{"id":43146,"date":"2024-03-02T19:45:50","date_gmt":"2024-03-02T12:45:50","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=43146"},"modified":"2024-03-02T19:45:50","modified_gmt":"2024-03-02T12:45:50","slug":"sabtu-02-maret-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=43146","title":{"rendered":"Sabtu, 02 Maret 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 02 Maret 2024<br \/>\nLukas 15:31-32 (Luk 15:1-3, 11-32)<br \/>\n\u201dKata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.&#8221;<\/p>\n<p>Betapa sedih hati si Bapa yang dikisahkan Yesus dalam perumpamaan \u201canak yang hilang \u201cini. Si bungsu dengan begitu menyakitkan memutuskan ikatan bukan hanya bapa-anak, tapi juga kakak-adik dan memilih hidup terpisah dari keluarganya untuk mengejar ambisinya sendiri.<br \/>\nDengan sombongnya ia merasa mampu mengatur hidupnya tanpa perlu hidup bersama dengan keluarganya. Betapa menyakitkan hati seorang bapa, bila anaknya tidak lagi membutuhkannya apalagi tidak menghargainya sebagai bapa.<br \/>\nDi pihak lain, anak yang sulung, ia tinggal serumah dengan bapanya, tapi ternyata hanya seatap tapi tidak sehati. Memang ia kelihatan dengar-dengaran tapi tidak bahagia dengan semua yang ada padanya. Ia lebih peduli dengan dirinya daripada ikut prihatin dengan kesedihan hati ayahnya karena kehilangan adiknya. Ia tetap menyimpan dendam pada adiknya, karena itu ia tidak setuju bila bapanya berbaik hati dan mengampuni adiknya.<br \/>\nBetapa terluka hati si bapa. Anaknya yang satu memisahkan diri dan meninggalkannya dan yang satu tetap tinggal dan hidup bersamanya tapi dengan kedekatan semu dan tak mendalam.<br \/>\nMelalui kisah ini, Yesus ingin menunjukkan betapa Allah Bapa kita begitu mengasihi kita sekalipun kita banyak kali melukai hatiNya. KasihNya jauh melampaui dosa dan pelanggaran kita. RangkulanNya jauh melampaui baik buruknya kepribadian kita.<br \/>\nAllah Bapa kita sangat merindukan kita. Mari pulang kembali. Bertobat dan berdamai kembali, itulah jalan untuk bersatu lagi dan melekat di hati Allah Bapa kita.<br \/>\nRasa sesal dan tobat sesungguhnya adalah karya Roh Kudus untuk menuntun kita pulang kembali. Bapa tetap setia menanti kita. Kata Paus Fransiskus, \u201cBapa di surga tak pernah lelah mengampuni kita. Kita yang lelah memohon ampun padaNya.\u201d<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Bahagianya kita punya Bapa seperti Allah kita.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 02 Mar 2024<br \/>\nSabtu Prapaskah II<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Luk 15:18<br \/>\nBacaan Injil: Luk 15:1-3.11-32<br \/>\n***************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nLuk 15:18<br \/>\nAku akan bangkit dan pergi kepada bapaku<br \/>\ndan berkata kepadanya,<br \/>\n&#8220;Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa.&#8221;<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 15:1-3.11-32<br \/>\nSaudaramu telah mati dan kini hidup kembali.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa<br \/>\nbiasa datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.<br \/>\nMaka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat,<br \/>\nkatanya,<br \/>\n&#8220;Ia menerima orang-orang berdosa<br \/>\ndan makan bersama-sama dengan mereka.&#8221;<\/p>\n<p>Maka Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.<br \/>\nKata yang bungsu kepada ayahnya,<br \/>\n&#8216;Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita<br \/>\nyang menjadi hakku.&#8217;<br \/>\nLalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu<br \/>\ndi antara mereka.<\/p>\n<p>Beberapa hari kemudian<br \/>\nanak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu<br \/>\nlalu pergi ke negeri yang jauh.<br \/>\nDi sana ia memboroskan harta miliknya itu<br \/>\ndengan hidup berfoya-foya.<br \/>\nSetelah dihabiskannya harta miliknya,<br \/>\ntimbullah bencana kelaparan di negeri itu<br \/>\ndan ia pun mulai melarat.<br \/>\nLalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu.<br \/>\nOrang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babi.<br \/>\nLalu ia ingin mengisi perutnya<br \/>\ndengan ampas yang menjadi makanan babi itu,<br \/>\ntetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya.<br \/>\nLalu ia menyadari keadaannya, katanya:<br \/>\n&#8216;Betapa banyak orang upahan bapaku<br \/>\nyang berlimpah-limpah makanannya,<br \/>\ntetapi aku di sini mati kelaparan.<br \/>\nAku akan bangkit dan pergi kepada bapaku<br \/>\ndan berkata kepadanya:<br \/>\nBapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa;<br \/>\naku tidak layak lagi disebutkan anak Bapa;<br \/>\njadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.&#8217;<\/p>\n<p>Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya.<br \/>\nKetika ia masih jauh, ayahnya telah melihat dia,<br \/>\nlalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.<br \/>\nAyah itu berlari mendapatkan dia<br \/>\nlalu merangkul dan mencium dia.