{"id":43312,"date":"2024-03-05T10:43:13","date_gmt":"2024-03-05T03:43:13","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=43312"},"modified":"2024-03-05T10:43:13","modified_gmt":"2024-03-05T03:43:13","slug":"selasa-05-maret-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=43312","title":{"rendered":"Selasa, 05 Maret 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 05 Maret 2024<br \/>\nMatius 18:21-22 (Mat 18:21-35)<br \/>\nDatanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: &#8220;Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?&#8221; Yesus berkata kepadanya: &#8220;Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.<\/p>\n<p>Seorang wanita Yahudi Jerman lolos dari kamp penyiksaan oleh Nazi Hitler tahun 1945. Waktu itu ia masih kecil dan ditahan dalam kamp konsentrasi bersama kedua orangtuanya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana orangtuanya disiksa dan dibunuh dengan gas beracun oleh para serdadu Nazi. Setelah dewasa ia masuk Kristen dan menjadi seorang penginjil yang terkenal.<br \/>\nPada suatu ketika ia dengan penuh semangat mewartakan apa artinya mengampuni orang yang bersalah pada kita, sebagaimana yang diminta Yesus.<br \/>\nSesudah penginjilan yang begitu indah itu, seorang opa tua datang mendekatinya dan berkata, \u201cTerimakasih atas kotbah yang indah dan menyentuh hati tadi. Aku merasa lega, karena aku termasuk salah satu serdadu Nazi yang menyiksa orangtuamu.\u201d Opa itu mengulurkan tangan mengucapkan terimakasih. Namun tiba-tiba semua peristiwa mengerikan di masa lalu muncul di benak si wanita ini. Ia begitu marah dan tidak mampu menerima uluran tangan si penyiksa papa mamanya yang ada di depannya.<br \/>\nBetapa berat mengampuninya. Dendam dan kemarahannya ternyata belum hilang sekalipun ia telah berkali-kali berkotbah mengenai pengampunan.<br \/>\nSadar akan ketakmampuannya untuk mengampuni, iapun memejamkan matanya dan berdoa, \u201cYa Yesus aku tak sanggup mengampuninya. Berilah aku rahmat kekuatanMu untuk mampu mengampuninya. Engkau sudah mengampuni kami yang telah menyiksa dan membunuh Engkau di kayu salib dan memintakan ampun bagi kami dari Bapa di surga\u2026.\u201d<br \/>\nAkhirnya tangannya terulur untuk menjabat tangan si penyiksa orangtuanya dan menatapnya dengan tatapan kasih Yesus.<br \/>\nBila sulit mengampuni, mintalah Yesus menolong kita untuk menjadikan hatiNya menjadi hati kita, kasihNya menjadi kasih kita.<br \/>\n\u201cYa Yesus, mampukan kami untuk mengampuni lebih dari 70&#215;7 kali.\u201d<\/p>\n<p>Selamat hari baru, semangat baru untuk mengampuni.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 05 Mar 2024<br \/>\nSelasa Prapaskah III<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yl 2:12-13<br \/>\nBacaan Injil: Mat 18:21-35<br \/>\n\u2020***************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYl 2:12-13<br \/>\nBerbaliklah kepada-Ku dengan segenap hati, sabda Tuhan,<br \/>\nsebab Aku ini pengasih dan penyayang.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 18:21-35<br \/>\nJika kamu tidak mau mengampuni saudaramu,<br \/>\nBapa pun tidak akan mengampuni kamu.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa, Petrus datang kepada Yesus dan berkata,<br \/>\n&#8220;Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku<br \/>\njika ia berbuat dosa terhadap aku?<br \/>\nSampai tujuh kali?&#8221;<br \/>\nYesus berkata kepadanya, &#8220;Bukan!<br \/>\nAku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali,<br \/>\nmelainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.<\/p>\n<p>Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja<br \/>\nyang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.<br \/>\nKetika ia mulai mengadakan perhitungan itu,<br \/>\ndihadapkanlah kepadanya seorang<br \/>\nyang berhutang sepuluh ribu talenta.<br \/>\nTetapi karena orang itu tidak mampu melunasi hutangnya,<br \/>\nraja itu memerintahkan<br \/>\nsupaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya<br \/>\nuntuk membayar hutangnya.<\/p>\n<p>Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya:<br \/>\nSabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.<br \/>\nLalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu,<br \/>\nsehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.<\/p>\n<p>Tetapi ketika hamba itu keluar,<br \/>\nia bertemu dengan seorang hamba lain<br \/>\nyang berhutang seratus dinar kepadanya.<br \/>\nIa menangkap dan mencekik kawannya itu,<br \/>\nkatanya: Bayar hutangmu!<br \/>\nMaka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya:<br \/>\nSabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.