{"id":42319,"date":"2024-02-17T11:44:56","date_gmt":"2024-02-17T04:44:56","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=42319"},"modified":"2024-02-17T11:44:56","modified_gmt":"2024-02-17T04:44:56","slug":"sabtu-17-februari-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=42319","title":{"rendered":"Sabtu, 17 Februari 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSabtu 17 Februari 2024<br \/>\nLukas 5:31-32 (Luk 5:27-32)<br \/>\nJawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: &#8220;Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.&#8221;<\/p>\n<p>Paus Fransiskus selalu mengingatkan bahwa gereja itu adalah rumah sakit. Di sinilah tempat orang sakit datang berobat, orang berdosa datang bertobat.<br \/>\nGereja sebagai umat Allah adalah tempat kita mengalami pengampunan dan didamaikan kembali dengan Tuhan dan sesama. Semakin orang jauh dari Tuhan semakin terbuka lebar pintu hati gereja untuk menyambutnya kembali sama seperti Bapa di surga yang menyambut dengan sukacita anakNya yang hilang dan kembali pulang ke rumah.<br \/>\nGereja adalah rumah Allah, rumah kita, rumah sakit kita. Mari datang untuk check up. Barangkali kolesterol egoisme terlalu tinggi; ada penyumbatan saluran nadi belas kasih karena rasa benci, dendam dan iri; mungkin asam urat terlalu tinggi karena terlalu banyak asupan pikiran negatif dan prasangka.<br \/>\nDemikian juga, jangan sampai karena beban dosa yang berat membuat kita stroke dan lumpuh. Bukankah Yesus adalah \u201cpenyembuh segala luka, penegak hukum cinta?\u201d Yesus adalah dokter keluarga kita. Dia tahu semua jenis penyakit kita. Pada Dia-lah kita datang memohon kesembuhan dan pengampunan. Yesus adalah tempat kita mencurahkan isi hati yang penuh luka batin.<br \/>\n\u201dAmpunilah kami ya Yesus. Tolong angkat kami yang tak mampu berdiri tegak karena beban dosa kami. Jadikanlah kami pembawa damai dan pengampunan. Biarlah ada damai dan sukacita di hati kami karena boleh belajar mengampuni dan mencintai sebagaimana Engkau tetap mencintai dan mengampuni kami sekalipun kami banyak kali melukai hatiMu. Ampunilah kami, orang berdosa ini.\u201d<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Syalom, damai di hati!\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 17 Feb 2024<br \/>\nSabtu Rabu Abu<br \/>\nPF Tujuh Saudara Suci Pendiri Tarekat Hamba-Hamba SP Maria<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Yeh 33:11<br \/>\nBacaan Injil: Luk 5:27-32<br \/>\n***************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nYeh 33:11<br \/>\nAku tidak berkenan akan kematian orang fasik,<br \/>\nmelainkan akan pertobatannya supaya ia hidup.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nLuk 5:27-32<br \/>\nAku datang bukan untuk memanggil orang benar,<br \/>\ntetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Lukas:<\/p>\n<p>Sekali peristiwa<br \/>\nYesus melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi,<br \/>\nsedang duduk di rumah cukai.<br \/>\nYesus berkata kepadanya, &#8220;Ikutlah Aku!&#8221;<br \/>\nMaka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu,<br \/>\nlalu mengikut Dia.<br \/>\nLalu Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Yesus di rumahnya.<br \/>\nSejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia.<br \/>\nOrang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut<br \/>\nkepada murid-murid Yesus,<br \/>\n&#8220;Mengapa kamu makan dan minum<br \/>\nbersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?&#8221;<br \/>\nLalu jawab Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Bukan orang sehat yang memerlukan tabib,<br \/>\ntetapi orang sakit!<br \/>\nAku datang bukan untuk memanggil orang benar,<br \/>\ntetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<\/p>\n<p>************************************<\/p>\n<p>  \u210d <\/p>\n<p>\u201cOrang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: &#8220;Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?&#8221; Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: &#8220;Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.\u201d (Luk 5: 30 \u2013 32)<\/p>\n<p>Yesus dalam Injil hari ini, tidak menutupi-nutupi kedekatanNya dengan pemungut cukai. Dia menunjukkan kepada para pengkritik-Nya bahwa sebagai Mesias, Dia datang untuk memanggil orang-orang berdosa seperti mereka. Yesus, sebagai Tabib Ilahi, bergaul dengan mereka yang \u201csakit\u201d jiwanya dan mengundang mereka bertobat.<\/p>\n<p>Yesus menunjukkan suatu prinsip keselamatan yang baru. Ia menunjukkan bahwa keselamatan itu inklusif, bukan eksklusif. Keselamatan itu merangkul, bukan menyingkirkan. Keselamatan itu mengundang ke dalam persekutuan, bukan memisahkan. Hal itu sungguh berbeda dengan para pemimpin agama Yahudi yang tidak mau duduk semeja dengan para pemungut cukai dan orang berdosa.<\/p>\n<p>Lewi, seorang pemungut cukai dan orang buangan, dipanggil ke dalam persekutuan seperti itu dan dia tidak hanya menjadi pengikut tetapi juga murid Yesus. Yesus melihat jauh melampaui cacat dan cela Matius. Itulah yang membuat Matius berubah, meninggalkan segala-galanya dan mengikuti Yesus sepenuh hati.<\/p>\n<p>Apakah saya berbelas kasih seperti Yesus atau lebih mudah mengadili orang lain? Apakah saya merangkul orang-orang berdosa atau menjauhinya?<\/p>\n<p>Tuhan, dengan kekuatan-Mu, jadikan kami terang bagi mereka yang berada dalam kegelapan, air bagi mereka yang haus, pembangun harapan dan kebahagiaan bagi semua orang. Semoga kami menjadi tanda-tanda yang hidup akan kasih dan kesetiaan-Mu. Amin.<\/p>\n<p>Selamat berakhir pekan. Jadilah tanda kasih Tuhan. \u24bf\u24c1\u24ca! \u2764<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"AZONWU4IKx\"><p><a href=\"https:\/\/heypasjon.com\/inklusi-bukan-eksklusi\/\">INKLUSI, BUKAN EKSKLUSI<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;INKLUSI, BUKAN EKSKLUSI&#8221; &#8212; REMAH SABDA\" src=\"https:\/\/heypasjon.com\/inklusi-bukan-eksklusi\/embed\/#?secret=kKcfPQx2GE#?secret=AZONWU4IKx\" data-secret=\"AZONWU4IKx\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>RP Joni\u00a0Astanto\u00a0MSC<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Sabtu 17 Februari 2024 Lukas 5:31-32 (Luk 5:27-32) Jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: &#8220;Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa,&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-42319","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/42319","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=42319"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/42319\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":42320,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/42319\/revisions\/42320"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=42319"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=42319"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=42319"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}