{"id":37264,"date":"2023-11-16T16:15:35","date_gmt":"2023-11-16T09:15:35","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=37264"},"modified":"2023-11-16T16:15:36","modified_gmt":"2023-11-16T09:15:36","slug":"jumat-17-november-2023-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=37264","title":{"rendered":"Jumat, 17 November 2023"},"content":{"rendered":"\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON PEMBUKA \u2013 Mat 25:34.36.40<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah kalian yang diberkati oleh Bapa-Ku. Sebab Aku sakit dan kalian mengunjungi Aku.&nbsp;Sungguh Aku bersabda kepadamu: Apa saja yang kalian lakukan bagi saudara-Ku yang terhina sekalipun, itu kalian lakukan bagi-Ku.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>PENGANTAR:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Setelah berkeluarga dalam waktu singkat, Elisabet kehilangan suaminya, yaitu seorang hertog di Turingen. Kematian suami itu menjadi permulaan jalan salibnya. Ia diusir dari istana dan tiga orang anaknya dirampas orang. Tetapi dengan tabah perlakuan di luar perikemanusiaan itu diterimanya. Kekayaan yang masih ada padanya dibagi-bagikannya kepada orang miskin. Ia menjadi anggota Ordo ketiga Santo Fransiskus dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PEMBUKA:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa:&nbsp;Allah Bapa para yatim piatu,&nbsp;Santa Elisabet melihat dan menghormati Kristus dalam diri kaum miskin. Semoga karena doa dan teladannya kami pun melayani orang malang dan papa dengan cinta kasih sejati.&nbsp;Demi Yesus Kristus,\u2026<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Kebijaksanaan 13:1-9<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cJika mereka mampu menyelidiki jagad raya, mengapa mereka tidak menemukan penguasa semuanya itu?\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Sungguh tolol karena kodratnya semua orang yang tidak mengenal Allah sama sekali; mereka yang tidak mampu mengenal Dia yang ada dari barang-barang yang kelihatan! Walaupun berhadapan dengan karya-karya-Nya mereka tidak mengenal Senimannya. Sebaliknya yang mereka anggap sebagai allah penguasa jagat raya ialah api atau angin atau pun badai, gugusan bintang-bintang atau air yang bergelora, atau pun penerang-penerang yang ada di langit. Jika dengan menikmati keindahannya mereka sampai menganggapnya allah, maka seharusnya mereka mengerti betapa lebih mulianya Penguasa kesemuanya itu. Sebab Bapa dari keindahan itulah yang menciptakannya. Jika mereka sampai terpesona oleh kuasa dan daya, maka seharusnya mereka menjadi insyaf karenanya, betapa lebih kuasanya Pembentuk semuanya itu. Sebab orang dapat mengenal Pencipta dengan membanding-bandingkan kebesaran dan keindahan ciptaan-ciptaan-Nya. Namun demikian dalam hal ini mereka hanya sedikit saja salahnya, sebab mungkin mereka hanya tersesat, tetapi mereka mencari Allah dan berusaha menemukan-Nya. Karena sibuk mengamat-amati karya-karya Allah dan menyelidikinya. Mereka hanya terpukau oleh apa yang mereka lihat, sebab memang indahlah semua yang kelihatan itu. Tetapi bagaimana pun mereka tidak dapat dimaafkan. Sebab jika mereka mampu mengetahui sebanyak itu, sehingga dapat menyelidiki jagat raya, mengapa mereka tidak terlebih dahulu menemukan Penguasa semuanya itu?<br>Demikianlah sabda Tuhan<br>U. Syukur kepada Allah.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 19:2-3.4-5<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Ref.&nbsp;<em>Nama Tuhan hendak kuwartakan di tengah umat kumuliakan.<\/em><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan karya tangan-Nya; hari yang satu mengisahkannya kepada hari yang lain, dan malam yang satu menyampaikan pengetahuannya kepada malam berikut.<\/li>\n\n\n\n<li>Meskipun tidak berbicara, dan tidak memperdengarkan suara, namun di seluruh bumi bergaunglah gemanya, dan amanat mereka sampai ke ujung bumi.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BAIT PENGANTAR INJIL:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">U :&nbsp;<em>Alleluya<\/em><br>S : (Luk 21:28)&nbsp;<em>Angkatlah mukamu, sebab penyelamatmu sudah mendekat.<\/em><\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas 17:26-37<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cKapan Anak Manusia akan menyatakan diri.