<br \/>\nTetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara<br \/>\nsampai dilunaskan segala hutang itu.<\/p>\n<p>Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih<br \/>\nlalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.<br \/>\nMaka raja itu menyuruh memanggil hamba pertama tadi<br \/>\ndan berkata kepadanya:<br \/>\nHai hamba yang jahat!<br \/>\nSeluruh hutangmu telah kuhapuskan<br \/>\nkarena engkau memohonnya kepadaku.<br \/>\nBukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu<br \/>\nseperti aku telah mengasihi engkau?<br \/>\nMaka marahlah tuannya itu<br \/>\ndan menyerahkan dia kepada algojo-algojo,<br \/>\nsampai ia melunaskan seluruh hutangnya.<br \/>\nDemikianlah Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadap kamu,<br \/>\napabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu<br \/>\ndengan segenap hatimu.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah Sabda Tuhan.<\/p>\n<p>\u2020********************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201dTuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?&#8221; \u2026.. &#8220;Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.\u201d [Mat 18: 21 \u2013 22]<\/p>\n<p>Bacaan Injil hari ini berfokus pada karunia pengampunan. Pelayanan dan khotbah Yesus juga berpusat pada hal ini dalam Perjanjian Baru. Ketika seseorang menyinggung perasaan kita, kita akan mengingat setiap penghinaan, setiap cercaan, dan setiap kata sampai sedetil-detilnya. Itulah sebabnya sangat sulit bagi kita untuk mengampuni bahkan sekali atau dua kali.<\/p>\n<p>Mengampuni tujuh kali, seperti yang diusulkan oleh Petrus, itu sudah luar biasa, melebihi hal yang wajar. Namun Yesus berkata kepadanya, &#8220;Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.&#8221; Dengan kata lain, Yesus menghendaki agar kita mengampuni secara terus-menerus, tanpa henti, dan tanpa perhitungan. Seluruh hidup Anda harus menjadi sebuah tindakan pengampunan.<\/p>\n<p>Perumpamaan dalam Injil hari ini menceritakan tentang seorang hamba yang telah diampuni begitu banyak. Setidaknya ia harus menunjukkan pengampunan kepada orang yang berutang kepadanya. Esensi rohani dari hal ini adalah bahwa tidak peduli berapa pun \u201chutang\u201d seseorang kepada Anda, itu jauh lebih kecil daripada apa yang telah Allah berikan dengan murah hati kepada Anda. Pengampunan yang telah Anda terima dari Allah jauh lebih besar daripada pengampunan yang mungkin harus Anda berikan. Kitab suci sering berbicara tentang \u201cdosa\u201d sebagai \u201chutang\u201d. Dalam pola pikir Semitik kata &#8220;dosa&#8221; itu adalah &#8216;hutang&#8217;. Maka, &#8220;pengampunan dosa&#8221; menurut pola pikir orang Yahudi itu ibarat seseorang yang punya hutang tapi dianggap lunas.<\/p>\n<p>Menjadi tanda dan sarana kehidupan, kasih karunia, pengampunan, dan perdamaian Allah adalah tujuan akhir hidup kita. Biarkan apa yang telah dicurahkan ke dalam diri Anda mengalir melalui diri Anda &#8211; itulah keseluruhan cerita kita hari ini.<\/p>\n<p>Tuhan, semoga kami saling mengampuni, seperti Engkau telah mengampuni kami. Amin.<\/p>\n<p>Selamat beraktivitas hari ini. Mari saling mengampuni. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"nK11lED9db\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/biarkan-yang-dicurahkan-kepada-anda-mengalir-melalui-anda\/\">BIARKAN YANG DICURAHKAN KEPADA ANDA MENGALIR MELALUI ANDA<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;BIARKAN YANG DICURAHKAN KEPADA ANDA MENGALIR MELALUI ANDA&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/biarkan-yang-dicurahkan-kepada-anda-mengalir-melalui-anda\/embed\/#?secret=5qCSCfZh31#?secret=nK11lED9db\" data-secret=\"nK11lED9db\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 05 Maret 2024 Matius 18:21-22 (Mat 18:21-35) Datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: &#8220;Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?&#8221; Yesus&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-43312","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/43312","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=43312"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/43312\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":43313,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/43312\/revisions\/43313"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=43312"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=43312"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=43312"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}