{"id":432,"date":"2014-01-31T07:47:09","date_gmt":"2014-01-31T00:47:09","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=432"},"modified":"2014-01-31T07:47:09","modified_gmt":"2014-01-31T00:47:09","slug":"musibah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=432","title":{"rendered":"Musibah"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_14_0_1_1391128866888_1539\" align=\"center\"><b id=\"yui_3_14_0_1_1391128866888_1583\"><span id=\"yui_3_14_0_1_1391128866888_1582\" style=\"text-decoration: underline;\">MUSIBAH<br \/>\n<\/span><\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1391128866888_1587\" align=\"center\">(Kontemplasi Peradaban)<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1391128866888_1588\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1391128866888_1575\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Pernah suatu kali saya melawat orang yang sedang sakit di Rumah Sakit Fatmawati \u2013 Jakarta. Ia seorang\u00a0<i>businessman<\/i>\u00a0yang super sibuk\u00a0<i>(busy).<\/i>\u00a0Tidak ada waktu untuk tafakur maupun\u00a0\u00a0mawas diri dan merasakan indahnya cinta dari keluarga. Dari pagi \u2013 sebelum anak-anak bangun \u2013 hingga malam \u2013 setelah anak-anak tidur \u2013\u00a0<i>businessman<\/i>\u00a0itu disibukkan dengan pelbagai kegiatan perusahaannya.\u00a0\u00a0Katanya kepadaku, \u201c<i>Duh<\/i>, sudah enam hari ini saya tergolek di tempat tidur\u00a0<i>(bed-rest).<\/i>\u00a0Biasanya saya sibuk ke sana kemari. Tetapi selama ini saya baru merasakan\u00a0\u00a0betapa lucunya anak-anak saya. Ia setiap hari di sekeliling saya: mengambilkan minum, pijat kaki dan bercerita tentang pengalaman-pengalaman mereka di sekolah. Musibah yang saya alami ini membawa berkah yang melimpah ruah!\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1391128866888_1570\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Tanpa kita sadari,\u00a0\u00a0tidak jarang kita menyaksikan orang-orang yang menolak dan tidak ikhlas dengan musibah. Bahkan musibah dianggapnya sebagai hukuman ataupun kutukan. Harold S. Kushner dalam\u00a0\u00a0<i>Derita Kutuk atau Rahmat<\/i>, menuliskan bahwa pada awal mula ia terpukul, menyalahkan Tuhan ketika mendengar berita bahwa anaknya menderita penyakit\u00a0\u00a0<i>progeria<\/i>, proses ketuaan yang cepat.\u00a0\u00a0Ia melihat musibah sebagai musibah belaka.\u00a0Atau dalam tradisi Jawa, jika\u00a0\u00a0seorang perawan yang sudah masanya nikah tetapi belum dipinang lelaki, ini bagaikan aib atau\u00a0\u00a0musibah bagi keluarga. Setiap merayakan\u00a0<i>weton<\/i>\u00a0(hari lahir seseorang dengan pasarannya:\u00a0<i>Legi, Pahing, Pon, Wage\u00a0<\/i>dan<i>\u00a0Kliwon<\/i>), maka sang ibu masuk kamar dan menangisi \u201chari yang indah itu\u201d. Ibu menangis karena semakin hari semakin dekat dengan musibah,\u00a0\u00a0sebab anaknya akan menjadi perawan tua,\u00a0<i>superadulta<\/i>, yang berarti kelewat umur (Bdk. \u201cAyub mengutuki hari kelahirannya\u201d \u2013 Ayb. 3: 1).<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1391128866888_1568\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Untuk menggapai musibah ini, kita perlu berguru kepada pemain film yang berjudul\u00a0<i>\u201cLawrence of Arabia.\u201d<\/i>\u00a0\u00a0Ia menganjurkan temannya untuk hidup di gurun bersama dengan bangsa Arab. Mereka percaya bahwa semua kata yang ditulis oleh Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur\u2019an adalah wahyu dari Allah. Jadi ketika Al-Qur\u2019an mengatakan, \u201cTuhan telah menciptakan kamu dan semua tindakanmu,\u201d mereka menerimanya secara harfiah. Itulah sebabnya\u00a0mereka menerima dan menjalani hidup dengan tenang dan tidak pernah tergesa-gesa atau terjebak balam kemarahan yang tidak perlu ketika terjadi sesuatu yang salah. Dia bercerita bahwa kehidupan di padang gurun sangat mengerikan. Angin begitu panas sehingga ia merasa seolah-olah rambutnya akan dicopot dari kepala. Tenggorokannya kering. Matanya terbakar dan giginya penuh dengan pasir. Ia merasa seakan berdiri di hadapan oven yang terdapat di sebuah pabrik gelas. Ia hampir merasa gila. Tetapi orang-orang Arab itu tidak mengeluh. Mereka hanya mengangkat bahu mereka dan berkata,<i>\u201cMektoub!\u201d<\/i>\u00a0yang artinya, \u201cTadir, hal ini sudah tertulis!\u201d (Bdk. Dale Carnegie (1888 \u2013 1955) dalam\u00a0\u00a0<i>Mengatasi Rasa Cepas dan Depresi<\/i>, hlm. 357).