{"id":40365,"date":"2024-01-16T09:26:30","date_gmt":"2024-01-16T02:26:30","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=40365"},"modified":"2024-01-16T09:26:30","modified_gmt":"2024-01-16T02:26:30","slug":"selasa-16-januari-2024-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=40365","title":{"rendered":"Selasa, 16 Januari 2024"},"content":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan<br \/>\nSelasa 16 Januari 2024<br \/>\nMarkus 2:23-24 (Mrk 2:23-28)<br \/>\nPada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: &#8220;Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?&#8221;<\/p>\n<p>Sikap orang Farisi terhadap Yesus dan murid-muridNya mewakili sikap orang yang berpikiran negatif dan cenderung melihat kesalahan atau kelemahan orang lain.<br \/>\nYesus menegur cara pandang orang Farisi ini karena hanya didasarkan pada legalisme sempit. Yang penting ikut aturan, tanpa memahami kedalaman pesan-pesan Tuhan dalam pelbagai aturan yang ditetapkan. Apalagi, bila sudah didasarkan pada rasa tidak suka, kebencian, iri hati, merasa paling tahu dan pelbagai pikiran negatif lainnya. Bila demikian, apapun yang baik yang dilakukan orang akan dipandang buruk dan tidak sesuai. Orang jatuh pada sikap menghakimi orang lain.<br \/>\nTanpa mengesampingkan semua aturan yang ada, Yesus mengajak kita untuk melihat lebih dalam, pada hakekat atau inti terdalam relasi kita dengan Tuhan dan sesama yakni cintakasih, kepercayaan, pengampunan.<br \/>\nBila pepatah mengatakan \u2018di ujung cemeti ada cinta\u2019 maka setegas apapun tindakan kita, lakukanlah semuanya karena cinta. Bukan karena benci, marah, tidak suka dan sejenisnya.<br \/>\nBerdoalah sebelum melakukan apapun, agar Roh Kudus menerangi hati dan budi kita untuk melakukannya terdorong oleh cinta kasih.<\/p>\n<p>Selamat hari Selasa. Jauhkan pikiran dari berburuk sangka.\u2764\ufe0f<br \/>\nPs Revi Tanod Pr<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalender Liturgi 16 Jan 2024<br \/>\nSelasa Pekan Biasa II<br \/>\nWarna Liturgi: Hijau<br \/>\nBait Pengantar Injil: Ef 1:17-18<br \/>\nBacaan Injil: Mrk 2:23-28<br \/>\n*********<\/p>\n<p>Bait Pengantar Injil<br \/>\nEf 1:17-18<br \/>\nBapa Tuhan kita Yesus Kristus<br \/>\nakan menerangi mata budi kIta,<br \/>\nagar kita mengenal harapan panggilan kita.<\/p>\n<p>Bacaan Injil<br \/>\nMrk 2:23-28<br \/>\nHari Sabat diadakan untuk manusia,<br \/>\ndan bukan manusia untuk hari Sabat.<\/p>\n<p>Inilah Injil Suci menurut Markus:<\/p>\n<p>Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum,<br \/>\ndan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.<br \/>\nMaka kata orang-orang Farisi kepada Yesus, &#8220;Lihat!<br \/>\nMengapa mereka berbuat sesuatu<br \/>\nyang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?&#8221;<br \/>\nJawab Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud,<br \/>\nketika ia dan para pengiringnya kekurangan dan kelaparan?<br \/>\nTidakkah ia masuk ke dalam Rumah Allah<br \/>\nwaktu Abyatar menjabat sebagai Imam Agung<br \/>\nlalu makan roti sajian<br \/>\n&#8211; yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam &#8211;<br \/>\ndan memberikannya juga kepada pengikut-pengikutnya?&#8221;<br \/>\nLalu kata Yesus kepada mereka,<br \/>\n&#8220;Hari Sabat diadakan untuk manusia<br \/>\ndan bukan manusia untuk hari Sabat,<br \/>\njadi Anak Manusia adalah Tuhan, juga atas hari Sabat.&#8221;<\/p>\n<p>Demikianlah sabda Tuhan.<\/p>\n<p>#########################<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>UTAMAKAN KESELAMATAN MANUSIA DAN CINTAKASIH<br \/>\n(RD. John Tanggul, Paroki Wangkung, Keuskupan Ruteng)<\/p>\n<p>Selasa, 16 Januari 2024<br \/>\nPekan Biasa II\/B\/II<\/p>\n<p>Mrk. 2:23-28: Murid2 memetik gandum pada hari Sabat.