{"id":43669,"date":"2024-03-10T09:18:45","date_gmt":"2024-03-10T02:18:45","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=43669"},"modified":"2024-03-10T09:18:45","modified_gmt":"2024-03-10T02:18:45","slug":"minggu-10-maret-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=43669","title":{"rendered":"Minggu, 10 Maret 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nMinggu 10 Maret 2024<br \/>\nMinggu Prapaskah ke IV<br \/>\nYohanes 3:14-15 (Yoh 3:14-21)<br \/>\n\u201dSama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.\u201d<\/p>\n<p>Yesus menyamakan kisah penyelamatan umat Israel yang dipagut ular melalui ular perunggu yang ditinggikan Musa di padang gurun dengan peristiwa penyalibanNya. Yesus ditinggikan di atas kayu salib agar umat manusia yang memandang salibNya dan percaya akan kasih Allah yang tak terhingga oleh derita dan salib Yesus, beroleh keselamatan dan kehidupan kekal.<br \/>\nPandanglah salib Yesus dan ingatlah selalu karya kasih Allah yang terbesar ini, dan percayalah, oleh derita dan salibNya Yesus telah menebus kita semua.<br \/>\nSaat derita melanda, kuatkan hati dengan memandang salib Yesus. Saat jatuh dalam dosa, peganglah salib Yesus dan bangkitlah dari kejatuhan. Selalu ada asa, ada harapan, ada kasih setia, ada cinta tanpa syarat di balik salib Yesus. Mari kita imani.<br \/>\nInilah janji Yesus kepada kita, \u201cBegitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.\u201d (Yoh 3:16).<\/p>\n<p>Selamat hari Minggu. Mari sujud syukur depan salib Yesus, kita pasti dikuatkanNya\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 10 Mar 2024<br \/>\nMinggu Prapaskah IV<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yoh 3:16<br \/>\nBacaan Injil: Yoh 3:14-21<br \/>\n***************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYoh 3:16<br \/>\nBegitu besar kasih Allah akan dunia,<br \/>\nsehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,<br \/>\nsupaya setiap orang yang percaya kepada-Nya<br \/>\nberoleh hidup yang kekal.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nYoh 3:14-21<br \/>\nAllah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia untuk menyelamatkannya.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Yohanes:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa,<br \/>\nYesus berkata kepada Nikodemus<br \/>\nyang datang kepada-Nya pada waktu malam,<br \/>\n&#8220;Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun,<br \/>\ndemikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,<br \/>\nsupaya setiap orang yang percaya kepada-Nya<br \/>\nberoleh hidup yang kekal.<br \/>\nKarena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,<br \/>\nsehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,<br \/>\nsupaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,<br \/>\nmelainkan beroleh hidup yang kekal.<br \/>\nSebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia<br \/>\nbukan untuk menghakimi dunia,<br \/>\nmelainkan untuk menyelamatkannya.<br \/>\nBarangsiapa percaya kepada-Nya,<br \/>\nia tidak akan dihukum;<br \/>\ntetapi barangsiapa tidak percaya,<br \/>\nia telah berada di bawah hukuman,<br \/>\nsebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.<\/p>\n<p>Dan inilah hukuman itu:<br \/>\nTerang telah datang ke dalam dunia,<br \/>\ntetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang,<br \/>\nsebab perbuatan-perbuatan mereka jahat,<br \/>\nsebab barangsiapa berbuat jahat,<br \/>\nia membenci terang dan tidak datang kepada terang itu,<br \/>\nsupaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;<br \/>\ntetapi barangsiapa melakukan yang benar,<br \/>\nia datang kepada terang,<br \/>\nsupaya menjadi nyata,<br \/>\nbahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<\/p>\n<p>************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cDan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.\u201d [Yoh 3: 14 \u2013 15]<\/p>\n<p>Bacaan Injil hari ini merupakan dialog Yesus dengan Nikodemus, seorang Farisi yang memanfaatkan kegelapan dan keheningan malam untuk \u201cdiam-diam\u201d mendatangi Yesus.<\/p>\n<p>Dalam pembicaraan itu, Yesus membandingkan Anak Manusia yang ditinggikan dengan ular tembaga yang \u201cditinggikan\u201d oleh Musa di padang gurun. Kita memahami bahwa memandang Yesus yang &#8220;ditinggikan&#8221; berarti memusatkan pandangan kita pada kasih yang tak tergoyahkan yang Yesus tunjukkan dalam kematian-Nya di kayu salib.<\/p>\n<p>Di padang gurun, Musa meninggikan ular tembaga pada tiang agar supaya orang-orang Israel yang memandang ular tembaga itu diselamatkan dari pagutan ular-ular tedung yang didatangkan YHWH-Allah karena dosa pemberontakan mereka (lihat Bil 21:4-9). Saat ini, \u201cular-ular\u201d yang melukai, meracuni keberadaan kita dan membahayakan hidup kita adalah kesombongan, iri hati, kebencian, dan nafsu yang tidak terkendali. Setiap saat, kita menemukan ular-ular yang mengintai di sekitar kita, tetapi yang paling utama adalah ular-ular yang ada di dalam diri kita sendiri. Ular-ular itu adalah keinginan untuk memiliki harta benda, hiruk-pikuk kekuasaan, dan keinginan untuk mendapatkan popularitas. Injil menjanjikan bahwa hanya dengan mengalihkan pandangan kita kepada Dia yang telah bangkit di atas kayu salib, kita dapat disembuhkan dari racun maut yang telah disuntikkan ke dalam hati manusia. Seperti yang diyakinkan oleh penginjil, suatu hari nanti kita akan memandang Dia yang telah kita tikam (Yoh 19:37) dan diselamatkan.<\/p>\n<p>Masa Prapaskah bukan hanya tentang pertobatan, namun juga berfokus pada kasih Allah, dan kita harus mengingatnya dalam hati kita: &#8220;Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal&#8221;. Ini berbicara tentang Allah yang mengasihi kita tanpa batas. Dia yang ditinggikan di salib adalah kasih tanpa batas itu.<\/p>\n<p>Masa Prapaskah adalah tentang melihat ke atas, memandang dia yang tersalib, dan mengenali di sana kasih Allah yang tanpa batas, sehingga kita juga dapat mengasihi tanpa batas.<\/p>\n<p>Tuhan, sambil memandang salib-Mu, kami mohon, semoga kami sungguh-sungguh menjadi tanda kasih, pengharapan dan pengampunan Allah bagi semua orang. Amin.<\/p>\n<p>Selamat Hari Minggu Sukacita. Allah mengasihi tanpa batas. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"NKpHnZXIff\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/memandang-dia-yang-tersalib\/\">MEMANDANG DIA YANG TERSALIB<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;MEMANDANG DIA YANG TERSALIB&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/memandang-dia-yang-tersalib\/embed\/#?secret=NbiJ41xcYD#?secret=NKpHnZXIff\" data-secret=\"NKpHnZXIff\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Minggu 10 Maret 2024 Minggu Prapaskah ke IV Yohanes 3:14-15 (Yoh 3:14-21) \u201dSama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-43669","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/43669","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=43669"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/43669\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":43670,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/43669\/revisions\/43670"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=43669"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=43669"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=43669"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}