{"id":34971,"date":"2023-10-06T14:36:14","date_gmt":"2023-10-06T07:36:14","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=34971"},"modified":"2023-10-06T14:36:15","modified_gmt":"2023-10-06T07:36:15","slug":"sabtu-07-oktober-2023","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=34971","title":{"rendered":"Sabtu, 07 Oktober 2023"},"content":{"rendered":"\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON PEMBUKA \u2013 Luk 1:28,42<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu.&nbsp;Terpujilah engkau di antara wanita&nbsp;dan terpujilah buah tubuhmu.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>PENGANTAR:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Suatu tanda bahaya, seruan mohon bantuan, selalu diulang-ulang dengan harapan akan mendapat jawaban. Suatu saat kegembiraan mendalam, suatu saat yang membahagiakan, berkali-kali dikenang untuk dinikmati lebih lama. Mungkin tiada kebaktian yang amat erat hubungannya dengan manusia seperti Rosario, doa harian orang-orang kecil sederhana. Mungkin ulangan-ulangan itu kurang mengena bagi kita. Tetapi hendaknya kita tanyakan, apakah doa-soa kita juga sejujur dan seikhlas sesederhana doa Rosario itu?<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan peristiwa yang terjadi 3 abad sebelumnya, yaitu ketika terjadi pertempuran di Lepanto pada tahun 1571, di mana negara-negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman yang menyerang agama Kristen. Terdapat ancaman genting saat itu, bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) dari Austria, komandan armada Katolik, berdoa rosario memohon pertolongan Bunda Maria.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Demikian juga, umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober. Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Peringatan Wajib Santa Perawan Maria, Ratu Rosario.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PEMBUKA:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa:&nbsp;Allah Bapa yang mahamurah,&nbsp;kami mengetahui dari kabar malaikat, bahwa Yesus Kristus, Putera-Mu, menjadi manusia.&nbsp;Kami mohon curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami, supaya berkat sengsara dan salib-Nya kami diantar kepada kebangkitan mulia.&nbsp;Demi Yesus Kristus, \u2026<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN PERTAMA:&nbsp;<\/strong><strong>Bacaan dari Kisah Para Rasul 1:12-14<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cDengan sehati mereka semua bertekun dalam doa.\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Setelah Yesus diangkat ke surga, dari bukit yang disebut Bukit Zaitun kembalilah para rasul ke Yerusalem yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya. Setelah tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, Simon orang Zelot, dan Yudas bin Yakobus. Dengan sehati mereka semua bertekun dalam doa bersama dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.<br>Demikianlah sabda Tuhan<br>U. Syukur kepada Allah.&nbsp;&nbsp;<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>MAZMUR TANGGAPAN:&nbsp;<\/strong><strong>Lukas 1:46-47.48-49.50-51.52-53.54-55<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong><em>Ref.<\/em>&nbsp;Perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang Mahakuasa, kuduslah nama-Nya.<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Aku mengagungkan Tuhan, hatiku bersukaria karena Allah, penyelamatku. Sebab Ia memperhatikan daku, hamba-Nya yang hina ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Mulai sekarang aku disebut yang bahagia oleh sekalian bangsa. Sebab perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang Mahakuasa; kuduslah nama-Nya.<\/li>\n\n\n\n<li>Kasih sayang-Nya turun-temurun kepada orang yang takwa. Perkasalah perbuatan tangan-Nya; dicerai-beraikan-Nya orang yang angkuh hatinya.