{"id":424,"date":"2014-01-29T14:41:10","date_gmt":"2014-01-29T07:41:10","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=424"},"modified":"2014-01-29T14:41:10","modified_gmt":"2014-01-29T07:41:10","slug":"kamis-30-januari-2014","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=424","title":{"rendered":"Kamis, 30 Januari 2014"},"content":{"rendered":"<div>Yasinta Mareskoti, Bronislaus Markiewicz<\/div>\n<div><\/div>\n<div><a href=\"http:\/\/www.imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=2Sam7:18-19;2Sam7:24-29;\" target=\"_blank\">2Sam. 7:18-19,24-29<\/a>;\u00a0<a href=\"http:\/\/www.imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Mzm132:1-2;Mzm132:3-5;Mzm132:11;Mzm132:12;Mzm132:13-14;\" target=\"_blank\">Mzm. 132:1-2,3-5,11,12,13-14<\/a>;\u00a0<a href=\"http:\/\/www.imankatolik.or.id\/alkitabq.php?q=Mrk4:21-25;\" target=\"_blank\">Mrk. 4:21-25<\/a><\/div>\n<div><\/div>\n<div>\n<p align=\"justify\">Santo Gerardus, Pengaku Iman<\/p>\n<p align=\"justify\">Gerardus adalah kakak Santo Bernadus. Ia mula \u00e2\u20ac\u201c mula tidak mau masuk biara. Tetapi setelah terluka dalam perang, ditawan dan secara ajaib dibebaskan, ia mengikuti adiknya dalam kehidupan membiara dalam pertapaan yang menganut aturan keras. Ia meninggal dunia pada tahun 1138.<\/p>\n<p align=\"justify\">Santa Batildis, Pengaku Iman<\/p>\n<p align=\"justify\">Ketika masih gadis, ia dijual kepada seorang pejabat istana, tetapi kemudian ia dinikahi oleh Raja. Sepeninggal suaminya ia memerintah sampai puteranya dewasa dan menggantikannya sebagai raja. Batildis kemudian menjadi suster biasa di Chelles, Perancis. Ia meninggal dunia pada tahun 680.<\/p>\n<p align=\"justify\">Santa Maria Ward, Pangaku Iman<\/p>\n<p align=\"justify\">Maria Ward hidup antara tahun 1585-1645. Puteri bangsawan Inggris ini berkali\u00a0kali terpaksa mengungsi karena ingin mengikuti misa Kudus. Sebab perayaan Ekaristi dilarang oleh Ratu Elisabeth. Pada umur 20 tahun ia melarikan diri ke Belgia untuk masuk biara Klaris. Ia mencoba dua kali, tetapi selalu gagal walaupun sudah berusaha setaat mungkin pada aturan biara. Akhirnya ia mendirikan kumpulan wanita yang hidup bersama tanpa klausura atau pakaian biara. Sebab, mereka mau kembali ke Inggris untuk memperkuat iman umat yang dianiaya. Beberapa kali pulang, di kejar\u00a0kejar, dipenjarakan dan dihukum, namun ia dibebaskan lagi. Ia kemudian kembali ke Belgia, memimpin Puteri\u00a0puteri Inggris dan berusaha mendapatkan pengakuan dari Sri Paus di Roma. Di Munchen ia dipenjarakan sebagai seorang bidaah, dan pada tahun 1631 Suster\u00a0suster Jesuit-nya dilarang oleh Paus. Namun akhirnya ia rehabilitir dan perjuangannya supaya kaum wanita boleh merasul seperti kaum pria diterima oleh pejabat Gereja yang masih berpikiran kolot.<\/p>\n<p align=\"justify\">Beato Sebastianus, Imam<\/p>\n<p align=\"justify\">Sebastianus berasal dari keluarga miskin. Keluarganya sangat mengharapkan agar ia membantu menghidupi keluarganya. Tetapi cita\u00a0citanya untuk menjadi seorang imam lebih menggugah dan menarik hatinya daripada keadaan keluarganya yang serba kekurangan itu. Ia masuk seminari dan mengikuti pendidikan imamat. Banyak sekali tantangan yang ia hadapi selama masa pendidikan itu, terutama karena ia kurang pandai untuk menangkap semua mata pelajaran yang diajarkan. Ia sendiri sungguh\u00a0sungguh insyaf akan kelemahannya. Satu\u00a0satunya jalan keluar baginya adalah dengan melipatgandakan usaha belajarnya.<br \/>\nPerjuangannya yang gigih itu akhirnya memberikan kepadanya hasil akhir yang menyenangkan. Ia mencapai cita\u00a0citanya menjadi imam. Karyanya sebagai imam dimulainya di Torino. Sebagaimana biasa, ia selalu melakukan tugasnya dengan rajin, sabar, bijaksana dan penuh cinta kepada umatnya. Tarekatnya sungguh senang karena mendapatkan seorang anggota yang sungguh\u00a0sungguh menampilkan diri sebagai tokoh teladan dalam perbuatan\u00a0perbuatan baik. Selama 60 tahun ia mengabdikan hidupnya pada Tuhan, Gereja dan umatnya.<br \/>\nTuhan berkenan mengaruniakan kepadanya rahmat yang luar biasa yaitu kemampuan membuat mukzijat. Jabatan Uskup Torino yang ditawarkan kepadanya ditolaknya dengan rendah hati. Ia lebih suka menjadi seorang imam biasa diantara para umatnya. Tentang hal ini Sebastianus berkata: Apa artinya menjadi Abdi\u00a0abdi Tuhan? Artinya, mengutamakan kepentingan Tuhan daripada kepentingan pribadi; memanjukan karya penyelamatan Allah dan Kerajaan-Nya kepada manusia. Semuanya itu harus dilakukan di tengah\u00a0tengah umat.<br \/>\nImannya yang kokoh kepada Allah dan kesetiannya kepada panggilan imamatnya, membuat dirinya menjadi satu terang dan kekuatan kepada sesama manusia, terlebih rekan\u00a0rekan imamnya se tarekat. Ia meninggal dunia pada tahun 1740.<\/p>\n<p align=\"justify\">Sumber\u00a0http:\/\/www.imankatolik.or.id\/kalender\/30Jan.html<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yasinta Mareskoti, Bronislaus Markiewicz 2Sam. 7:18-19,24-29;\u00a0Mzm. 132:1-2,3-5,11,12,13-14;\u00a0Mrk. 4:21-25 Santo Gerardus, Pengaku Iman Gerardus adalah kakak Santo Bernadus. Ia mula \u00e2\u20ac\u201c mula tidak mau masuk biara. Tetapi setelah terluka dalam perang, ditawan dan secara ajaib&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":370,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-424","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/gua-maria-2.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/424","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=424"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/424\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":426,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/424\/revisions\/426"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/370"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=424"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=424"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=424"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}