{"id":42085,"date":"2024-02-14T09:27:10","date_gmt":"2024-02-14T02:27:10","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=42085"},"modified":"2024-02-14T09:27:10","modified_gmt":"2024-02-14T02:27:10","slug":"rabu-abu-14-februari-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=42085","title":{"rendered":"Rabu Abu, 14 Februari 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nRabu 14 Februari 2024<br \/>\nHari Rabu Abu, Pantang dan Puasa<br \/>\nMarius 6:17-18 ( Mat 6:1-6, 16-18)<br \/>\n\u201dApabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.&#8221;<\/p>\n<p>Hari ini, hari Rabu Abu, adalah awal masa puasa kristiani, atau masa pra-Paskah. Ditandai dengan menaruh abu di dahi atau di kepala, sebagaimana bentuk pertobatan umat Israel sejak perjanjian lama (lihat Yosua 7:6, Ayub 2:12).<br \/>\nRitual ini untuk mengingatkan manusia akan kefanaan hidupnya bahwa ia berasal dari debu tanah dan akan kembali ke tanah (Kejadian 2:7 dan 3:19).<br \/>\nYesus juga berpuasa 40 hari lamanya, maka kitapun ikut berpuasa selama 40 hari. Kali ini kita berpuasa untuk mempersiapkan Paskah Kristus, 31 Maret 2024, agar perayaan Hari kemenanganNya atas dosa dan maut, kita persiapkan secara lahir batin melalui pertobatan dan puasa.<br \/>\nKita berpuasa bukan supaya dilihat orang, tapi seperti yang Yesus nasehatkan, supaya hati kita tertuju pada Allah melalui komitmen untuk mengosongkan diri, memurnikan hati melalui penyangkalan diri, memperdalam hidup doa dan amal kasih bagi sesama. Kita berdamai kembali dengan Allah melalui pertobatan dan mohon pengampunan dosa. Kita juga mau berdamai dengan alam semesta yakni bumi tempat kita tinggal yang telah kita rusak.<br \/>\nSaat Paskah tiba, misteri Paskah Kristus, wafat dan kebangkitanNya, sungguh kita alami. Kita mati terhadap dosa dan hidup baru bagi Allah dalam Kristus Yesus (Rom 6:11-12).<br \/>\nInilah saat penuh rahmat untuk kita mengalami rasa lapar dan haus akan kasih Allah. Biarlah hasarat hati kita hanya dipuaskan oleh kaih Allah dan bukan lagi oleh kesenangan duniawi.<\/p>\n<p>Selamat memasuki masa Pra-Paskah. Roh Kudus Allah membimbing kita.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 14 Feb 2024<br \/>\nRabu Rabu Abu<br \/>\nWarna Liturgi: Ungu<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 95:8ab<br \/>\nBacaan Injil: Mat 6:1-6.16-18<br \/>\n*****************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 95:8ab<br \/>\nPada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan,<br \/>\njanganlah bergetar hati.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMat 6:1-6.16-18<br \/>\nBapamu yang melihat yang tersembunyi akan mengganjar engkau.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Matius:<\/p>\n<p>Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya,<br \/>\n&#8220;Hati-hatilah,<br \/>\njangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang<br \/>\nsupaya dilihat.<br \/>\nKarena jika demikian,<br \/>\nkamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.<br \/>\nJadi, apabila engkau memberi sedekah,<br \/>\njanganlah engkau mencanangkan hal itu,<br \/>\nseperti yang dilakukan orang munafik<br \/>\ndi rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong,<br \/>\nsupaya mereka dipuji orang.<br \/>\nAku berkata kepadamu: &#8216;Mereka sudah mendapat upahnya.&#8217;<br \/>\nTetapi jika engkau memberi sedekah,<br \/>\njanganlah diketahui tangan kirimu<br \/>\napa yang diperbuat tangan kananmu.<br \/>\nHendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi.<br \/>\nMaka Bapamu yang melihat yang tersembunyi<br \/>\nakan membalasnya kepadamu.<br \/>\nDan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik.<br \/>\nMereka suka mengucapkan doanya<br \/>\ndengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat<br \/>\ndan pada tikungan-tikungan jalan raya,<br \/>\nsupaya mereka dilihat orang.<br \/>\nAku berkata kepadamu, &#8216;Mereka sudah mendapat upahnya.&#8217;<br \/>\nTetapi jika engkau berdoa,<br \/>\nmasuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu,<br \/>\ndan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.<br \/>\nMaka Bapamu yang melihat yang tersembunyi<br \/>\nakan membalasnya kepadamu.<\/p>\n<p>Dan apabila kamu berpuasa,<br \/>\njanganlah muram mukamu seperti orang munafik.<br \/>\nMereka mengubah air mukanya,<br \/>\nsupaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa.<br \/>\nAku berkata kepadamu, &#8216;Mereka sudah mendapat upahnya.&#8217;<br \/>\nTetapi apabila engkau berpuasa,<br \/>\nminyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,<br \/>\nsupaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa,<br \/>\nmelainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.<br \/>\nMaka Bapamu yang melihat yang tersembunyi<br \/>\nakan membalasnya kepadamu.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<\/p>\n<p>************************************<\/p>\n<p>EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA AMBON MANISE<br \/>\nRabu, 14 Februari 2024<br \/>\nRABU ABU: HARI PANTANG DAN PUASA<br \/>\nInjil : Mat. 6 : 1 &#8211; 6. 16 &#8211; 18<\/p>\n<p>BERTOBAT KARENA CINTA TUHAN YANG TAK TERBATAS KEPADAMU<\/p>\n<p>\u201dBila Dia yang mencintai kita tak pernah berhenti mencintai walaupun hati dan rasa-Nya terluka akibat dosa kita, maka balasan terindah hanyalah satu yakni pertobatan.\u201d<\/p>\n<p>Tiga ciri khas utama masa prapaskah adalah; Doa, Puasa\/Pantang dan Derma:<\/p>\n<p>&#8211; Doa membuat kita semakin mendekat dengan Tuhan. Berserah diri kepada-Nya adalah ujud utama dalam doa. Tuhan berfirman: \u201cTetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.\u201d ( ayat 6 )<\/p>\n<p>\u2060*Berpuasa dan berpantang* adalah tindakan pengorbanan diri demi pembersihan hati, pikiran dan jiwa kita. Firman Tuhan: \u201cTetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.\u201d ( ayat 17 &#8211; 18 )<\/p>\n<p>_Derma_ adalah wujud atau dari doa, puasa dan pantang kita. Tanpa perbuatan baik maka doa, puasa dan pantang tidak akan bermakna. Tuhan bersabda: \u201cHendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.\u201d ( ayat 4 )<\/p>\n<p>Akhirnya ingatlah bahwa selama masa prapaskah, hendaknya engkau sadar dan bertobat karena hanya satu yang dibuat oleh Tuhan, yakni menanti saat engkau kembali kepada-Nya.<\/p>\n<p>Selamat memasuki masa Prapaskah dalam balutan kasih sayang \u201cValentin\u2019s Day\u201d untuk para sahabat<\/p>\n<p>Salam, doa dan berkatku ( + ) untuk semua.<br \/>\n( Dari: Mgr. Inno Ngutra : Minnong &#8211;\u00a0Duc\u00a0in\u00a0Altum\u00a0)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Rabu 14 Februari 2024 Hari Rabu Abu, Pantang dan Puasa Marius 6:17-18 ( Mat 6:1-6, 16-18) \u201dApabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-42085","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/42085","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=42085"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/42085\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":42086,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/42085\/revisions\/42086"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=42085"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=42085"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=42085"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}