<\/li>\n\n\n\n<li>Orang yang berkuasa diturunkan-Nya dari takhta, yang hina dina diangkat-Nya. Orang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan; orang kaya diusir-Nya dengan tangan kosong.<\/li>\n\n\n\n<li>Menurut janji-Nya kepada leluhur kita, Allah telah menolong Israel, hamba-Nya. Demi kasih sayang-Nya kepada Abraham serta keturunannya untuk selama-lamanya.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BAIT PENGANTAR INJIL:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">U :<em>&nbsp;Alleluya<\/em><br>S : (Lukas 1:28) Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas 1:26-38<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em><strong>\u201cEngkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki.\u201d<\/strong><\/em><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Dalam bulan yang keenam Allah mengutus Malaikat Gabriel ke sebuah kota di Galilea, bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika masuk ke rumah Maria, malaikat itu berkata, \u201cSalam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.\u201d Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, \u201cJangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.\u201d Kata Maria kepada malaikat itu, \u201cBagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami?\u201d Jawab malaikat itu kepadanya, \u201cRoh Kudus akan turun atasmu, dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya, dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.\u201d Maka kata Maria, \u201cSesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.\u201d Lalu malaikat itu meninggalkan dia.<br>Demikianlah Sabda Tuhan!<br>U. Terpujilah Kristus!<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Antonius Tugiyatno SCJ<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Saudara\u2013saudari sahabat Resi Dehonian yang dikasihi oleh Tuhan, kita berjumpa kembali dalam Resi renungan singkat Dehonian edisi peringatan Santa Maria Ratu Rosari Sabtu 7 Oktober 2023. Kali ini bersama saya Romo Antonius Tugiyatno SCJ dari komunitas Tegal Sari Sumatera Selatan. Kita akan mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan dari Injil Lukas 1:26-38. Marilah kita memulainya dengan membuat tanda kemenangan Tuhan, dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan, kalau suatu kali kita melihat pemandangan kuntum-kuntum bunga yang indah ada perasaan bahagia dalam hidup kita. Bahkan dalam benak saya terkadang&nbsp; berpikir ketika melihat bunga-bunga yang indah betapa tumbuhan itu ciptaan yang terberkati. Demikian pula kalau saya merenungkan kuntum-kuntum doa yang dilantunkan melalui doa Rosario akan membawa berkat setiap butirnya. Ada dua hal yang saya renungkan dalam permenungan kali ini:<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Pertama Maria Ratu Rosario sebagai contoh teladan iman.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Maria adalah contoh teladan iman yang patut diteladani bagi umat Katolik. Melalui kemurahan hati dan ketaatannya kepada Tuhan, Maria menunjukkan kesetiaannya sebagai ibu dan model iman bagi umat Kristiani. Melalui doa Rosario yang didedikasikan kepada Maria, kita diberikan contoh tentang pentingnya hidup dalam kesucian dan kerendahan hati, sebagaimana dia sendiri hidup dalam waktu dan tempatnya.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Ke dua pentingnya perantaraan Maria dalam kehidupan kita.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Sebagai Bunda Gereja, Maria menjadi perantara yang sangat penting antara kita dan Tuhan. Bila kita berkomunikasi melalui sebuah surat tentu kita akan berharap surat yang kita kirim akan cepat sampai dan terbalas. Begitu juga bila kita berkomunikasi dengan telepon tentu jaringan penghantar yang baik akan menjadikan sinyal kuat dan komunikasi menjadi lancar. Begitu juga doa sebagai komunikasi yang terkadang membutuhkan penghantar maka melalui persembahan doa Rosario dan memohon bantuannya akan membantu kita memperoleh pengantra doa. Maria tidak hanya mendengarkan sebagai ibu yang baik akan doa kita, tetapi juga membawa permohonan-permohonan kita kepada Tuhan. Melalui kerendahan hati dan kesucian Maria, kita pun terbantu untuk semakin semakin mendekatkan diri dengan Tuhan dan membantu kita meraih berkat-berkat kasih-Nya.