<\/p>\n<p>Hidup saya, anda tidak terlepas dari aturan, peraturan, hukum, ketetapan, undang2. Di mana dan kapan saja saya, anda berada pasti bertemu dgn itu. Aturan dibuat untuk menciptakan ketenteraman, kedamaian, keteraturan, kebahagiaan, keselamatan, kebaikan umum. Berarti demi keselamatan hidup manusia dan demi cintakasih kepada manusia. Hanya terkadang aturan dipergunakan salah atau disalahtafsir, sehingga hakikat terdalam seperti disebutkan di atas menjadi hilang, bahkan malah &#8220;kelihatannya seperti bertentangan dengan kebaikan umum dan keadilan&#8221;.<\/p>\n<p>Aturan Sabat dibuat pasti demi keselamatan hidup manusia dan cintakasih. Dalam Injil hari ini dikisahkan &#8220;protes&#8221; yang dilancarkan oleh orang Farisi (mgkin saya, anda jaman now juga) atas apa yang dilakukan murid2 Yesus pada hari Sabat (memetik bulir gandum). Mereka memandang bahwa hal itu bertentangan aturan Sabat. &#8220;Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?&#8221; kata orang Farisi kepada Yesus (Mrk. 2:25).<\/p>\n<p>Mereka tidak salah. Aturan mainnya bgt. Murid2 Yesus juga tidak salah (mereka lapar). Yesus juga tidak mempersalahkan mereka. Mereka melihat aturan demi aturan. Mereka tidak sampai pada kedalaman dan hakikat dari aturan itu. Yesus memberi pencerahan kp orang Farisi (saya,anda) tentang hakekat terdalam sebuah aturan. ATURAN ITU DEMI KESELAMATAN MANUSIA DAN CINTAKASIH. HIDUP MANUSIA DAN CINTAKASIH BERADA DI ATAS ATURAN. Aturan tetap ada dan harus ada!!!<\/p>\n<p>Yesus tidak mengajak saya, anda untuk melawan, melanggar bahkan menghapuskan aturan yang ada (ketetapan pastoral, ketetapan gereja), melainkan melihatnya dalam praksis keseharian &#8220;makna terdalam&#8221; dari aturan itu. Ia mengajak saya, anda (sebagai gembala atau domba) untuk MELIHAT DENGAN HATI bahwa keselamatan hidup manusia dan cintakasih harus dipertimbangkan baik2. Dan inilah yang pada jaman now yang dinamakan &#8220;kebijaksanaan pastoral&#8221;, kebijaksanaan yang hanya ada dalam hati pastor, dan hanya oleh pastor, berdasarkan pertimbangan tertentu yang ada dalam hatinya. Dan inilah yang diambil oleh Yesus ketika berhadapan dg orang Farisi yang protes kepadaNya. Tapi perlu diingat, kebijaksanaan pastoral itu momental\/situasional saja sifatnya, bukan &#8220;ketetapan\/aturan pastoral&#8221;. Jangan ada kesan, ketetapan2 pastoral (aturan2 yg ada) semuanya menjadi &#8220;kebijaksanaan pastoral&#8221;.<br \/>\nSelamat melaksanakan KETETAPAN (ATURAN) PASTORAL dengan gembira hati dan kalau &#8220;sangat perlu&#8221; barulah berlakukan KEBIJAKSANAAN PASTORAL.<\/p>\n<p>Semoga Allah Tritunggal Mahakudus (+) MEMBERKATI saya, anda semua yang menghayati ketetapan dan\/atau kebijaksanaan pastoral dalam kehidupan keagamaan\/menggereja . Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda Kehidupan Selasa 16 Januari 2024 Markus 2:23-24 (Mrk 2:23-28) Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: &#8220;Lihat!&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":39735,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-40365","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/kaj-2024.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/40365","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=40365"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/40365\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":40366,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/40365\/revisions\/40366"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/39735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=40365"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=40365"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=40365"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}