\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, \u201cSebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula kelak pada hari Anak Manusia. Pada zaman Nuh itu orang-orang makan dan minum, kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera. Lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian pula yang terjadi pada zaman Lot. Mereka makan dan minum, membeli dan menjual, menanam dan membangun, sampai pada hari Lot keluar dari Sodom. Lalu turunlah hujan api dan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia menyatakan diri. Pada hari itu barangsiapa sedang ada di peranginan di atas rumah, janganlah ia turun untuk mengambil barang-barang di dalam rumah. Demikian pula yang sedang berada di ladang, janganlah ia pulang. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu kalau ada dua orang di atas ranjang, yang satu akan dibawa dan yang lain ditinggalkan. Kalau ada dua orang wanita yang sedang bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.\u201d Para murid lalu bertanya, \u201cDi mana, Tuhan?\u201d Yesus menjawab, \u201cDi mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.\u201d<br>Demikianlah Sabda Tuhan<br>U. Terpujilah Kristus<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Agustinus Guntoro SCJ<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Para sahabat dimana pun Anda berada, berjumpa udara lagi dengan saya, Agustinus Guntoro, scj dari komunitas Martino Capelli di Hong Kong, dalam RESI (Renungan Singkat) Dehonian, hari ini, tanggal 17 November 2023.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Para sahabat yang terkasih, ada rasa ngeri setiap kali aku membaca Injil yang menyinggung-nyinggung isu soal akhir zaman atau kedatangan kembali Anak Manusia. Yang terbayangkan itu kehancuran dan kebinasaan (kematian), dan orang-orang yang berlomba-lomba untuk bisa menyelamatkan diri. Suasananya menjadi menegangkan, dan jauh dari sukacita. Mengikuti agama atau yang lebih dalam, menghayati iman, menjadi sangat kaku dan serius.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Tetapi, ketika aku sampai pada ayat 33 yang menyatakan, \u201cBarangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya,\u201d perspektifku berubah. Aku menemukan titik balik yang melegakan dan mencerahkan. Hidup beragama terasa lebih ringan, relax dan tidak terlalu serius. Yesus mengajak kita untuk menghadapi apa pun, termasuk sesuatu yang mengerikan dan menakutkan sekali pun, dengan mengandalkan Tuhan dalam segala perkara, meletakkan kehendak kita dalam kehendak Allah. Tidak perlu takut dan hidup dalam ketegangan, karena pada akhirnya keselamatan tidak tergantung pada kehebatan dan kekuatan kita, melainkan dalam kuasaNya.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Oleh karenanya, kita fokus saja, tidak perlu sibuk menyelamatkan nyawa, tapi fokus pada hidup demi kemuliaan Allah dan tidak mencuri kemuliaan Allah dengan membanggakan diri atas segala apa yang sudah diperolehnya. Kita berusaha menjadi tanda kehadiran Allah di dalam segala hal dengan membagi berkat bagi sesama melalui setiap pekerjaan dan tugas yang di percayakan kepadanya. Fokuslah\u2026 dalam pekerjaan itu dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu mikir yang macam-macam!<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Para sahabat, semoga Hati Kudus Yesus dan Hati Maria semakin merajai hati kita, agar kita digerakkan untuk bisa fokus pada sesuatu yang sangat dekat dari kita, sesuatu hal dalam keseharian kita sebagai persembahan untuk kemuliaanNya. Tuhan memberkati kita semuanya.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Allah Bapa yang mahamurah,&nbsp;terimalah kiranya persembahan umat-Mu yang mengenangkan karya cinta kasih Putera-Mu, yang dilanjutkan oleh Santa Elisabet dengan setia. Semoga hati kami Kaukobarkan dengan cinta kasih, sehingga karya-Mu dewasa ini tetap berlangsung.&nbsp;Demi Kristus, \u2026<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON KOMUNI \u2013 Yoh 15:13<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Tiada cinta kasih yang lebih besar daripada cinta kasih orang,&nbsp;yang menyerahkan nyawanya untuk sahabatnya.