{"id":340,"date":"2014-01-17T12:37:00","date_gmt":"2014-01-17T05:37:00","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=340"},"modified":"2014-01-17T12:40:28","modified_gmt":"2014-01-17T05:40:28","slug":"menghargai-orang-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=340","title":{"rendered":"Menghargai Orang Lain"},"content":{"rendered":"<div id=\"yui_3_14_0_1_1389936458809_1219\" align=\"center\"><b id=\"yui_3_14_0_1_1389936458809_1218\"><span id=\"yui_3_14_0_1_1389936458809_1217\" style=\"text-decoration: underline;\">MENGHARGAI\u00a0\u00a0ORANG LAIN<\/span><\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1389936458809_1214\" align=\"center\">( M\u00a0\u00a0\u00a0o\u00a0\u00a0\u00a0t\u00a0\u00a0\u00a0I\u00a0\u00a0\u00a0v\u00a0\u00a0\u00a0a\u00a0\u00a0\u00a0s\u00a0\u00a0\u00a0I )<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1389936458809_1208\" align=\"center\"><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1389936458809_1261\">Seorang pemikir kenamaan Amerika,\u00a0\u00a0William Lyon Phelps (1865 \u2013 1943) pernah menulis kata-kata mutiara,\u00a0<i id=\"yui_3_14_0_1_1389936458809_1266\">\u201cThis is the final test of a gentleman. His respect for those who can be no value to him\u201d<\/i>\u00a0\u2013 Inilah ujian akhir dari seorang pria sejati. Bagaimana dia menghargai orang-orang yang tidak terlalu penting baginya.<\/div>\n<div>Kebanyakan orang suka bergaul atau bekerjasama dengan orang-orang yang setaraf dengannya. Itulah sebabnya, jika bertemu dengan orang yang lebih rendah, orang-orang\u00a0\u00a0biasa meremehkan. Kadang orang semena-mena terhadap\u00a0\u00a0pembantu,\u00a0\u00a0<i>office boy<\/i>, pesuruh yang bertugas melayani kita. Mereka mengerjakan ini dan itu dan belum selesai ini sudah kita suruh utuk kerja itu (Bdk.\u00a0\u00a0Luk 17: 10 \u201cKami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan\u201d).<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1389936458809_1259\">Kita diajak untuk menjadi pribadi-pribadi yang memiliki sifat seperti\u00a0<i>gentleman<\/i>\u00a0\u00a0di atas. Biarpun mereka adalah orang-orang yang tugasnya hanya sebagai pembantu, namun kita menaikkan derajatnya sebagai sahabat. Devitot\u00a0\u00a0pernah mengatakan,\u00a0<i>\u201cNever underestimate the meaning of friendship, cause in life we will not to able to walk alone without a friend.\u201d<\/i>\u00a0\u00a0\u2013 Jangan meremehkan arti persahabatan, karena dalam hidup ini kita tidak akan dapat berjalan sendiri tanpa seorang sahabat.<\/div>\n<div>Menghargai orang lain atau memberi\u00a0\u00a0<i>respect\u00a0<\/i>merupakan keutamaan dalam hidup. Kata\u00a0\u00a0<i>respect<\/i>\u00a0itu berasal dari bahasa Latin\u00a0\u00a0<i>respicere<\/i>\u00a0yang berarti: mengarahkan pandangan atau memerhatikan. Orang lain atau \u201cyang lain\u201d itu berubah\u00a0\u00a0menjadi\u00a0\u00a0<i>liyan<\/i>. Kata ini berasal dari bahasa Jawa \u201c<i>liya\u201d\u00a0<\/i>\u00a0yang berarti: berbeda atau lain. Perbedaan itulah yang memerkaya satu sama yang lain. Orang lain bukanlah sebagai \u201csaingan\u201d atau \u201cmusuh\u201d bahkan \u201cneraka\u201d seperti yang dikemukan oleh Jean Paul Sartre (1905 \u2013 1980). Dengan adanya orang lain, maka kebebasan seseorang terganggu. Pandangan filsuf\u00a0\u00a0Prancis ini bertolak belakang dengan pandangan yang saling menghargai orang lain.\u00a0Atau lebih sadis lagi pepatah Latin yang berbunyi,\u00a0<i>\u201chomo homini lupus\u201d<\/i>\u00a0\u00a0yang berarti manusia adalah serigala terhadap sesamanya.\u00a0\u00a0Dalam arti ini orang boleh bermusuhan, orang diijinkan untuk saling menjatuhkan bahkan orang hidup dalam kedengkian dan iri hati sehingga terjadi baku bunuh.<\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1389936458809_1257\">Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa hidup sendiri bagaikan pulau,\u00a0<i>\u201cNo man is an island.\u201d<\/i>\u00a0\u00a0Untuk itulah, Driyarkara (1913 \u2013 1967) mencetuskan pepatah Latin yang berbunyi,\u00a0<i>\u201chomo homini socius\u201d<\/i>\u00a0yang berarti manusia menjadi sahabat bagi sesamanya. Sesama adalah pribadi-pribadi yang pantas untuk kita hormati dan hargai. Mereka datang sebagai sahabat bukan untuk diperas maupun dimanfaatkan. Maka tidak mengherankan jika\u00a0<i>Mother<\/i>\u00a0Teresa dari Calcutta\u00a0\u00a0(1910 \u2013 1997) berkata, \u201cJangan biarkan orang datang menemuiku jika saat dia pergi tidak menjadi lebih baik dan bahagia.\u201d<\/div>\n<div><\/div>\n<div>Jumat, 17 Januari 2013\u00a0\u00a0Rm.\u00a0<b>Markus Marlon MSC<\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1389936458809_1255\"><b>\u00a0<\/b><\/div>\n<div><b>Tulisan-tulisan Motivasi ini\u00a0\u00a0sudah dibukukan yang terbit\u00a0\u00a02\u00a0\u00a0bulan sekali. Sekarang sudah terbit edisi ke-4. Setiap Edisi ada 10 \u2013 12\u00a0tulisan dan terbit 40 halaman.<\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1389936458809_1254\"><b>Yang ingin mendapatkan buku-buku tersebut bisa hub:<\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1389936458809_1270\"><b>E-mail:\u00a0<\/b><a href=\"mailto:zahir.5561@gmail.com\" target=\"_blank\" rel=\"nofollow\" data-rapid_p=\"67\"><b>zahir.5561@gmail.com<\/b><\/a><b><\/b><\/div>\n<div id=\"yui_3_14_0_1_1389936458809_1269\"><b id=\"yui_3_14_0_1_1389936458809_1268\">Atau no HP: 0852.83.9955.61 atau 08964.8941.026<\/b><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MENGHARGAI\u00a0\u00a0ORANG LAIN ( M\u00a0\u00a0\u00a0o\u00a0\u00a0\u00a0t\u00a0\u00a0\u00a0I\u00a0\u00a0\u00a0v\u00a0\u00a0\u00a0a\u00a0\u00a0\u00a0s\u00a0\u00a0\u00a0I ) Seorang pemikir kenamaan Amerika,\u00a0\u00a0William Lyon Phelps (1865 \u2013 1943) pernah menulis kata-kata mutiara,\u00a0\u201cThis is the final test of a gentleman. His respect for those who can be no value&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":319,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-340","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/pintu-utama.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/340","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=340"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/340\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":341,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/340\/revisions\/341"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/319"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=340"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=340"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=340"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}