{"id":345,"date":"2014-01-18T17:43:17","date_gmt":"2014-01-18T10:43:17","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=345"},"modified":"2014-01-18T17:43:17","modified_gmt":"2014-01-18T10:43:17","slug":"rahim-maria","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=345","title":{"rendered":"Rahim Maria"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1131\" align=\"center\"><b id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1136\"><span id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1135\" style=\"text-decoration: underline;\">RAHIM\u00a0\u00a0MARIA<\/span><\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1133\" align=\"center\">(Kontemplasi Peradaban)<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1137\"><span style=\"text-decoration: underline;\">\u00a0<\/span><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1116\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Ketika menyaksikan patung\u00a0\u00a0<i>pieta<\/i>\u00a0\u00a0pahatan\u00a0\u00a0Michelangelo (1475 \u2013 1564), saya sungguh terkesima akan raut wajah Bunda Maria. Di sana, saya mengontemplasikan apa yang ada dalam pikiran Maria, \u201cDulu ketika anakku ini\u00a0<i>turun<\/i>\u00a0\u00a0dari rahimku sungguh-sungguh ringan, tetapi sekarang setelah<i>diturunkan<\/i>\u00a0\u00a0dari salib, saya memangkunya dan nampak begitu berat.\u201d\u00a0\u00a0Wajah Maria yang merunduk memandang wajah Yesus, putranya hendak menunjukkan betapa Maria menerima sang putra, baik ketika Ia bayi maupun ketika Ia dibunuh dan wafat di kayu salib.<\/div>\n<div>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Sering kita mendengar orang berdoa, \u201cSalam Maria penuh Rahmat\u2026\u201d\u00a0Kata\u00a0\u00a0<i>Rahmat,\u00a0\u00a0Rahman\u00a0<\/i>\u00a0dan\u00a0\u00a0<i>Rahim\u00a0<\/i>semuanya adalah dari bahasa Arab.<i>Rahmat\u00a0<\/i>berarti: belas kasihan, pemberian Tuhan sedangkan\u00a0<i>Rahman<\/i>diartikan sebagai Maha Penyayang dan\u00a0<i>Rahim<\/i>\u00a0adalah Maha Pengasih.\u00a0<i>Rahim<\/i>\u00a0juga berarti kandungan atau tempat bayi. Dalam\u00a0\u00a0<i>Rahim\u00a0<\/i>sang bunda, orok akan merasa nyaman, tenang dan damai. Inilah yang disebut sebagai\u00a0<i>oceanical experience<\/i>\u00a0(pengalaman samodra).<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1115\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Dalam rentetan peristiwa, Bunda Maria juga sangat terlibat bagaimana ia ingin berpihak kepada orang-orang yang menderita (Bdk. Mukjizat air menjadi anggur atau Maria mengikuti Yesus dalam\u00a0\u00a0<i>via dolorosa<\/i>\u00a0dan Maria bersama-sama para rasul dalam peristiwa Pentakosta). Peristiwa-peristiwa\u00a0penampakan Maria hendak memerlihatkan kepada kita bahwa ia sangat peduli dengan\u00a0\u00a0pergumulan umat manusia.\u00a0\u00a0<i>Ave Maria, gratia\u00a0\u00a0plena<\/i>, salam Maria penuh\u00a0\u00a0<i>Rahmat<\/i>.\u00a0\u00a0<i>Gratia<\/i>\u00a0atau\u00a0<i>grace<\/i>\u00a0sebagai ungkapan kemurahan hati Allah.<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1119\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Kerahiman Allah muncul dalam sikap yang menerima setiap manusia yang hilang.\u00a0\u00a0Henri Nouwen (1932 \u2013 1996)\u00a0\u00a0dalam bukunya yang berjudul\u00a0<i>Kembalinya si Anak yang Hilang<\/i>, berisi tentang kerahiman ilahi yang melampaui pikiran manusia. Dalam\u00a0\u00a0<i>cover<\/i>\u00a0buku tersebut, Rembrandt (1606 \u2013 1669) melukis seorang Bapa memeluk anaknya yang kembali dari \u201cdunia hitam\u201d.\u00a0\u00a0Yang mencolok dari lukisan itu adalah tangan kanan dan kiri itu ada perbedaan. Sebelah kanan terlukis tangan lelaki kuat-kokoh sedangkan tangan sebelah kiri lembut-penuh kasih. Di sana ada unsur lelaki dan wanita yang oleh Carl Roger (1902 \u2013 1987) dipandang sebagai\u00a0\u00a0<i>animus<\/i>\u00a0dan\u00a0<i>anima<\/i>.\u00a0\u00a0Sang Bapa dilukiskan sebagai pribadi yang begitu murah hati\u00a0<i>(Rahman)<\/i>mengampuni\u00a0<i>(Rahmat)<\/i>\u00a0dan menerimanya meskipun anak itu bergelimangan dengan\u00a0\u00a0dosa\u00a0\u00a0<i>(Rahim)<\/i>.