<br \/>\nKata anak itu kepadanya:<br \/>\nBapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa,<br \/>\naku tidak layak lagi disebutkan anak Bapa.<br \/>\nTetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya,<br \/>\n&#8216;Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik,<br \/>\ndan pakaikanlah kepadanya;<br \/>\nkenakanlah cincin pada jarinya, dan sepatu pada kakinya.<br \/>\nDan ambillah anak lembu tambun itu,<br \/>\nsembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.<br \/>\nSebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali,<br \/>\nia telah hilang dan didapat kembali.<\/p>\n<p>Maka mulailah mereka bersukaria.<br \/>\nTetapi anaknya yang sulung sedang berada di ladang.<br \/>\nKetika ia pulang dan dekat ke rumah,<br \/>\nia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.<br \/>\nLalu ia memanggil salah seorang hamba<br \/>\ndan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.<br \/>\nJawab hamba itu, &#8216;Adikmu telah kembali,<br \/>\ndan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun,<br \/>\nkarena ia mendapatnya kembali anak itu dengan selamat.&#8217;<\/p>\n<p>Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk.<br \/>\nLalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.<br \/>\nTetapi ia menjawab ayahnya, katanya,<br \/>\n&#8216;Telah bertahun-tahun aku melayani Bapa,<br \/>\ndan belum pernah aku melanggar perintah Bapa,<br \/>\ntetapi kepadaku<br \/>\nbelum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing pun<br \/>\nuntuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.<br \/>\nTetapi baru saja datang anak Bapa<br \/>\nyang telah memboroskan harta kekayaan Bapa<br \/>\nbersama dengan pelacur-pelacur,<br \/>\nmaka Bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.&#8217;<br \/>\nKata ayahnya kepadanya,<br \/>\n&#8216;Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku,<br \/>\ndan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.<br \/>\nKita patut bersukacita dan bergembira<br \/>\nkarena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali,<br \/>\nia telah hilang dan didapat kembali.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah Sabda Tuhan.<\/p>\n<p>************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cMaka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.\u201d (Luk 15: 20)<\/p>\n<p>Perumpamaan tentang Anak yang Hilang memiliki cerita yang berlapis-lapis, tetapi pada intinya adalah kerinduan Allah untuk mengasihi dan menyambut kita ke dalam pelukan-Nya. Kisah ini dimulai dengan seorang anak muda yang memilih untuk berpaling dari ayahnya dan dilanjutkan dengan penjelasan tentang dampak dari pilihan tersebut.<\/p>\n<p>Dalam hal apa saja kita telah berpaling dari Allah? Apa saja konsekuensi dari pilihan-pilihan itu? Ketika kita melanjutkan membaca kisah tersebut, pemuda itu &#8220;sadar&#8221; dan bertobat, memohon belas kasihan dan pengampunan. Kita harus memperhatikan bahwa tidak ada satu pun bagian dari kisah ini yang menunjukkan bahwa pemuda itu dipanggil untuk bertobat. Yang ia lakukan hanyalah mengingat ayahnya dan ingatan akan kasih dan kemurahan hati sang ayah begitu kuat dan jelas sehingga membangkitkan respons alami berupa penyesalan, pertobatan, dan keinginan untuk berkumpul kembali.<\/p>\n<p>Segera setelah ia kembali, begitu melihatnya di kejauhan, sang ayah berlari tergopoh-gopoh dan memeluk anaknya tanpa menghukum atau mengkritik. Allah sangat ingin mengasihi kita dan menyambut kita kembali ke rumah-Nya. Hari ini, ingatlah akan belas kasih, akan kerahiman, dan kasih Allah yang tak terbatas. Sejauh apapun anda telah meninggalkan-Nya, kembalilah, Ia tetap akan tergopoh-gopoh menyambut dan memeluk anda.<\/p>\n<p>Seperti Allah menyambut anak-anak-Nya yang telah hilang dan pulang kembali, demikian juga kita harus mengampuni.<\/p>\n<p>Tuhan, jadikanlah aku pembawa kasih dan pengampunan. Amin.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"cg4ok88LN9\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/bapa-yang-berlimpah-dengan-belas-kasih\/\">BAPA YANG BERLIMPAH DENGAN BELAS KASIH<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;BAPA YANG BERLIMPAH DENGAN BELAS KASIH&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/bapa-yang-berlimpah-dengan-belas-kasih\/embed\/#?secret=F6zqCrXvL9#?secret=cg4ok88LN9\" data-secret=\"cg4ok88LN9\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 02 Maret 2024 Lukas 15:31-32 (Luk 15:1-3, 11-32) \u201dKata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-43146","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/43146","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=43146"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/43146\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":43147,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/43146\/revisions\/43147"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=43146"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=43146"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=43146"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}