{"id":41566,"date":"2024-02-06T06:32:16","date_gmt":"2024-02-05T23:32:16","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=41566"},"modified":"2024-02-06T06:32:16","modified_gmt":"2024-02-05T23:32:16","slug":"selasa-06-februari-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=41566","title":{"rendered":"Selasa, 06 Februari 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 06 Februari 2024<br \/>\nMarkus 7:6 (Mrk 7:1-13)<br \/>\nJawab Yesus kepada mereka: &#8220;Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.\u201d<\/p>\n<p>Yesus balik menegur orang-orang Farisi dan para Ahli Taurat karena kemunafikan mereka. Mereka merasa diri paling benar dan paling suci. Kata-kata di bibirnya manis tapi di hati penuh dengki dan iri. Lain di bibir lain di hati.<br \/>\nApapun yang kita lakukan untuk Tuhan maupun sesama, mari melakukannya dengan setulus hati dan dengan sepenuh hati. Bila ibadah pujian, misa syukur, hidup rohani terasa kering dan hampa, itulah tandanya kita melakukannya hanya sebagai sebuah kebiasaan atau rutinitas belaka, sekedar menuruti perintah dan tradisi.<br \/>\nOrang bisa saja hadir dan terlibat, tapi hati dan pikirannya tidak tertuju kepada Tuhan. Tak jarang sebuah ibadah hanyalah sebuah formalitas yang mesti ada, lalu orang mengikutinya dengan terpaksa.<br \/>\nMari memperdalam motivasi kita untuk hidup oleh hati. Mengasah hati nurani agar hati tetap tulus dan murni. Nasehat Rasul Paulus ini kiranya menjadi dorongan hati kita: \u201cApapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.\u201d (Kol 3:23)<\/p>\n<p>Selamat hari Selasa. Bahagianya melayani dan memberi diri dengan setulus hati.\u2764<br \/>\nPs\u00a0Revi\u00a0Tanod\u00a0Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Selasa Pekan Biasa V<br \/>\nPW S. Paulus Miki dan teman-temannya, Martir<br \/>\nWarna Liturgi: Merah<br \/>\nBait Pengantar Injil: Mzm 119:36a.29b<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 7:1-13<br \/>\n***************************<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nMzm 119:36a.29b<br \/>\nCondongkanlah hatiku kepada perintah-Mu, ya Allah,<br \/>\ndan karuniakanlah hukum-Mu kepadaku.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 7:1-13<br \/>\nKamu mengabaikan perintah Allah<br \/>\nuntuk berpegang pada adat istiadat manusia.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari<br \/>\nserombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat<br \/>\ndari Yerusalem datang menemui Yesus.<br \/>\nMereka melihat beberapa murid Yesus makan dengan tangan najis,<br \/>\nyaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.<br \/>\nSebab orang-orang Farisi<br \/>\n&#8211; seperti orang-orang Yahudi lainnya &#8211;<br \/>\ntidak makan tanpa membasuh tangan lebih dulu,<br \/>\nkarena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang.<br \/>\nDan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan<br \/>\nkalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya.<br \/>\nBanyak warisan lain lagi yang mereka pegang,<br \/>\numpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas tembaga.<br \/>\nKarena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu<br \/>\nbertanya kepada Yesus,<br \/>\n&#8220;Mengapa murid-murid-Mu<br \/>\ntidak mematuhi adat istiadat nenek moyang kita?<br \/>\nMengapa mereka makan dengan tangan najis?&#8221;<br \/>\nJawab Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu,<br \/>\nhai orang-orang munafik!<br \/>\nSebab ada tertulis:<br \/>\nBangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya,<br \/>\npadahal hatinya jauh dari pada-Ku.<br \/>\nPercuma mereka beribadah kepada-Ku,<br \/>\nsebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.<br \/>\nPerintah Allah kamu abaikan<br \/>\nuntuk berpegang pada adat istiadat manusia.&#8221;<br \/>\nYesus berkata kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah,<br \/>\nsupaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.<br \/>\nKarena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu!<br \/>\nDan: &#8216;Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.&#8217;<br \/>\nTetapi kamu berkata:<br \/>\nKalau seorang berkata kepada bapa atau ibunya:<br \/>\n&#8216;Apa yang ada padaku,<br \/>\nyang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu,<br \/>\nsudah digunakan untuk kurban, yaitu persembahan kepada Allah,&#8217;<br \/>\nmaka kamu membiarkan dia<br \/>\nuntuk tidak lagi berbuat sesuatu pun bagi bapa atau ibunya.<br \/>\nDengan demikian sabda Allah kamu nyatakan tidak berlaku<br \/>\ndemi adat istiadat yang kamu ikuti itu.<br \/>\nDan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan!&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<\/p>\n<p>#########################<\/p>\n<p>NOMORSATUKAN TUHAN ALLAH DAN CINTAKASIH<br \/>\n(RD. John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng)<\/p>\n<p>Selasa, 6 Februari 2024<br \/>\nMinggu Biasa V\/B\/II<\/p>\n<p>Pesta St. Paulus Miki, dkk, Imam dan Martir<\/p>\n<p>Mrk. 7:1 &#8211; 13: Perintah Allah dan adat istiadat Yahudi.<\/p>\n<p>&#8220;Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripadaKu. Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. PERINTAH ALLAH KAMU ABAIKAN untuk berpegang pada adat istiadat manusia&#8221; (Mrk. 7:6-8).<\/p>\n<p>Adat istiadat adalah kebiasaan atau tradisi yang mengandung nilai luhur. Namun tidak jarang upacara adat itu berbenturan dengan kekatolikan. Tuhan Yesus dalam Injil hari ini menegur dengan keras orang Farisi dan ahli Taurat (saya, anda?). Mereka menekankan pelaksanaan adat istiadat nenek moyang dengan bertanya:&#8221;Mengapa murid2Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita?&#8221; (Mrk. 7:5). Yesus berkata:&#8221;Sungguh pandai kamu MENGESAMPINGKAN PERINTAH ALLAH supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri&#8221; (Mrk. 7:9).<\/p>\n<p>Yesus menghendaki saya, anda untuk PRIORITASKAN KEHENDAK ALLAH atau PERINTAH ALLAH. Dia mengingatkan saya, anda untuk senantiasa TETAP MENOMORSATUKAN TUHAN ALLAH, RENCANA DAN KEHENDAKNYA SERTA CINTAKASIH KEPADA SESAMA dlm semua lini kehidupan saya, anda. Menomorsatukan Tuhan Allah (rencana dan kehendakNya) dan CINTAKASIH KEPADA MANUSIA di tengah rutinitas atau kesibukan saya, anda setiap hari atau setiap minggu. Melibatkan Tuhan dalam semua lini kehidupan saya, anda di sini saat ini setiap hari dan\/atau setiap minggu. Awali atau akhiri aktivitas harian dan\/atau mingguan saya, anda dengan mohon kekuatan atau campur tangan Tuhan di dalamnya. Sebab Tuhan Allah adalah SUMBER HIDUP YANG MEMBERI KEKUATAN atau INNER POWER dalam menjalani kehidupan saya, anda yang fana ini. Jangan lupa ikut Misa Harian (vakultatip) untuk mohon inner power sepanjang hari! Wajib Misa Hari Minggu dan Hari2 Raya yang disamakan dengan Hari Minggu dan Hari2 yang DIWAJIBKAN menurut ajaran\/hukum Gereja Katolik seperti misalnya Rabu Abu, Tri Hari Suci &#8211; Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci untuk mensyukuri inner power yang telah dinikmati selama seminggu yang lalu dan mohon inner power baru dari Tuhan untuk seminggu ke depannya.<\/p>\n<p>Semoga dengan bantuan doa St. Paulus Miki,dkk, Allah Tritunggal Mahakudus (+) MEMBERKATI saya, anda sekalian yang menomorsatukan Tuhan Allah dan CINTAKASIH kepada manusia dlm semua lini kehidupan saya,\u00a0anda.\u00a0Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 06 Februari 2024 Markus 7:6 (Mrk 7:1-13) Jawab Yesus kepada mereka: &#8220;Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-41566","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/41566","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=41566"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/41566\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":41567,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/41566\/revisions\/41567"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=41566"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=41566"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=41566"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}