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Semoga melalui doa rosario yang senantiasa kita persembahkan, senantiasa mengalir pula rahmat di dalam kehidupan kita. Semoga melalui butir-butir atau kuntum-kuntum Rosario yang kita doakan melalui perantaraan Maria, senantiasa ada sukacita, ada pengharapan, dan kasih setia Tuhan yang selalu mengalir dalam hidup kita. Semoga Hati Kudus Yesus senantiasa merajai hati kita.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Allah Bapa yang maha pengasih,&nbsp;berilah kami semangat baru berkat persembahan ini.&nbsp;Semoga kehidupan Putera-Mu kami renungkan sedemikian rupa sehingga kami layak menerima kebahagiaan yang dijanjikan-Nya.&nbsp;Sebab Dialah, \u2026<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>ANTIFON&nbsp; KOMUNI \u2013 Luk 1:31<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Engkau akan mengandung dan melahirkan seoran Putera yang harus kaunamai Yesus.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>DOA SESUDAH KOMUNI:<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Marilah berdoa\u00a0Allah Bapa yang mahamulia, dalam perayaan suci ini kami wartakan wafat dan kebangkitan Kristus.\u00a0Semoga kami yang ikut serta dalam kehidupan dan kesengsaraan Putera-Mu, tetap bersatu dengan Dia dalam kemuliaan.\u00a0Sebab Dialah, \u2026<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Resi-Sabtu-07-Oktober-2023-oleh-Rm.-Antonius-Tugiyatno-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Tegal-Sari-Sumatera-Selatan-Indonesia.mp3\">Resi-Sabtu 07 Oktober 2023 oleh Rm. Antonius Tugiyatno SCJ dari Komunitas SCJ Tegal Sari Sumatera Selatan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber https:\/\/resi.dehonian.or.id\/2023\/10\/05\/sabtu-07-oktober-2023-peringatan-wajib-st-perawan-maria-ratu-rosario\/<\/p>\n\n\n\n<figure><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=34971-podcast&amp;powerpress_player=default\" width=\"320\" height=\"50\"><\/iframe><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Peringatan Wajib Santa Perawan Maria, Ratu Rosario<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Devosi non-liturgi yang sangat populer di kalangan umat Katolik ialah&nbsp;\u2018Doa Rosario\u2019. Di dalamnya umat beriman merenungkan karya penebusan Kristus di dalam 15 peristiwa Sejarah Keselamatan, sambil mendaraskan 1 X Bapa Kami, 10 X Salam Maria dan 1 X Kemuliaan, didahului oleh pendarasan Syahadat Para Rasul, 1 X Bapa Kami, 3 X Salam Maria dan 1 X Kemuliaan. Pesta Rosario Suci dirayakan oleh seluruh Gereja pada tanggal 7 Oktober dalam Minggu pertama bulan Oktober.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Perihal&nbsp;doa Rosario&nbsp;ini terdapat anggapan umum berikut: bahwasanya di masa lampau doa Rosario seperti yang kita kenal dewasa ini di dalam Gereja dianggap sebagai pemberian Santa Maria sendiri kepada salah seorang pencintanya, yaitu Santo Dominikus, pendiri Ordo Pengkotbah. Tetapi legenda indah ini tidak dapat diperdamaikan dengan data sejarah yang berhubungan dengan adanya kebiasaan berdoa Rosario itu. Oleh karena itu untuk memahami sedikit lebih dalam perihal&nbsp;doa Rosario&nbsp;itu, kiranya baik kalau dikemukakan di sini sedikit sejarah perkembangan doa Rosario itu.