{"id":32747,"date":"2023-08-06T07:07:11","date_gmt":"2023-08-06T00:07:11","guid":{"rendered":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=32747"},"modified":"2023-08-06T07:07:11","modified_gmt":"2023-08-06T00:07:11","slug":"minggu-06-agustus-2023-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=32747","title":{"rendered":"Minggu, 06 Agustus 2023"},"content":{"rendered":"<p>*Sabda Kehidupan*<br \/>\nMinggu 06 Agustus 2023<br \/>\n*Pesta Yesus menampakkan KemuliaanNya*<br \/>\n_*Matius 17:5*_ (Mat:17:1-9)<br \/>\n**Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: \u201cInilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.&#8221;*<\/p>\n<p>_Kita hidup dalam situasi di mana dunia cenderung menilai seorang berdasarkan prestasi. Maka orang yang mendapatkan tempat teratas adalah mereka yang hebat, jago, luar biasa, pandai, atau para peraih angka 8-10. Saat semua prestasi ini hilang, orang menjadi seakan tak berarti, tak berharga, kehilangan harga diri, tak berguna. Lebih menyedihkan lagi, ia merasa hampa karena tak dicintai._<br \/>\n_Yesus mengalami semua pandangan duniawi ini khususnya saat Ia tergantung di atas kayu salib. Dia yang begitu dipuja puji karena hebatNya membuat mujizat, dihina bahkan dibantai dalam jalan salib yang penuh siksa. Pertanyaannya: Mengapa Yesus tetap bertahan?_<br \/>\n_Semuanya karena Ia punya Allah Bapa yang begitu mencintaiNya. Bapa yang tidak menilai anakNya karena prestasi atau kehebatanmya, tapi karena Yesus adalah AnakNya yang terkasih. Relasi Bapa-Anak itulah segalanya. Oleh karena itu, apapun yang terjadi dan apapun perlakuan orang terhadapNya, dalam hati Yesus suara BapaNya selalu terdengar, \u201cEngkau adalah Anak yang Kukasihi.\u201d_<br \/>\n_Ada dua kali suara dari langit ini terdengar. Yang pertama adalah ketika Yesus keluar dari air sesudah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, dan ke dua ketika Yesus menampakkan kemuliaanNya di atas gunung Tabor._<br \/>\n_Kalau kita simak, sesudah dibaptis di Sungai Yordan, Yesus digoda oleh Iblis di Padang Gurun. Yesus keluar sebagai pemenang. Dia sanggup menghadapi godaan. Sedangkan yang ke dua, yaitu ketika Yesus menampakkan kemuliaanNya di atas gunung Tabor. Sesudah dari gunung Tabor, Yesus harus mendaki gunung Golgota. Ia menghadapi siksa batin karena dihina dan dicaci serta dibunuh dengan keji. Namun Yesus tetap tabah dan bertahan karena suara BapaNya selalu menguatkan Dia, \u201cEngkau adalah Anak yang Kukasihi.\u201d_<br \/>\n_Dalam Yesus, kitapun telah diangkat menjadi anak Allah. Kasih Allah adalah segalanya bagi kita. Silahkan dunia menilai dan berkata apapun tentang diri kita, tak usah tersanjung karena dipuji, atau terhina ketika direndahkan. Dengarlah bisikan lembut di hati, dalam keheningan doa, suara Bapa kita di surga berkata, \u201cEngkau adalah anak yang Kukasihi.\u201d_<br \/>\n_Inilah kekuatan kita untuk terus melangkah pasti. Sampaikanlah juga ungkapan kasih ini kepada orang-orang yang kita cintai: Orangtua, anak-anak kita, pasangan, saudara dan sahabat. Pasti memberi mereka kekuatan._<\/p>\n<p>_Selamat Hari Minggu. Allah setia mengasihi kita_\u2764\ufe0f<br \/>\n_Ps Revi Tanod Pr_<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>*Sabda Kehidupan* Minggu 06 Agustus 2023 *Pesta Yesus menampakkan KemuliaanNya* _*Matius 17:5*_ (Mat:17:1-9) **Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: \u201cInilah&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29011,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-32747","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/app-2023-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32747","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=32747"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32747\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32748,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32747\/revisions\/32748"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/29011"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=32747"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=32747"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=32747"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}