{"id":3669,"date":"2014-12-25T18:07:27","date_gmt":"2014-12-25T11:07:27","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=3669"},"modified":"2014-12-25T18:07:27","modified_gmt":"2014-12-25T11:07:27","slug":"tongkat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=3669","title":{"rendered":"TONGKAT"},"content":{"rendered":"<div id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3030\" align=\"center\"><b id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3034\"><span id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3033\" style=\"text-decoration: underline;\">TONGKAT<\/span><\/b><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3039\" align=\"center\">(Kontemplasi\u00a0\u00a0Peradaban)<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3009\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3047\" align=\"right\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u201cTongkat ini adalah tanda otoritas Musa\u201d<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3050\" align=\"right\">(Scott Hahn,\u00a0\u00a0dalam bukunya yang berjudul,<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3053\" align=\"right\"><i id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3145\">\u00a0\u201cSeorang Bapa yang Setia pada Janji-Nya\u201d<\/i>\u00a0hlm. 153).<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3009\"><\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3060\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Dunia perfilman Indonesia\u00a0\u00a0saat ini, sedang di-<i id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3062\">geger-<\/i>kan oleh Ifa Isfansyah (Lahir di Yogyakarta, 16 Desember 1979)\u00a0\u00a0sutradara yang menciptakan film\u00a0\u00a0berjudul,\u00a0<i>\u201cPendekar Tongkat Emas\u201d.<\/i>\u00a0Sinopsis film ini dibuka dengan pergulatan perasaan guru Cempaka yang merasa bahwa sudah saatnya mewariskan ilmu andalannya,\u00a0\u00a0\u201ctongkat emas melingkar\u00a0\u00a0bumi\u201d\u00a0\u00a0\u00a0kepada anak asuhannya. Tidak berbeda dengan cara estafet kepemimpian di sebuah lembaga, pikiran kita pun cenderung mengatakan bahwa orang yang akan menerima tongkat estafet haruslah mereka yang terhebat,\u00a0<i>mumpuni<\/i>\u00a0dan kompeten.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3068\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Tongkat adalah kata-kata yang biasa. Ada\u00a0<i id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3070\">tongsis<\/i>\u00a0(tongkat narsis), tongkat gembala, tongkat Musa, tongkat mayoret dan\u00a0\u00a0tongkat komando. Tongkat dalam dunia pewayangan (<i>Ramayana<\/i>\u00a0dan\u00a0<i id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3076\">Mahabharata<\/i>) dipakai untuk perang tanding. Tongkat tersebut\u00a0\u00a0bentuknya \u201cmenggembung\u201d.\u00a0\u00a0Perang tanding antara Doryudana dan Bima yang melegenda itu,\u00a0\u00a0dua-duanya menggunakan \u201ctongkat\u201d dengan nama masing-masing:\u00a0<i>gada wesi kuning<\/i>\u00a0dan\u00a0<i>gada rujak polo<\/i>\u00a0\u00a0(Bdk. Kitab Mazmur 23: 4,\u00a0\u00a0\u201c<i>Gada<\/i>-Mu dan tongkat-Mu yang menghibur aku\u2026\u201d). Konon juga pernah diceriterakan ada tongkat komando dari sang Jendral yang sering patah karena sering digunakan untuk memukul para prajuritnya.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3079\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Sebuah tongkat baru\u00a0\u00a0memiliki makna tatkala dipegang\u00a0\u00a0oleh orang yang memiliki otoritas. \u201cTongkat emas\u201d\u00a0\u00a0milik guru Cempaka, jika dipegang oleh orang yang tidak memiliki jurus \u201ctongkat emas melingkar bumi\u201d tentu akan menjadi tongkat biasa saja. Atau seperti\u00a0\u00a0tongkat komando yang sering dipegang sang jendral sewaktu\u00a0upacara \u2013 (ketika dipegang oleh istrinya di rumah)\u00a0\u00a0\u2013 maka, ia\u00a0\u00a0tidak memunyai\u00a0\u00a0bobot apa-apa. Tongkat atau\u00a0\u00a0<i>stick<\/i>\u00a0<i>conductor\u00a0\u00a0<\/i>baru memiliki makna jika digunakan di depan para pemain orkes (pemegang alat music dan\u00a0<i>partiture<\/i>)\u00a0\u00a0yang telah dilatihnya.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3086\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Tongkat, bagaikan\u00a0\u00a0barang magis yang mampu menyihir orang-orang untuk mengikuti aba-abanya. Tidak heranlah jika setiap bawahan\u00a0\u00a0\u201cbermimpi\u201d dan bercita-cita\u00a0\u00a0untuk\u00a0\u00a0mendapatkan \u201ctongkat kepemimpinan\u201d dari sang\u00a0<i>boss<\/i>. Itulah sebabnya,\u00a0\u00a0\u2013 konon \u2013\u00a0\u00a0Napoleon Bonaparte (1769 \u2013 1821)\u00a0\u00a0setiap latihan perang selalu berkata, \u201cHai para prajurit, simpanlah dalam setiap ranselmu sebuah tongkat komando, sebagai motivasi, bahwa suatu saat nanti kalian juga akan memegangnya!