{"id":43584,"date":"2024-03-09T09:26:50","date_gmt":"2024-03-09T02:26:50","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=43584"},"modified":"2024-03-09T09:26:50","modified_gmt":"2024-03-09T02:26:50","slug":"sabtu-09-maret-2024-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=43584","title":{"rendered":"Sabtu, 09 Maret 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 09 Maret 2024<br \/>\nLukas 18:13-14a (Luk 18:9-14)<br \/>\n\u201dTetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak.\u201d<\/p>\n<p>Yesus selalu mengingatkan kita betapa Allah Bapa selalu tergerak hati ketika anakNya yang Ia cintai datang dengan penuh kerendahan hati mengakui dosanya dan memohon belaskasih pengampunanNya.<br \/>\nYesus telah datang ke dunia mencari anak-anak Allah yang tersesat dan hilang. Ia tidak berdiam diri menanti kita pulang. Ia terus mencari kita dengan cara berdiam di hati kita dalam RohNya. Yesus terus mengetuk pintu hati kita agar ada rasa sesal di hati. Ia menyadarkan kita betapa Allah tak pernah lelah mengampuni kita.<br \/>\nDatanglah dengan penuh kerendahan hati. Seperti si pemungut cukai, mari kita tundukkan kepala menepuk dada tanda sesal dan tobat, karena tak layak berdiri di hadapan Allah. Jangan seperti si orang Farisi yang merasa benar dan sombong. Biarlah semangat tobat si pemungut cukai menjadi semangat tobat kita dan doanya menjadi doa kita.<br \/>\n\u201dYa Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.\u201d<br \/>\nRasakanlah rangkulan kasih Allah yang penuh pengampunan, memberi kehangatan dan damai di hati, memulihkan hidup kita untuk tegak berdiri sebagai anak-anak Allah.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Yesus menyertai kita.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 09 Mar 2024<br \/>\nSabtu Prapaskah III<br \/>\nPF S. Fransiska dari Roma, Biarawati<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 95:8ab<br \/>\nBacaan Injil: Luk 18:9-14<br \/>\n***************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 95:8ab<br \/>\nPada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan,<br \/>\njanganlah bertegar hati.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 18:9-14<br \/>\nPemungut cukai ini pulang ke rumahnya,<br \/>\nsebagai orang yang dibenarkan Allah.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa,<br \/>\nYesus menyatakan perumpamaan ini<br \/>\nkepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar<br \/>\ndan memandang rendah semua orang lain:<br \/>\n&#8220;Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa;<br \/>\nyang satu adalah orang Farisi dan yang lain pemungut cukai.<br \/>\nOrang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini:<br \/>\nYa Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu,<br \/>\nkarena aku tidak sama seperti semua orang lain,<br \/>\naku bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah,<br \/>\ndan bukan juga seperti pemungut cukai ini.<br \/>\nAku berpuasa dua kali seminggu,<br \/>\naku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.<\/p>\n<p>Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh,<br \/>\nbahkan ia tidak berani menengadah ke langit,<br \/>\nmelainkan ia memukul diri dan berkata,<br \/>\nYa Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.<\/p>\n<p>Aku berkata kepadamu:<br \/>\nOrang ini pulang ke rumahnya<br \/>\nsebagai orang yang dibenarkan Allah,<br \/>\nsedang orang lain itu tidak.<br \/>\nSebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan,<br \/>\ndan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<\/p>\n<p>*************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>*_\u201cBarangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.\u201d (Luk 18: 14)*<\/p>\n<p>Apakah orang Farisi yang dikisahkan oleh Yesus dalam Injil hari ini sungguh-sungguh buruk? Kita masih dapat belajar daripadanya bagaimana menjalankan perintah-perintah Tuhan. Ia bukan perampok, bukan pezinah, bukan orang lalim, rajin berpuasa, dan taat memberikan derma. Dalam hal-hal tersebut layaklah ia diacungi jempol. Tetapi ia pantas dicela karena kesombongannya dan karena merasa diri paling benar.<\/p>\n<p>Di pihak lain, para pemungut cukai pada masa Yesus biasa dicela karena penyelewengan mereka dalam menarik pajak. Mereka tidak jujur dan korup dan dengan demikian tidak menaati perintah Allah. Dalam hal ini pemungut cukai itu tak patut dicontoh.<\/p>\n<p>Akan tetapi, kita patut mencontoh pemungut cukai dalam Injil hari ini, dalam kerendahan hatinya. Ia mengakui keberdosaannya, mengakui bahwa ia bukanlah apa-apa di hadapan Allah. Maka layaklah ia dibenarkan oleh Allah.<\/p>\n<p>Dengan demikian, si Farisi tidak sepenuhnya tercela dan si pemungut cukai juga tidak sepenuhnya dapat diteladani.<\/p>\n<p>Tak seorangpun pendosa yang tak layak untuk diampuni. Demikian juga tak seorangpun begitu sempurna sehingga tak perlu lagi didoakan. Kita semua perlu mawas diri dan masih perlu didoakan karena kita semua adalah pendosa. Ada kebaikan dalam diri setiap orang, ada dosa pula dalam diri kita masing-masing. Kita hargai kebaikan dalam diri orang lain, dan kita perlu saling koreksi untuk menjadi lebih baik. Kita boleh bersyukur untuk apa yang baik dalam diri kita masing-masing, tetapi perlu juga mawas diri dan dengan jujur serta rendah hati mengakui kekurangan kita.<\/p>\n<p>Tuhan, ajarlah aku untuk benar-benar rendah hati dengan mengasihi dan melayani Engkau dan sesama dengan lebih tulus. Amin.<\/p>\n<p>Selamat pagi, selamat berakhir pekan. Semoga kita semakin hari semakin rendah hati. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"aOblFo9nZw\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/kebaikan-dalam-diri-setiap-orang\/\">KEBAIKAN DALAM DIRI SETIAP ORANG<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;KEBAIKAN DALAM DIRI SETIAP ORANG&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/kebaikan-dalam-diri-setiap-orang\/embed\/#?secret=3ZfhtBKQLg#?secret=aOblFo9nZw\" data-secret=\"aOblFo9nZw\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 09 Maret 2024 Lukas 18:13-14a (Luk 18:9-14) \u201dTetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-43584","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/43584","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=43584"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/43584\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":43585,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/43584\/revisions\/43585"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=43584"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=43584"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=43584"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}