{"id":34344,"date":"2023-09-21T13:56:32","date_gmt":"2023-09-21T06:56:32","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=34344"},"modified":"2023-09-21T13:56:32","modified_gmt":"2023-09-21T06:56:32","slug":"mengenang-118-tahun-kehadiran-misi-katolik-di-keuskupan-agung-merauke-14-agts-1905-14-agts-2023","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=34344","title":{"rendered":"Mengenang 118 Tahun Kehadiran Misi Katolik Di Keuskupan Agung Merauke 14 Agts 1905 &#8211; 14 Agts 2023"},"content":{"rendered":"<p>Pada Tahun 1902 adalah tahun bersejarah bagi misi Katolik. Karena pada bulan September 1902, Vikariat Apostolik Batavia -Jakarta membentuk satu Prefektur Apostolik Baru di wilayah Timur Nusantara. Prefektur bernama Prefektur Apostolik Nieuw Guinea. Wilayah dari Prefektur ini meliputi, seluruh kepulawan Maluku, Nieuw Guinea -Pulau Papua dan wilayah kepulawan di Pasifik. Adapun pusat dari Prefektur ini berada di Langgur \u2013 Kei Kecil.<\/p>\n<p>Pada tahun yang sama wilayah misi tersebut diserahkan dari tangan para Pater dan Bruder Serikat Jesus (SJ) kepada Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC). Prefek Apstolik yang pertama ialah Pater M. Neyens, MSC. Pada 29 November 1903, Pater M. Neyens dan Pater H. Geurtjens, MSC tiba untuk pertama kali di Langgur.<\/p>\n<p>Di Merauke belum ada orang Katolik Asli. Pada Juni 1902 pemerintah Belanda telah membuka pos pemerintah yang pertama di sana. Namun usaha ini gagal, karena pemerintah kembali menutup pos tersebut. Pada tahun 1904 pemerintah Belanda kembali lagi membuka pos pemerintah di Merauke, tepatnya di muara sungai Maro. Residen pertama yang bertugas di sana bernama Tuan Groezen. Pemerintah berusaha untuk membawa suatu kemajuan bagi masyarakat di sana, dengan tujuan yang sama Pemerintah Belanda meminta bantuan dari Misi Katolik di Langgur untuk datang berkarya di wilayah Merauke.<\/p>\n<p>Di langgur dipusutkan untuk mengirim beberpa Misionaris MSC untuk Merauke. Mereka ini terdiri dari ; Pater H. Nollen, MSC, Pater P. Braun, MSC, Bruder D. Van Roesel, MSC dan Bruder Oomen, MSC. Keempat misionaris tersebut tiba dengan selamat di Pantai Selatan Merauke pada 14 Agustus 1905. Pada permulaan karya ini, mereka sedikit demi sedikit mulai mempelajari bahasa Marind agar dapat mengadakan hubungan dengan suku Marind. Hari ke hari para Misionaris mendapat kepercayaan dari masyarakat setempat dan mereka memberi diri untuk untuk kemajuan Misi Katolik.<\/p>\n<p>Sumber Pace Berto Namsa Bade, OFM<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada Tahun 1902 adalah tahun bersejarah bagi misi Katolik. Karena pada bulan September 1902, Vikariat Apostolik Batavia -Jakarta membentuk satu Prefektur Apostolik Baru di wilayah Timur Nusantara. Prefektur bernama Prefektur Apostolik Nieuw Guinea. Wilayah&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28971,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-34344","post","type-post","status-publish","format-video","has-post-thumbnail","hentry","category-tokoh","post_format-post-format-video"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/ki.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/34344","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=34344"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/34344\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":34345,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/34344\/revisions\/34345"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/28971"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=34344"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=34344"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=34344"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}