\u00a0\u00a0Kata Yesaya, \u201cSekalipun dosamu merah seperti kirmizi akan menjadi putih\u00a0\u00a0seperti salju\u201d (Yes 1: 18).<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1113\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Bunda Maria\u00a0\u00a0banyak memiliki gelar, seperti:\u00a0\u00a0<i>Mediatrix, Co-redemptrix<\/i>serta\u00a0\u00a0<i>Stella Maris<\/i>\u00a0dan masih banyak gelar-gelar yang disematkan padanya.<i>Stella Maris<\/i>\u00a0atau Bintang Laut, dari namanya sendiri\u00a0\u00a0Bunda Maria memberikan kemurahan hati untuk menjadi bintang dan penerang bagi orang-orang yang tersesat. Orang-orang yang tersesat hanya memiliki satu keinginan yaitu kembali ke \u201ckampung halaman.\u201d<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1112\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Bunda Maria setiap saat senantiasa mengenakan jubah biru laut. Arti sebenarnya yaitu ia ingin menjadi laut atau samodra yang memiliki kedalaman tak terkira. Hal ini melambangkan\u00a0\u00a0keluasan hati untuk menerima apa saja.\u00a0Laut dengan hati ikhlas mau menerima saja yang datang kepadanya. Sampah-sampah dari pelbagai sungai mengalir ke laut. Ikan-ikan dari pelbagai jenis bisa\u00a0\u00a0\u201cmenumpang\u00a0\u00a0hidup\u201d di laut. Demikian pula, Bunda Maria akan menerima segala\u00a0\u00a0<i>grundelan<\/i>\u00a0(keluh-kesah) dari umat yang\u00a0\u00a0sedang bermasalah maupun memiliki beban yang berat.\u00a0\u00a0Namun Maria menerima semua keluh-kesah umat manusia dengan hati gembira atau lapang dada.<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1121\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Banyak kisah-kisah kemurahan hati, kerahiman\u00a0\u00a0Bunda Maria itu dilukiskan hampir seperti dongeng\u00a0\u00a0maupun legenda, misalnya,\u00a0<i id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1122\">\u201cBunda Maria membukakan pintu bagi orang-orang yang berdosa lewat untaian Rosario\u201d<\/i>atau\u00a0\u00a0<i id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1128\">\u201cAir mata Bunda Maria meluluhkan\u00a0\u00a0hati sang Putra\u201d<\/i>\u00a0dan masih banyak lagi.\u00a0\u00a0Semua itu hendak menunjukkan betapa besar kerahiman (kemurahan hati, keluasan hati) sang Bunda bagi umat manusia. Memang, mengenai Bunda Maria tidak pernah cukup \u2013\u00a0<i id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1127\">De Maria numquam satis<\/i>.<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1123\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1107\"><i>Sabtu, 18 Januari 2014\u00a0<\/i>\u00a0\u00a0<b id=\"yui_3_14_0_1_1390041631129_1105\">Rm. Markus\u00a0\u00a0Marlon MSC<\/b><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RAHIM\u00a0\u00a0MARIA (Kontemplasi Peradaban) \u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Ketika menyaksikan patung\u00a0\u00a0pieta\u00a0\u00a0pahatan\u00a0\u00a0Michelangelo (1475 \u2013 1564), saya sungguh terkesima akan raut wajah Bunda Maria. Di sana, saya mengontemplasikan apa yang ada dalam pikiran Maria, \u201cDulu ketika anakku ini\u00a0turun\u00a0\u00a0dari rahimku sungguh-sungguh&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":346,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-345","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/pieta-2.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/345","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=345"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/345\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":347,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/345\/revisions\/347"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/346"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=345"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=345"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=345"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}