\u201d\u00a0\u00a0Setiap prajurit\u00a0atau\u00a0\u00a0<i>kroco<\/i>\u00a0sekalipun, berpotensi menjadi\u00a0\u00a0<i id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3099\">comandant<\/i>\u00a0\u00a0karena pegang tongkat komando.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3098\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Para raja \u2013 ketika duduk di singgasana \u2013 senantiasa memegang tongkat.\u00a0\u00a0Zeus sebagai penguasa langit\u00a0\u00a0dilukiskan sebagai raja yang memegang tongkat petir. Kristus Raja Semesta Alam\u00a0\u00a0dilukiskan Yesus dengan mahkota dan tangan kiri-Nya memegang tongkat komando. Namun dalam\u00a0\u00a0lukisan \u201cYesus gembala yang baik,\u201d\u00a0\u00a0Yesus dilukiskan\u00a0\u00a0memegang\u00a0\u00a0tongkat gembala dengan tangan kanan dan tangan kirinya adalah domba kecil atau lemah.<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3106\">Akhirnya, \u201ctongkat estafet\u201d memiliki sejarahnya sendiri. Awalnya tongkat estafet dimulai dari bangsa Aztec, Inka dan Maya yang bertujuan untuk meneruskan berita yang telah diketahui supaya berita itu menyebar seantero\u00a0\u00a0negeri. Lantas, di Yunani kuno, istilah\u00a0\u00a0estafet yang kemudian dinamakan \u201cestafet obor\u201d\u00a0diselenggarakan dalam hubungannya dengan pemujaan leluhur serta untuk meneruskan api keramat ke jajahan-jajahan baru. Selanjutnya, tongkat estafet diterapkan dalam regenerasi pada kepemiminan\u00a0<i>(succession).<\/i>\u00a0<span style=\"font-family: Calibri;\">\u00a0<\/span>Ketika Yesus berkata kepada Petrus, \u201cGembalakanlah domba-domba-Ku\u201d\u00a0\u00a0\u2013 barangkali \u2013 sebagai tanda bahwa Petrus akan menerima \u201ctongkat estafet\u201d dari Yesus (Bdk. Yoh 21: 16).\u00a0Alexander Agung (356 \u2013 323 seb. M) sewaktu sekarat, ditanya oleh para jendralnya, \u201cSiapa yang menggantikan tongkat estafet sang Raja\u201d Dia berkata,\u00a0\u00a0\u201cOrang yang terkuatlah yang akan memegang tongkat komandoku.\u201d<\/div>\n<div id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3017\">Dalam kepramukaan, jika\u00a0\u00a0mengadakan kegiatan\u00a0\u00a0\u201cmencari jejak\u201d\u00a0\u00a0atau \u201cjurit malam\u201d\u00a0\u00a0diwajibkan menggunakan tongkat.\u00a0\u00a0Namun, orang tua yang sudah kesulitan berjalan dihimbau untuk\u00a0\u00a0menggunakan tongkat. Di pihak lain, tongkat juga dipakai oleh mereka yang suka berziarah. Tetapi ingatlah bahwa hidup itu sendiri adalah\u00a0suatu\u00a0\u00a0peziarahan, \u201cKarena iman, maka Yakub,\u00a0\u00a0ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf,\u00a0\u00a0lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya\u201d\u00a0\u00a0(Ibr 11: 21). Sampai hembusan nafas yang terakhir pun seorang musafir tua masih memiliki tongkat di tangannya. Menjelang akhir hidupnya, ia masih saja siap untuk berziarah. Jika kita benar-benar mau menghadapi tantangan hidup, kita harus mempertahankan pikiran yang senang menjelajah, \u201cMari kita siapkan tongkat!\u201d<\/div>\n<div dir=\"ltr\" id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3022\"><i id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_3128\">Senin, 22 Desember 2014<\/i>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Rm.\u00a0<b id=\"ygrps-yiv-354261200yui_3_16_0_1_1419241619939_22502\">Markus Marlon MSC<\/b><\/div>\n<p>Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Rm. Markus Marlon, MSC &lt;markus_marlon@yahoo.com&gt;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TONGKAT (Kontemplasi\u00a0\u00a0Peradaban) \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u201cTongkat ini adalah tanda otoritas Musa\u201d (Scott Hahn,\u00a0\u00a0dalam bukunya yang berjudul, \u00a0\u201cSeorang Bapa yang Setia pada Janji-Nya\u201d\u00a0hlm. 153). \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Dunia perfilman Indonesia\u00a0\u00a0saat ini, sedang di-geger-kan oleh Ifa Isfansyah (Lahir di Yogyakarta, 16 Desember&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3360,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-3669","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/CAM003241.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3669","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3669"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3669\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3670,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3669\/revisions\/3670"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3360"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3669"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3669"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3669"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}