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA SESUDAH KOMUNI<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa:&nbsp;Allah Bapa maha pengasih,&nbsp;semoga berkat kekuatan santapan suci ini kami dapat mengikuti tel adan Santa Elisabet. Ia mengabdi Engkau tanpa kenal lelah dan menanamkan cinta kasih nyata di tengah umat-Mu.&nbsp;Demi Kristus,\u2026<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Resi-Jumat-17-November-2023-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Martino-Capelli-Hong-Kong.mp3\">Resi-Jumat 17 November 2023 oleh Rm. Agustinus Guntoro SCJ dari Komunitas SCJ Martino Capelli Hong Kong<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber https:\/\/resi.dehonian.or.id\/2023\/11\/16\/jumat-17-november-2023-peringatan-wajib-st-elisabeth-dari-hungaria\/<\/p>\n\n\n\n<figure><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=37264-podcast&amp;powerpress_player=default\" width=\"320\" height=\"50\"><\/iframe><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Santa&nbsp;Elizabeth dari Hungaria<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Elizabeth of Thuringia, Elisabeth von Th\u00fcringen<\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Menurut tradisi, ia dilahirkan di sebuah kastil di Sarospatak, Hungaria, pada tanggal 7 Juli, 1207. Ia merupakan putri Raja Andr\u00e1s II dari Hungaria dan Gertrud dari Andechs-Merania, dan pada usia 4 tahun ia dibawa ke istana raja Th\u00fcringen di Jerman Tengah, untuk menjadi calon mempelai bagi pangeran Th\u00fcringen. Pada tahun 1221, ketika ia baru berusia 14 tahun, Elizabeth dinikahkan dengan raja Louis, penguasa Thuringia. Elizabeth seorang mempelai yang cantik, yang amat mengasihi suaminya yang tampan. Louis membalas kasih isterinya dengan segenap hatinya. Tuhan mengaruniakan kepada mereka tiga anak dan mereka hidup berbahagia selama enam tahun.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Pada musim semi tahun 1226, ketika banjir, kelaparan, dan wabah malapetaka menimpa Th\u00fcringia, Raja Louis, sedang mewakili Kaisar Romawi Suci dalam Reichstag (Parlemen Negara) di kota Cremona. Elizabeth berusaha keras mengendalikan pemerintahan dalam negeri dan mendistribusikan bantuan kesemua bagian wilayah yang terkena bencana. Ratu bahkan juga mendermakan jubah kenegaraan beserta hiasannya kepada orang miskin.&nbsp; Di bawah Kastil Wartburg, ia membangun sebuah rumah sakit dengan 28 ranjang dan mengunjunginya setiap hari untuk merawat mereka yang sakit.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Hidup Elizabeth berubah dengan drastis pada tanggal 11 September, 1227 ketika suaminya Louis berangkat bersama pasukan Thuringia dan bertempur pada Perang Salib&nbsp;Keenam. Dalam perjalanan Louis meninggal terkena wabah di Otranto, Italia. Jenazahnya dikembalikan pada Elizabeth pada tahun 1228 dan dimakamkan di Reinhardsbrunn; ketika mendengar kabar kematian suaminya, Elizabeth konon mengatakan, \u201cIa sudah mati. Sepertinya untukku seluruh dunia dan segala kesenangannya sudah mati hari ini.\u201d&nbsp; Dihadapan Jenazah suaminya Elizabeth pun bersumpah untuk tidak menikah lagi dan akan melanjutkan hidupnya sebagai seorang biarawati.&nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Sanak-saudara Louis tidak pernah menyukai Elizabeth karena ia biasa membagikan banyak makanan kepada kaum miskin. Semasa Louis masih hidup, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi sekarang, mereka dapat dan mereka melakukannya. Segera saja, puteri yang cantik serta lemah lembut ini beserta ketiga anaknya diusir dari kastil. Mereka menderita kelaparan serta kedinginan. Namun, Elizabeth tidaklah mengeluh akan penderitaannya yang berat itu. Malahan ia mengucap syukur kepada Tuhan karena Ia memperoleh kesempatan untuk meneladani semangat kemiskinan St. Fransiskus Asisi.&nbsp; Elizabeth menerima penderitaannya sama seperti ia menerima kabahagiaannya.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Sanak-saudara Elizabeth datang menolongnya. Ia beserta anak-anaknya mempunyai tempat tinggal kembali. Pamannya menghendaki agar Elizabeth menikah lagi, karena ia masih muda dan menarik. Tetapi Elizabeth menolak. Ia telah bertekad untuk mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Ketika pamannya berusaha memaksanya untuk menikah;&nbsp; Elizabeth tetap teguh pada sumpahnya, bahkan mengancam akan memotong hidungnya sendiri supaya tidak ada pria yang akan tertarik dan menikahinya. Dan sang paman pun akhirnya menyerah.