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Catatan sejarah tentang awal mula praktek doa Rosario diambil dari kebiasaan doa di kalangan para rahib di dalam kehidupan monastik zaman dulu. Pada masa itu para rahib biasanya setiap hari mendaraskan 150 buah Mazmur (Doa Ofisi) sebagaimana terdapat di dalam Kitab Suci. Para rahib awam yang tidak tahu membaca atau yang buta huruf mengganti pendarasan Mazmur itu dengan 150 buah doa yang lain. Biasanya doa pengganti itu ialah doa \u2018Pater Noster\u2019 (Bapa Kami). Doa \u201cBapa Kami\u201d memang sudah semenjak Gereja perdana dianggap sebagai doa Gereja yang paling penting. Para calon baptis yang sedang dalam masa katekumenat, harus menghafal doa Bapa Kami itu di samping Kredo\/Syahadat Para Rasul. Untuk mempermudah mereka mengetahui berapa sudah doa Bapa Kami yang didaraskan, mereka menggunakan seutas tali bersimpul atau bermanik-manik. Oleh karena tali itu dipakai untuk menghitung doa \u201cPater Noster\u201d maka tali itu lazim disebut juga \u201cPater Noster\u201d.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Dari sejarah perkembangan devosi diketahui bahwa sejak zaman dahulu umat Kristen telah menaruh devosi yang tinggi kepada Santa Perawan Maria. Devosi-devosi ini dilestarikan oleh para rahib di dalam biara-biara. Pada masa abad, ke-11 berkembanglah kebiasaan memberi salam kepada Bunda Maria bila seseorang melewati patung atau arca Maria. Pada masa itu belum dikenal bentuk doa \u2018Salam Maria\u2019 seperti dewasa ini. Dahulu doa itu masih singkat, hanya terdiri dari bagian pertama yang berakhir dengan kata-kata: \u201cdan terpujilah buah tubuhmu\u201d. Jumlah doa Salam Maria yang sempat didaraskan dihitung pada tali \u2018Pater Noster\u2019 itu. Lama kelamaan berkembanglah kebiasaan untuk menggantikan doa Bapa Kami dengan doa Salam Maria. Jumlahnya tetap 150 sesuai jumlah Mazmur yang didaraskan para rahib. Karena pada masa itu 150 buah Mazmur yang didaraskan itu sudah dibagi ke dalam tiga bagian, masing-masingnya terdiri dari 50 buah, maka doa Salam Maria yang didaraskan oleh para rahib buta huruf itu pun dibagi dalam tiga bagian dengan masing-masing bagian terdiri dari 50. Rangkaian Salam Maria yang terdiri dari 50 buah itu disebut \u2018Korona\u2019 (=mahkota). Kata ini mengingatkan kita akan hiasan-hiasan kembang menyerupai mahkota yang biasanya dibuat pada arca-arca Bunda Maria. Bagian kedua doa \u2018Salam Maria\u2019, yaitu \u201cSanta Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin\u201d, menjadi doa resmi semenjak Paus Pius V (1566-1572) meresmikan terbitan \u2018Breviarium\u2019 (=doa harian Gereja) pada tahun 1568. Namun bagian kedua itu baru diterima umum pada abad XVII.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Bagian pertama&nbsp;doa \u201cSalam Maria\u201d&nbsp;yang melukiskan tentang peristiwa kunjungan malaekat Gabriel kepada Maria dan kesediaan Maria menerima Al Masih dalam rahimnya, diambil dari Kitab Suci. Itulah peristiwa awal \u2018Penjelmaan Juru Selamat\u2019. Sukacita itu kemudian diungkapkan Maria sendiri kepada Elisabeth, sanaknya yang pada waktu itu sudah hamil juga. Sejak abad ke-12, doa \u2018Salam Maria\u2019 mulai diulang-ulang selama berlangsungnya doa untuk mengenang \u2018Lima Sukacita Santa Maria\u2019 (Kabar Sukacita, Kelahiran Yesus, Kebangkitan Yesus, Kenaikan Yesus, dan Pengangkatan Maria ke Surga). Lama kelamaan \u2018Lima Peristiwa Sukacita\u2019 itu, ditambah antara lain dengan peristiwa: Penampakan Tuhan (epifani), Pentakosta atau Kunjungan kepada Elisabeth, sehingga menjadi \u2018Tujuh Sukacita Maria\u2019. Pada abad XIII, Korona Ketujuh Sukacita Maria ini mulai dipropagandakan oleh Ordo Fransiskan; dan pada abad XIII mantaplah sudah kebiasaan merenungkan Limabelas Sukacita Maria.