\u00a0\u00a0Saya menjadi ingat akan seorang\u00a0\u00a0teolog dan professor di Union Thelogical Seminary \u2013 Amerika\u00a0\u00a0\u00a0yang bernama Karl Paul Reinhold Niebuhr (1892 \u2013 1974). Dia menulis doa yang cukup terkenal, \u201cTuhan berilah aku kedamaian agar aku bisa menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah. Keberanina untuk mengubah hal yang bisa kuubah dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1391128866888_1590\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Dalam memaknai musibah, kita juga dapat berguru kepada \u201corang-orang besar\u201d. Napoleon Bonaparte (1769 \u2013 1821) memiliki segalanya yang biasa dicari oleh setiap orang: kejayaan, kekuasaan dan kekayaan. Tetapi ironisnya,\u00a0di pulau St. Helena \u2013 karena dibuang dan diasingkan \u2013\u00a0\u00a0ia berkata, \u201cSaya tidak pernah mengalami lebih dari enam hari bahagia dalam hidup saya.\u201d\u00a0Sementara Helen Keller (1880 \u2013 1968)\u00a0\u00a0\u2013 buta, tuli, bisu \u2013 mengatakan, \u201cSaya telah menemukan bahwa hidup itu begitu indah!\u201d Testimoni-testimoni mereka sebenarnya hendak memberikan penlajaran bagi\u00a0\u00a0kita bahwa apa pun terpuruknya hidup kita karena musibah, pasti ada jalan keluarnya. \u201cSetiap pangkal ada ujungnya!\u201d kata seorang bijak. Atau bahasa religiusnya, \u201cIa membuat segala sesuatu indah pada waktunya\u201d (Pkh 3: 11).<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Musibah seyogianya menjadi \u201csahabat.\u201d Ajahn Bram dalam\u00a0<i>Horeee ! Guru Cacing Datang<\/i>, bercerita, \u201cJika kita menginjak kotoran anjing, jangan buru-buru bersihkan sepatu Anda! Bawalah pulang kotoran itu dan bersihkanlah di rumah Anda\u00a0\u00a0di bawah pohon mangga. Setahun kemudian, mangga Anda akan lebih manis, lebih ranum dan lezat dari sebelumnya. Ternyata, kotoran anjing yang paling bau dan paling kotor sekalipun bisa menjadi pupuk bagi mangga\u201d (hlm. 162). Musibah seperti: nama jelek, difitnah dan dikhianati memang menyakitkan dan melumpuhkan diri kita. Tidak perlu kita \u201cmengutuki\u201d musibah yang kita alami. Kita juga bisa belajar dari pengalaman Ignatius dari Loyola (1491 \u2013 1556)\u00a0\u00a0yang berbaring sakit di benteng Pamplona\u00a0\u00a0karena terluka. Untuk mengisi \u201cwaktu luangnya\u201d ia minta bacaan roman. Namun yang didapatkan adalah buku\u00a0<i>Vita Christi<\/i>\u00a0(kehidupan Kristus) dan\u00a0<i>Flos Sactorum\u00a0<\/i>(Bunga rampai para Kudus). Awalnya ia tidak berkenan, tetapi akhirnya \u201cmenikmati\u201d bacaan tersebut yang akhirnya membuat dirinya berbalik 180 \u030a\u00a0\u00a0menjadi pahlawan Kristus (Bdk.\u00a0<i>Sejarah Ordo Serikat Yesus\u00a0<\/i>tulisan A.M. Mangunhardjana SJ, hlm.14). Musibah membawa berkah!<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1391128866888_1596\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Musibah, bencana, tragedi, kecelakaan dan\u00a0\u00a0penderitaan bisa menjadi \u201cpelajaran berharga\u201d jika kita menerimanya dengan ikhlas hati.\u00a0\u00a0Dibutuhkan kesabaran dan tawakal. \u201cHabis akal baru tawakal\u201d, sesudah berikhtiar, baru berserah kepada Tuhan.<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1391128866888_1594\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1391128866888_1593\"><b>\u00a0<\/b>Kamis, 30 Januari 2014<b id=\"yui_3_14_0_1_1391128866888_1591\">\u00a0\u00a0 Rm. Markus Marlon, MSC<\/b><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MUSIBAH (Kontemplasi Peradaban) \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Pernah suatu kali saya melawat orang yang sedang sakit di Rumah Sakit Fatmawati \u2013 Jakarta. Ia seorang\u00a0businessman\u00a0yang super sibuk\u00a0(busy).\u00a0Tidak ada waktu untuk tafakur maupun\u00a0\u00a0mawas diri dan merasakan indahnya cinta dari keluarga.&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":335,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-432","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/orgel.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/432","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=432"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/432\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":433,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/432\/revisions\/433"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/335"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=432"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=432"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=432"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}