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Elizabeth kemudian bergabung menjadi anggota Ordo ketiga Fransiskan, dan membangun sebuah rumah sakit di Marburg untuk orang miskin dan sakit dari semua hartanya yang tersisa; bahkan uang mas kawinnya. Ia menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dengan melayani mereka yang sakit serta miskin. Ia bahkan pergi memancing sebagai usaha untuk memperoleh tambahan uang untuk membeli obat-obatan bagi kaum miskin yang dikasihinya.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">St. Elizabeth baru berusia dua puluh empat tahun ketika ia wafat. Menjelang ajalnya, orang dapat mendengarnya bersenandung pelan di atas pembaringannya. Ia yakin betul bahwa Yesus akan membawanya kepada-Nya. Elizabeth wafat pada tahun 1231.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Setelah kematian Elizabeth, banyak keajaiban terutama keajaiban dalam penyembuhan dilaporkan terjadi di makamnya di dalam gereja dan di rumah sakit yang didirikannya. Atas perintah Paus, penyelidikan diadakan pada orang-orang yang telah secara ajaib disembuhkan antara bulan Agustus 1232 dan Januari 1235. Hasil dari penyelidikan tersebut dilengkapi oleh vita dari seorang calon santa, dan bersama dengan testamen dari para pelayan Elizabeth (tercantum di dalam buku yang disebut the Libellus de dictis quatuor ancillarum s. Elisabeth confectus), membuktikan alasan yang cukup untuk memberikan Gelar Kudus (kanoninasi ) pada&nbsp; Elizabeth.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Maka pada tahun 1235 di Kota Perugia Italia;&nbsp;Paus&nbsp;Gregorius IX memaklumkan secara resmi Elizabeth dari Thuringia sebagai Santa. Piagam kepausan tersebut ada di dalam layar \u201cSchatzkammer\u201d dari Deutschordenskirche di Wina, Austria.&nbsp; Jenazah St.Elizabeth kemudian dibaringkan di sebuah altar dari emas yang masih dapat dilihat sampai sekarang di Gereja St. Elisabeth di Marburg. Pada saat Reformasi Protestan;&nbsp; Gereja ini diambil alih oleh para pengikut Protestan sampai saat ini. Namun demikian umat Khatolik masih&nbsp; diberi tempat tersendiri untuk beribadah dalam Gereja tersebut.<\/h4>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Arti Nama<\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Berasal dari kata Yunani :&nbsp;<strong>\u0395\u03bb\u03b9\u03c3\u03b1\u03b2\u03b5\u03c4 (Elisabet)<\/strong>, yang aslinya berasal dari kata Ibrani :&nbsp;<strong>\u05d0\u05b1\u05dc\u05b4\u05d9\u05e9\u05b6\u05c1\u05d1\u05b7\u05e2 (\u2018Elisheva\u2019)<\/strong>&nbsp;yang berarti :&nbsp;<strong>Tuhan adalah Hidupku \/ Tuhan saya adalah kelimpahan \/ Pemuja Tuhan<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Variasi Nama<\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Elisabeth, Elsabeth, Elyzabeth, Elisabeth (English), Zabel (Armenian), Elixabete (Basque), Elisabet (Biblical Greek), Elisheba (Biblical Hebrew), Elisabeth (Biblical Latin), Elisaveta (Bulgarian), Elizabeta (Croatian), Al\u017eb\u011bta, Izabela, Eli\u0161ka (Czech), Elisabet, Elisabeth, Isabella, Eli, Elise, Ella, Else, Lilly, Lis, Lisa, Lisbet, Lise (Danish), Elisabeth, Isabella, Isabelle, Betje, Elise, Elly, Els, Else, Elsje, Ilse, Isa, Lies, Liesbeth, Liese, Liesje, Lijsbeth, Lisa (Dutch), Eliisabet, Liisa, Liisu (Estonian), Elisabet, Eliisa, Elisa, Elsa, Liisa, Liisi (Finnish), \u00c9lisabeth, Isabel, Isabelle, Babette, \u00c9lise, Lili, Lilian, Liliane, Lilianne, Lise, Lisette (French), Sabela (Galician), Eliso (Georgian), Elisabeth, Isabel, Isabelle, Bettina, Elisa, Elise, Elli, Elsa, Else, Ilsa, Ilse, Isa, Isabell, Isabella, Lies, Liesa, Liese, Liesel, Liesl, Lili, Lilli, Lisa, Lisbeth (German), Elisavet (Greek), Elikapeka (Hawaiian), Elisheva (Hebrew), Elizabeth, Izabella, B\u00f6zsi, Erzsi, Liza, Zs\u00f3ka (Hungarian), El\u00edsabet (Icelandic), Eil\u00eds, Eilish, Isib\u00e9al, Sib\u00e9al (Irish), Elisabetta, Isabella, Elisa, Elsa, Isa, Liana, Liliana, Lisa (Italian), El\u017ebieta, Elz\u0117 (Lithuanian), Elisaveta (Macedonian), Ealisaid (Manx), Ibb (Medieval English), Isabel (Medieval Occitan), Elisabet, Elisabeth, Isabella, Eli, Elise, Ella, Else, Lilly, Lis, Lisa, Lisbet, Lise (Norwegian), Isab\u00e8l (Occitan), El\u017cbieta, Izabela, Izabella, Eliza, Liliana (Polish), Isabel, Belinha, Elisa, Elisabete, Isabela, Liana, Liliana (Portuguese), L\u00edlian (Portuguese (Brazilian)), Elisabeta, Isabela, Isabella, Liliana (Romanian), Elizaveta, Yelizaveta, Liza, Lizaveta (Russian), Ealasaid, Elspet, Elspeth, Iseabail, Ishbel, Isobel, Beileag, Lileas, Lilias, Lillias (Scottish), Jelisaveta (Serbian), Al\u017ebeta, Eli\u0161ka (Slovak), Elizabeta, \u0160pela (Slovene), Isabel, Ysabel, Elisa, Isa, Isabela, Isabella, Liliana (Spanish), Elisabet, Elisabeth, Isabella, Elise, Ella, Elsa, Lilly, Lis, Lisa, Lisbet, Lise (Swedish)<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>BENTUK PENDEK<\/strong>&nbsp;: Bess, Bessie, Beth, Betsy, Bette, Bettie, Betty, Buffy, Elisa, Eliza, Ella, Ellie, Elly, Elsa, Elsie, Elyse, Libbie, Libby, Liddy, Lilian, Lilibet, Lilibeth, Lillia, Lillian, Lisa, Lise, Liz, Liza, Lizbeth, Lizette, Lizzie, Lizzy, Tetty, Bettye, Elle, Leanna, Leesa, Liana, Liliana (English)<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Sumber:&nbsp;<a href=\"https:\/\/katakombe.org\/para-kudus\/november\/elizabeth-dari-hungaria.html\">https:\/\/katakombe.org\/para-kudus\/november\/elizabeth-dari-hungaria.html<\/a><\/h4>\n<div class=\"powerpress_player\" id=\"powerpress_player_6937\"><audio class=\"wp-audio-shortcode\" id=\"audio-37264-1\" preload=\"none\" style=\"width: 100%;\" controls=\"controls\"><source type=\"audio\/mpeg\" src=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Resi-Jumat-17-November-2023-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Martino-Capelli-Hong-Kong.mp3?_=1\" \/><a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Resi-Jumat-17-November-2023-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Martino-Capelli-Hong-Kong.mp3\">https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Resi-Jumat-17-November-2023-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Martino-Capelli-Hong-Kong.mp3<\/a><\/audio><\/div><p class=\"powerpress_links powerpress_links_mp3\" style=\"margin-bottom: 1px !important;\">Podcast: <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Resi-Jumat-17-November-2023-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Martino-Capelli-Hong-Kong.mp3\" class=\"powerpress_link_pinw\" target=\"_blank\" title=\"Play in new window\" onclick=\"return powerpress_pinw('https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=37264-podcast');\" rel=\"nofollow\">Play in new window<\/a> | <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Resi-Jumat-17-November-2023-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Martino-Capelli-Hong-Kong.mp3\" class=\"powerpress_link_d\" title=\"Download\" rel=\"nofollow\" download=\"Resi-Jumat-17-November-2023-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Martino-Capelli-Hong-Kong.mp3\">Download<\/a><\/p><!--powerpress_player-->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ANTIFON PEMBUKA \u2013 Mat 25:34.36.40 Marilah kalian yang diberkati oleh Bapa-Ku. Sebab Aku sakit dan kalian mengunjungi Aku.&nbsp;Sungguh Aku bersabda kepadamu: Apa saja yang kalian lakukan bagi saudara-Ku yang terhina sekalipun, itu kalian lakukan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29011,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"audio","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,1,20],"tags":[],"class_list":["post-37264","post","type-post","status-publish","format-audio","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan-audio","category-bacaan-harian","category-renungan-text","post_format-post-format-audio"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/app-2023-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37264","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=37264"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37264\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":37266,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37264\/revisions\/37266"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/29011"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=37264"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=37264"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=37264"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}