{"id":395,"date":"2014-01-25T15:50:53","date_gmt":"2014-01-25T08:50:53","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=395"},"modified":"2014-01-25T15:50:53","modified_gmt":"2014-01-25T08:50:53","slug":"jembatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=395","title":{"rendered":"Jembatan"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1176\" align=\"center\"><b id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1175\"><span id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1174\" style=\"text-decoration: underline;\">JEMBATAN<\/span><\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1241\" align=\"center\">(Bidikan Suatu Peristiwa dalam Perjalanan )<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1242\" align=\"center\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1236\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Beberapa\u00a0hari ini, saya melihat situasi Manado sekitarnya dan hati terasa\u00a0\u00a0<i>miris<\/i>. Situasinya memang seperti yang dilaporkan dalam\u00a0\u00a0<i>Komentar, Tribun Manado, Manado Post<\/i>\u00a0\u00a0bahkan\u00a0\u00a0<i id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1243\">Kompas<\/i>.\u00a0\u00a0Ketika saya melihat jembatan Dendengan Dalam (Dendal) yang rusak, maka teman saya pun berkata, \u201cAda lagi jembatan yang rusak yaitu di Maesa Perkamil, 2 jembatan kecil di Tuminting Mahawu dan satu lagi di\u00a0<i>Boullevard.<\/i>\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1234\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Jembatan \u2013 mau tidak mau \u2013 menjadi sarana yang sangat vital. Jika tidak ada jembatan,\u00a0\u00a0maka sebuah\u00a0\u00a0daerah bisa terisolir. Maka tidak mengherankan jika dalam setiap perang \u2013 bahkan menurut teori strageti Perang Sun-Tzu (544 \u2013 496 seb.M) \u2013 jembatan harus dirusak kalau mau mengisolir musuh.\u00a0\u00a0Tetapi kita sedih sebab banjir di Manado ini merusak jembatan-jembatan bahkan tanah longsor sehingga perjalanan yang hendak beraktivitas\u00a0\u00a0pun terganggu.<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1232\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Kalau saya menyaksikan betapa ganasnya\u00a0\u00a0\u201cair bah\u201d itu, saya ingat akan lagu yang dinyanyikan oleh Simon dan Garfunkel yang berjudul,\u00a0<i>\u201cA bridge over troubled water.\u201d\u00a0<\/i>\u00a0Di sana ditulis,\u00a0<i id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1230\">\u201cAnd friends just can\u2019t be found. Like a bridge over troubled water. I will lay me down.\u201d<\/i>\u00a0Kadang hidup kita itu seperti di atas pusaran air yang deras. Serba takut dan kuatir. Dan memang beberapa hari ini\u00a0\u00a0di Manado dan sekitarnya gerimis, hujan bahkan lebat dan ini membuat banyak orang takut, cemas dan kuatir. Ini mengingatkan saya akan jembatan-jembatan yang telah rusak, \u201dSemoga tetap kuat menahan arusnya aliran sungai.\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1229\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Terkadang, seseorang jika mengalami masalah lebih suka \u201cmenyendiri dan mengutuki nasibnya.\u201d Ia mengurung diri dan membangun tembok atau benteng. Ia merasa bahwa dirinyalah orang yang paling sial dan menderita di dunia ini. Tetapi setelah, ia\u00a0\u00a0\u201cmembuat jembatan dan membangun relasi\u201d\u00a0\u00a0atau berjumpa dengan orang lain yang hidupnya lebih susah, ia merasa bahagia dan bersyukur atas hidupnya (Bdk. Wejangan\u00a0\u00a0Paus Fransiskus di Casa Santa Marta, Jumat 24 Januari 2014,\u00a0<i>\u201cHendaklah orang-orang Kristiani membangun jembatan dialog seperti Daud, dan\u00a0\u00a0bukan tembok kebencian seperti Saul\u201d<\/i>).\u00a0\u00a0Kita juga ingat bagaimana orang-orang Jerman yang dipisahkan dengan Tembok Berlin ingin\u00a0\u00a0\u201cmembuat jembatan\u201d dengan cara merobohkannya. Tembok itu pun runtuh pada 9 November 1989.<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Jembatan dalam bahasa Latin diartikan sebagai\u00a0<i>pons-pontis<\/i>.\u00a0\u00a0Kemudian kita mengenal istilah\u00a0\u00a0<i>Pontifex Maximus<\/i>\u00a0(imam agung).\u00a0<i>Pons<\/i>\u00a0= jembatan +<i>facere<\/i>\u00a0= membuat. Dalam perkembangannya,\u00a0\u00a0<i>Pontifex<\/i>\u00a0\u00a0berarti menjadi \u201cPembuat jembatan\u201d yang menghubungkan hal duniawi dan hal surgawi.\u00a0Dalam Gereja Katolik, mereka yang menjembatani persoalan \u201cdunia\u201d dan \u201csurga\u201d adalah Paus, Kardinal, Uskup dan Imam.<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1223\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Kita pun\u00a0\u00a0\u2013 atas salah satu \u2013 cara bisa menjadi jembatan bagi sesama kita. Terngiang-ngiang dalam pendengaranku\u00a0\u00a0sebuah lagu\u00a0\u00a0<i>\u201cJembatan Merah\u201d<\/i>\u00a0yang 10 tahun lalu saya menyaksikannya\u00a0\u00a0di kota Pahlawan \u2013 Surabaya, \u201cJembatan Merah sungguh gagah berpagar gedung indah.\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1254\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1253\"><i>Sabtu, 25 Januari 2014<\/i>\u00a0\u00a0\u00a0<b id=\"yui_3_14_0_1_1390639269426_1251\">Rm. Markus Marlon MSC<\/b><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JEMBATAN (Bidikan Suatu Peristiwa dalam Perjalanan ) \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Beberapa\u00a0hari ini, saya melihat situasi Manado sekitarnya dan hati terasa\u00a0\u00a0miris. Situasinya memang seperti yang dilaporkan dalam\u00a0\u00a0Komentar, Tribun Manado, Manado Post\u00a0\u00a0bahkan\u00a0\u00a0Kompas.\u00a0\u00a0Ketika saya melihat jembatan Dendengan Dalam (Dendal) yang&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":396,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-395","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/sj.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/395","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=395"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/395\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":397,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/395\/revisions\/397"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/396"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=395"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=395"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=395"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}