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Pada Abad Pertengahan, umat Kristen mempunyai devosi istimewa kepada \u2018Lima Luka Yesus\u2019, yaitu di tangan, kaki dan lambung. (bdk. Yoh 20:20). Sementara itu ada pula devosi kepada \u2018Lima Penumpahan Darah Yesus\u2019, yaitu pada saat sakratulmautnya, saat didera, saat dimahkotai duri, saat disalibkan dan ditikam lambungNya. Karena semenjak dulu Bunda Maria dipandang sebagai peserta ulung dalam sengsara Yesus, maka tidak mengherankan, bahwa sejalan dengan devosi kepada Yesus yang bersengsara, berkembang pula devosi serupa kepada Maria yang berdukacita. Devosi itu dikembangkan oleh Ordo Fransiskan dan Serikat Hamba Maria. Maka sejak abad XIV berkembanglah devosi kepada \u2018Lima Dukacita Maria\u2019, ataupun \u2018Tujuh Dukacita Maria\u2019, yang dialaminya selama Yesus bersengsara dan wafat. Devosi kepada \u2018Tujuh Dukacita Maria\u2019 itu berkembang pesat di kalangan umat Kristen Eropa sehubungan dengan menjangkitnya wabah sampar yang mengerikan di sana.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Kebiasaan untuk menghubungkan doa \u201cSalam Maria\u201d dengan renungan tentang sejumlah peristiwa Yesus, sudah ada sejak abad XIV. Ada pula kebiasaan untuk menambah kata-kata \u201c. . . buah tubuhmu\u201d, dengan nama Yesus dan dengan sebuah kalimat pelengkap, misalnya, \u201cYang didera dengan kejam\u201d, \u201cYang dimahkotai duri\u201d, dsb. Dalam abad XV berkaryalah seorang biarawan bernama Dominikus yang diberi julukan \u201cdari Prusia\u201d. Ia seorang novis, yang sesuai dengan anjuran pemimpin biaranya, berusaha menggabungkan doa Rosario (yang terdiri dari 50 Salam Maria) dengan renungan mengenai kehidupan Yesus dan ibuNya. Pada tahun 1410, ia menyusun 50 seruan penutup doa \u201cSalam Maria\u201d. Seruan-seruan penutup itu diterima dengan antusias sekali dan segera menjadi populer, baik dalam bahasa Latin maupun dalam bahasa Jerman. Seruan-seruan tambahan itu biasanya dibacakan oleh orang-orang yang melek huruf.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Mulai tahun 1475, muncullah di dalam Gereja tarekat-tarekat religius yang mempopulerkan doa Rosario. Dengan munculnya teknik cetak, daftar lima belas peristiwa yang ditetapkan sebagai landasan renungan selama doa rosario, mulai dikenal di mana-mana. Sebuah buku kecil yang dicetak di Ulm pada tahun 1483 menganjurkan tiga rangkaian gambar, masing-masing memuat lima lukisan tersendiri, yaitu: Lima Sukacita Maria, Lima Penumpahan Darah Kristus, dan Lima Sukacita Maria sesudah bangkitnya Yesus. Inilah kelima belas peristiwa Rosario yang dikenal sekarang, kecuali dua yang terakhir, yaitu tertidurnya Maria dan Penghakiman Terakhir. Dalam buku kecil itu ada nasihat berikut: \u201dDaraskanlah doa Salam Maria sambil memandang lukisan-lukisan ini!\u201d Daftar tetap dari 15 peristiwa Rosario disusun di Spanyol sekitar tahun 1488. Daftar itulah yang disahkan oleh&nbsp;Paus Pius V, seorang biarawan Dominikan, ketika beliau menetapkan Rosario sebagai doa Gereja yang sah. Setahun sebelumnya, Pius mengesahkan teks&nbsp;doa Salam Maria&nbsp;yang sampai sekarang tidak diubah.<\/h4>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Ada sekian banyak peristiwa ajaib yang mendorong pimpinan tertinggi Gereja menghimbau bahkan mendesak umat\u00a0berdoa Rosario\u00a0untuk memohon perlindungan Bunda Maria atas Gereja dari segala rongrongan. Peristiwa terbesar yang melatarbelakangi penetapan tanggal 7 Oktober sebagai tanggal Pesta Santa Maria Ratu Rosario ialah peristiwa kemenangan pasukan Kristen dalam pertempuran melawan pasukan Islam Turki. Menghadapi pertempuran ini\u00a0Paus Pius V\u00a0menyerukan agar seluruh umat\u00a0berdoa Rosario\u00a0untuk memohon perlindungan Maria atas Gereja. Doa umat itu ternyata dikabulkan Tuhan. Pasukan Kristen dibawah pimpinan Don Johanes dari Austria berhasil memukul mundur pasukan Turki di Lepanto pada tanggal 7 Oktober 1571 (Minggu pertama bulan Oktober 1571). Sebagai tanda syukur\u00a0Paus Pius V\u00a0(1566-1572) menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai hari pesta Santa Maria Ratu Rosario. Kemudian\u00a0Paus Klemens IX\u00a0(1667-1669) mengukuhkan pesta ini bagi seluruh Gereja di dunia. Dan\u00a0Paus Leo XIII\u00a0(1878-1903) lebih meningkatkan nilai pesta ini dengan menetapkan seluruh bulan Oktober sebagai Bulan Rosario untuk menghormati Maria. Kemudian\u00a0berdoa Rosario\u00a0itu langsung diminta\u00a0Bunda Maria\u00a0sendiri agar didoakan umat pada peristiwa-peristiwa penampakannya di Lourdes, Prancis (1858), Fatima, Portugal (1917), di Beauraing, Belgia (1932-1933) dan di berbagai tempat lainnya akhir-akhir ini.