{"id":427,"date":"2014-01-31T07:42:40","date_gmt":"2014-01-31T00:42:40","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=427"},"modified":"2014-01-31T07:42:40","modified_gmt":"2014-01-31T00:42:40","slug":"jumat-31-januari-2014","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=427","title":{"rendered":"Jumat, 31 Januari 2014"},"content":{"rendered":"<div>Peringatan Wajib St. Yohanes Bosko<\/div>\n<div><\/div>\n<div><a href=\"http:\/\/www.imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=2Sam11:1-4;2Sam11:5-10;2Sam11:13-17;\" target=\"_blank\">2Sam. 11:1-4a,5-10a,13-17<\/a>;\u00a0<a href=\"http:\/\/www.imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Mzm51:3-4;Mzm51:5-6;Mzm51:6-7;Mzm51:10-11;\" target=\"_blank\">Mzm. 51:3-4,5-6a,6bc-7,10-11<\/a>;\u00a0<a href=\"http:\/\/www.imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Mrk4:26-34;\" target=\"_blank\">Mrk. 4:26-34<\/a><\/div>\n<div><\/div>\n<div>\n<p align=\"justify\">Santa Marcella, Martir<\/p>\n<p align=\"justify\">Marcella dikenal sebagai putri bangsawan Romawi yang beragama Kristen. Ia menikah dengan seorang Pangeran Roma. Pernikahan ini tidak berlangsung lama karena suaminya meninggal dunia beberapa bulan kemudian. Pengalaman pahit ini membukakan baginya pintu masuk menuju suatu cara hidup baru yakni cara hidup religius\u00a0asketis. Dengan cara hidup ini, Marcella bermaksud mengabdikan hidupnya kepada Tuhan semata\u00a0mata dengan doa, puasa dan tapa sambil melakukan perbuatan\u00a0perbuatan baik kepada para miskin dan melarat di kota Roma.<\/p>\n<p align=\"justify\">Cara hidup religius\u00a0asketis yang dijalaninya mengikuti pola yang dipraktekkan oleh para rahib di dunia Timur. Dalam menjalani cara hidup tersebut, Marcella di bimbing oleh Santo Yerome. Banyak wanita Roma yang mengikuti Marcella. Mereka berdoa dan berpuasa serta mengenakan mode pakaian yang sama dengan yang dikenakan oleh Marcella. Bersama Marcella, mereka mengabdikan diri pada perlayanan orang\u00a0orang miskin dan terlantar. Perkumpulan religius\u00a0asketis ini terus berkembang pesat. Pengikut\u00a0pengikutnya semakin bertambah banyak. Karena itu Marcella membangun beberapa biara di seluruh kota Roma. Karena komunitas ini berpengaruh luas di seluruh kota, Marcella kemudian di tangkap dan dianiaya oleh orang\u00a0orang Goth (Jerman) yang pada waktu itu menguasai Roma. Marcella meninggal sebagai Martir Kristus kira\u00a0kira pada akhir Agustus 410.<\/p>\n<p align=\"justify\">Santo Yohanes Bosko, Imam<\/p>\n<p align=\"justify\">Yohanes Melkior Bosko lahir pada tanggal 16 Agustus 1815 di Becchi, sebuah desa dekat dengan kota Torino, Italia. Ketika menanjak remaja, anak petani yang sederhana ini tidak diperkenankan masuk sekolah oleh orang tuanya karena diharuskan bekerja di ladang. Dalam situasi ini ia diajar oleh seorang imam yang baik hati. Jerih payah imam tua itu menyadarkan orang tua Bosko akan pentingnya nilai pendidikan. Oleh karena itu sepeninggal imam tua itu, ibunya menyekolahkannya ke Castelnuovo. Pendidikan di Castelnuovo ini diselesaikannya dalam waktu satu setengah tahun. Kemudian ia mengikuti pendidikan imam di seminari Chieri dan ditabhiskan menjadi imam pada tahun 1841. Karyanya sebagai imam diabdikan seluruhnya pada pendidikan kaum muda. Ia membuka sebuah perkumpulan untuk menampung anak\u00a0anak muda yang terlantar, buta huruf dan miskin. Cita\u00a0citanya ialah mendidik para kawula muda itu menjadi manusia\u00a0manusia yang berguna dan mandiri. Ia berhasil mengumpulkan 1000 orang pemuda dari keluarga\u00a0keluarga miskin. Dengan penuh kesabaran, pengertian dan kasih sayang, ia mendidik mereka hingga mereka menjadi manusia yang baik dan bertanggung jawab. Salah seorang muridnya yang terkenal adalah Dominikus Savio, yang kemudian hari menjadi orang kudus.<\/p>\n<p align=\"justify\">Keberhasilannya ini terus membakar semangat untuk memperluas karyanya. Untuk itu ia mendirikan sebuah rumah yatim\u00a0piatu dan asrama. Dengan demikian para pemuda itu dapat tinggal bersama dalam satu rumah untuk belajar dan melatih diri dalam ketrampilan\u00a0ketrampilan yang berguna untuk hidupnya. Untuk pendidikan ketrampilan, Bosko merubah dapur di rumah ibunya menjadi sebuah bengkel sepatu dan bengkel kayu. Bengkel inilah merupakan Sekolah Teknik Katolik yang pertama. Sekolah ini tidak hanya menghindarkan pemuda\u00a0pemuda dari kenakalan remaja, tetapi juga menciptakan pemimpin\u00a0pemimpin di bidang industri dan teknik. Lebih dari itu, cara hidup Bosko sendiri berhasil membentuk