hari\u00a0H-nya untuk bekerja, orang tersebut&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2555,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-4550","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/IMG_20140911_133408.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4550","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4550"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4550\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4551,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4550\/revisions\/4551"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2555"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4550"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4550"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4550"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}