<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber:\u00a0<a href=\"https:\/\/www.imankatolik.or.id\/kalender\/7Okt.html\">https:\/\/www.imankatolik.or.id\/kalender\/7Okt.html\u00a0<\/a><\/p>\n<div class=\"powerpress_player\" id=\"powerpress_player_2441\"><audio class=\"wp-audio-shortcode\" id=\"audio-34971-1\" preload=\"none\" style=\"width: 100%;\" controls=\"controls\"><source type=\"audio\/mpeg\" src=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Resi-Sabtu-07-Oktober-2023-oleh-Rm.-Antonius-Tugiyatno-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Tegal-Sari-Sumatera-Selatan-Indonesia.mp3?_=1\" \/><a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Resi-Sabtu-07-Oktober-2023-oleh-Rm.-Antonius-Tugiyatno-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Tegal-Sari-Sumatera-Selatan-Indonesia.mp3\">https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Resi-Sabtu-07-Oktober-2023-oleh-Rm.-Antonius-Tugiyatno-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Tegal-Sari-Sumatera-Selatan-Indonesia.mp3<\/a><\/audio><\/div><p class=\"powerpress_links powerpress_links_mp3\" style=\"margin-bottom: 1px !important;\">Podcast: <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Resi-Sabtu-07-Oktober-2023-oleh-Rm.-Antonius-Tugiyatno-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Tegal-Sari-Sumatera-Selatan-Indonesia.mp3\" class=\"powerpress_link_pinw\" target=\"_blank\" title=\"Play in new window\" onclick=\"return powerpress_pinw('https:\/\/katolikindonesia.org\/?powerpress_pinw=34971-podcast');\" rel=\"nofollow\">Play in new window<\/a> | <a href=\"https:\/\/resi.dehonian.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Resi-Sabtu-07-Oktober-2023-oleh-Rm.-Antonius-Tugiyatno-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Tegal-Sari-Sumatera-Selatan-Indonesia.mp3\" class=\"powerpress_link_d\" title=\"Download\" rel=\"nofollow\" download=\"Resi-Sabtu-07-Oktober-2023-oleh-Rm.-Antonius-Tugiyatno-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Tegal-Sari-Sumatera-Selatan-Indonesia.mp3\">Download<\/a><\/p><!--powerpress_player-->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ANTIFON PEMBUKA \u2013 Luk 1:28,42 Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu.&nbsp;Terpujilah engkau di antara wanita&nbsp;dan terpujilah buah tubuhmu. PENGANTAR: Suatu tanda bahaya, seruan mohon bantuan, selalu diulang-ulang dengan harapan akan mendapat jawaban. Suatu saat&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29011,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"audio","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,1,20],"tags":[],"class_list":["post-34971","post","type-post","status-publish","format-audio","has-post-thumbnail","hentry","category-renungan-audio","category-bacaan-harian","category-renungan-text","post_format-post-format-audio"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/app-2023-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/34971","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=34971"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/34971\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":34973,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/34971\/revisions\/34973"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/29011"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=34971"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=34971"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=34971"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}