kepribadian pemuda\u00a0pemuda itu menjadi orang\u00a0orang Kristen yang taat beragama bahkan saleh. Pada tahun 1859 atas restu Paus Pius IX (1846 &#8211; 1878), Bosko mendirikan sebuah tarekat religius untuk para imam dan bruder, yang dinamakan Kongregasi Salesian. Kemudian pada tahun 1872, bersama Santa Maria Mazzarello, Bosko mendirikan Serikat Puteri\u00a0puteri Maria yang mengabdikan diri dalam bidang pendidikan kaum puteri. Bosko mendirikan banyak perkumpulan di sekolah. Ia dikenal sebagai perintis penerbitan Katolik dan rajin menulis buku\u00a0buku dan pamflet. Ia pun mendirikan banyak gereja dan membantu meredakan pertentangan antara tahta Suci dengan para penguasa Eropa. Dalam karyanya yang besar ini, Bosko selalu menampilkan diri sebagai seorang imam yang saleh, penuh disiplin dan rajin berdoa. Ia menjadi seorang Bapa Pengakuan yang terpercaya di kalangan kaum remaja. Pada saat\u00a0saat terakhir hidupnya, ia menyampaikan pesan indah ini: Katakanlah kepada anak\u00a0anakku, Aku menanti mereka di surga. Ia meninggal dunia pada tahun 1888 dalam usia 72 tahun. Pada tanggal 2 Juni 1929, Yohanes Melkior Bosko dinyatakan sebagai Beato dan pada tanggal 1 April 1934 ia digelari Santo oleh teman dekatnya Paus Pius XI (1922 &#8211; 1939).<\/p>\n<p align=\"justify\">Santo Aidan, Uskup dan Pengaku Iman<\/p>\n<p align=\"justify\">Aidan tinggal di sebuah biara di pulau Iona yang didirikan oleh Santo Kolumbanus. Biara inilah yang menghasilkan banyak imam misionaris untuk Skotlandia dan Inggris Utara. Aidan terkenal ketika pada tahun 634 ia diutus sebagai misionaris di Kerajaan Umbria Utara atas permintaan Santo Oswaldus, raja Umbria Utara.<br \/>\nSebelumnya pernah seorang imam berkarya didaerah ini, namun ia kurang berhasil. Kepada Aidan ia mengutarkan alasan kegagalannya: Orang Umbria belum beradab, kepala batu bahkan masih liar. Sangat sulit kita mempertobatkan mereka. Aidan menjawab: Menghadapi orang\u00a0orang kafir kita hendaknya terlebih dahulu memberikan kesaksian tentang seluruh iman ajaran Kristen dengan tingkah laku dan tutur kata kita yang sesuai dengan ajaran iman itu. Mungkin anda terlalu tegas terhadap mereka dan menyajikan ajaran\u00a0ajaran iman dengan cara yang sulit dipahami. Suturut nasehat para Rasul, seharusnya anda lebih dahulu menyajikan kepada mereka ajaran\u00a0ajaran yang mudah dicerna kemudian apabila mereka sudah dikuatkan oleh Sabda Allah, barulah ajaran\u00a0ajaran yang lebih berat untuk dipahami dan dilaksanakan disajikan kepada mereka.<br \/>\nAidan kemudian diutus ke kerajaan Umbria. Dengan cara hidupnya dan tutur katanya yang lemah lembut, ia bersama Raja Oswaldus berhasil mengkristenkan rakyat Umbria. Ia menjadi gembala yang disenangi karena contoh dan teladan hidup. Ia pun tidak segan\u00a0segan menegur para petinggi kerajaan jika tingkah laku mereka tidak sesuai dengan tuntutan ajaran Kristen. Oswaldus bersama seluruh rakyat sangat senang kepada Aidan. Setelah ditabhiskan menjadi Uskup, Aidan menetap di pulau Lindisfarne yang kelak disebut Pulau Suci karena biara yang didirikannya disana menghasilkan banyak imam misionaris yang saleh. Aidan meninggal dunia pada tahun 651 dan hingga kini dihormati sebagai rasul bangsa Inggris Utara, sebagaimana Santo Agustinus dari Canterburry untuk Inggris Selatan.<\/p>\n<p align=\"justify\">Sember\u00a0http:\/\/www.imankatolik.or.id\/kalender\/31Jan.html<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Peringatan Wajib St. Yohanes Bosko 2Sam. 11:1-4a,5-10a,13-17;\u00a0Mzm. 51:3-4,5-6a,6bc-7,10-11;\u00a0Mrk. 4:26-34 Santa Marcella, Martir Marcella dikenal sebagai putri bangsawan Romawi yang beragama Kristen. Ia menikah dengan seorang Pangeran Roma. Pernikahan ini tidak berlangsung lama karena suaminya&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":396,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-427","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/sj.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/427","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=427"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/427\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":429,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/427\/revisions\/429"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/396"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=427"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=427"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=427"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}