{"id":31772,"date":"2023-06-24T11:42:05","date_gmt":"2023-06-24T04:42:05","guid":{"rendered":"http:\/\/katolikindonesia.org\/?p=31772"},"modified":"2023-06-24T11:42:07","modified_gmt":"2023-06-24T04:42:07","slug":"sabtu-24-juni-2023-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/katolikindonesia.org\/?p=31772","title":{"rendered":"Sabtu, 24 Juni 2023"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Sabda Kehidupan<\/em><br>Sabtu 24 Juni 2023<br><em>Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis<\/em><br><em>Lukas 1:66<\/em> (Luk 1:57-66, 80)<br><em>Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: &#8220;Menjadi apakah anak ini nanti?&#8221; Sebab tangan Tuhan menyertai dia.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Gereja mengajak kita mengambil waktu untuk merayakan Kelahiran Yohanes Pembaptis, karena kelahirannya secara khusus dan istimewa dicatat dalam Injil sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kelahiran Yesus. Kedatangan Yohanes mendahului Yesus adalah bagian dari nubuatan pemenuhan janji Allah untuk mendatangkan Penebus umat manusia.<\/em><br><em>Kelahiran Yohanes dan Yesus dicatat dalam Injil sebagai peristiwa yang luar biasa. Orangtua Yohanes, Zakaria dan Elisabet sudah tua dan tak mungkin punya anak. Sementara Maria mengandung Yesus oleh Roh Kudus. Kelahiran mereka adalah campur tangan langsung Allah yang kita ketahui melalui malaikat Gabriel utusan Allah.<\/em><br><em>Kita lalu membayangkan, kalau Allah merancang hidup Yohanes dan Yesus sedemikian hebatnya dari awal, bukankah harusnya berakhir juga dengan ending yang luar biasa? Misalnya seperti nabi Elia. Sesudah akhir karyanya sebagai nabi, Elia diangkat ke surga dengan kereta dan kuda berapi (baca 2 Raja 2:1-11).<\/em><br><em>Pertanyaanya mengapa hidup Yohanes dan Yesus berakhir begitu tragis? Yohanes mati dipenggal kepalanya oleh Raja Herodes, dan Yesus mati disalibkan bangsanya sendiri. Kematian seperti ini kelihatannya seperti sebuah akhir yang gagal. Apa kiranya pesannya bagi kita?<\/em><br><em>Mari kita melihat perjalanan hidup kita di dunia bukan hanya dari kacamata cita-cita dan kemauan kita. Melainkan sebagai perutusan dan karya Allah yang merancang hidup dan karya kita. Kita terlahir untuk misi Allah, agar kita hidup bagi Tuhan secara optimal dan maksimal. Mencintai Tuhan dengan sepenuh hati, segenap jiwa dan tenaga, dan mencintai sesama seperti Kristus telah mencintai kita.<\/em><br><em>\u201dSt Yohanes Pembaptis, doakanlah kami dari surga agar setia menjalankan misi hidup kami sampai akhir.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Selamat berakhir pekan. Berkat Alalh Bapa menyertai misi kita hari ini.<\/em>&#x1f64f;&#x2764;&#xfe0f;&#x1f607;<br><em>Ps Revi Tanod Pr<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabda KehidupanSabtu 24 Juni 2023Hari Raya Kelahiran Yohanes PembaptisLukas 1:66 (Luk 1:57-66, 80)Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: &#8220;Menjadi apakah anak ini nanti?&#8221; Sebab tangan Tuhan menyertai dia. Gereja mengajak kita mengambil&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29011,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,20],"tags":[],"class_list":["post-31772","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bacaan-harian","category-renungan-text"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/katolikindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/app-2023-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/31772","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=31772"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/31772\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31773,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/31772\/revisions\/31773"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/29011"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=31772"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=31772"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/katolikindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=31772"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}